Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Sudah empat bulan terakhir warga Desa Sibubut, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, harus menghadapi krisis air bersih.
Sumur-sumur warga berubah menjadi kuning, debit air terus menyusut, bahkan sebagian mengering.
Kondisi itu memaksa sebagian warga membeli air untuk kebutuhan memasak, sementara mandi dan mencuci terpaksa menggunakan air sungai yang kualitasnya tidak lagi layak.
Pantauan di lokasi, Jumat (7/8/2026), memperlihatkan suasana yang menggambarkan beratnya kehidupan warga di tengah musim kemarau.
Baca juga: Golkar Majalengka Rayakan HUT ke-50 Bahlil Dengan Baksos Sekaligus Matangkan Persiapan Musda
Sejumlah ibu rumah tangga berjalan kaki sambil memikul galon kosong menuju lokasi distribusi bantuan air bersih dari BPBD Kabupaten Cirebon.
Mereka melintasi jembatan kecil desa untuk mengantre mendapatkan air.
Di lokasi distribusi, petugas BPBD berseragam oranye tampak sibuk mengalirkan air dari truk tangki ke galon, ember, baskom, hingga gentong milik warga.
Tak jauh dari lokasi tersebut, saluran irigasi terlihat mengering total dan dipenuhi sampah serta rumput liar, menjadi bukti panjangnya kemarau yang melanda wilayah itu.
Salah seorang warga, Sunari (43) mengaku, sudah sekitar empat bulan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Menurutnya, air sumur di wilayahnya berubah menjadi kuning sehingga tidak layak digunakan untuk memasak.
"Ada 4 bulanan. Nggak ada air bersih, kuning semua di sini airnya. Sumbernya juga kuning, nggak ada yang bersih," ujar Sunari, Jumat (7/8/2026).
Ia mengatakan, untuk kebutuhan mandi dan mencuci dirinya memanfaatkan air sungai.
Sementara untuk memasak, terkadang harus membeli air isi ulang.
"Kalau buat mandi dan mencuci ya di sungai. Kadang beli air isi ulang buat masak," ucapnya.
Sunari mengaku bersyukur mendapat bantuan air bersih dari BPBD Kabupaten Cirebon.
Sekitar 10 galon air yang diterimanya diperkirakan cukup digunakan selama tiga hari untuk keperluan memasak di warung bakso miliknya.
"Alhamdulillah, bantuan ini buat masak. Dapat sekitar 10 galon, paling cukup tiga hari. Biasanya satu galon beli Rp3.000," jelas dia.
Ia juga mengungkapkan, bahwa kondisi kekeringan tahun ini merupakan yang paling berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Ini yang paling parah. Sudah empat bulanan dan setiap tahun memang selalu kekeringan," katanya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Warni (51).
Perempuan yang tinggal seorang diri itu mengatakan, sumurnya telah mengering sehingga ia harus membeli air untuk kebutuhan memasak setiap beberapa hari sekali.
Baca juga: Rumah Warga di Desa Cibereng Indramayu Ludes Terbakar, Ini Penyebabnya
"Sudah empat bulan sumur saya kering. Buat makan ya beli air. Satu isi sekitar Rp3.000 dan cukup sekitar tiga hari," ujar Warni.
Untuk mencuci pakaian dan mandi, Warni mengaku masih menggunakan air sumur yang berwarna kuning ataupun air dari sungai.
"Nyuci pakai air kuning, mandi juga air kuning dari sungai," ucapnya.
Menurut Warni, wilayahnya hampir setiap tahun mengalami kekeringan dan selalu bergantung pada bantuan air bersih.
"Setiap tahun memang selalu kekeringan. Tahun-tahun sebelumnya juga sering dapat bantuan air," jelas dia.
Sementara itu, Kuwu Desa Sibubut, Abidin mengatakan, seluruh wilayah desanya terdampak kekeringan akibat tidak adanya hujan sejak akhir Mei 2026.
Kondisi tersebut membuat sumber-sumber air warga habis dan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Tidak ada hujan sejak akhir Mei, kemudian Juni, Juli sampai sekarang. Akibatnya sumber air masyarakat habis total," kata Abidin.
Ia menjelaskan, apabila tidak ada bantuan dari BPBD Kabupaten Cirebon, warga praktis tidak memiliki pilihan selain membeli air bersih.
Baca juga: Warga Cirebon Serbu Gerakan Pangan Murah di Kebon Pelok
"Kalau tidak ada bantuan dari BPBD, masyarakat harus membeli air. Karena sumber air yang ada sudah kering, sementara air sungai juga tidak layak untuk minum dan memasak," ujarnya.
Menurut Abidin, kekeringan kali ini melanda seluruh Desa Sibubut, mulai RT 01 hingga RT 19 yang tersebar di lima RW.
Total terdapat sekitar 1.150 kepala keluarga atau 3.356 jiwa yang terdampak.
"Seluruh desa terdampak, ada 1.150 KK atau sekitar 3.356 jiwa," ucap dia.
Abidin menambahkan, meski desanya pernah mengalami kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya, kondisi tahun ini merupakan yang paling parah.
"Tahun kemarin masih ada sumber air sehingga kami tidak mengajukan bantuan. Tahun ini jauh lebih parah karena sumber air benar-benar habis," jelas Abidin.