TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Perhubungan (Dishub) DIY menepis isu kegagalan produk di balik rusaknya puluhan unit purwarupa becak listrik pengadaan 2023.
Isu ini mencuat di tengah upaya pemerintah mengebut kesiapan infrastruktur pendukung menjelang tenggat pemberlakuan kawasan bebas kendaraan bermotor (full pedestrian) di Malioboro pada November 2026.
Menanggapi rentetan keluhan terkait rusaknya komponen baterai, sistem kabel, hingga ketiadaan peredam kejut (shockbreaker), Kepala Bidang Angkutan Dishub DIY, Wulan Sapto Nugroho merinci bahwa kewenangan dan beban pemeliharaan sejatinya telah beralih sepenuhnya kepada penerima hibah sesuai dengan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD).
Pihaknya telah menghubungkan pengemudi dengan jaringan penyuplai lokal yang siap memberikan layanan purnajual, namun terbentur oleh resistensi pengemudi terhadap biaya perbaikan.
Sapto juga menggarisbawahi adanya anomali penggunaan oleh sebagian pengemudi yang membawa pulang becak listrik wisata tersebut hingga melintasi kontur jalan berbukit di luar kota.
"Kendaraan listrik itu juga ada perawatan. Karena awam waktu itu, perawatannya seperti apa belum tahu, dan memang ada konsekuensi biaya. Sehingga manakala itu diberikan ke mereka dan ada biaya, akhirnya mereka tidak bisa menerima, tidak dijalankan, lalu ditinggal. Prinsipnya, saat kami menghibahkan itu sudah dalam kondisi bagus," tegas Sapto, Kamis (6/8).
"Tipe becak 2023 ini kan bukan becak beban, dia itu becak wisata. Konsepnya memang hanya di jalan datar, tidak terus dibawa pulang. Pengemudi ini ada yang rumahnya di Bantul atau Kulon Progo. Manakala dibawa pulang dengan kondisi jalan rumahnya yang tidak rata atau naik-turun, ya tentunya tidak pas dan pasti akan ada kendala," tambahnya.
Sapto memastikan masukan tersebut telah dievaluasi, terbukti dengan disematkannya fitur shockbreaker pada unit pengadaan tahun 2024.
Untuk diketahui, pengadaan 50 unit becak listrik bertipe kotak futuristik buatan PT Selis pada 2023 silam ini dibiayai melalui Dana Keistimewaan (Dais) senilai Rp43 juta per unit.
Desain becak tersebut merupakan hasil sayembara pembuatan prototipe yang diselenggarakan oleh Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) pada 2022 dan telah mendapat persetujuan Gubernur DIY.
Baca juga: Pemugaran Candi Mendut Dipercepat, Target Rampung Sebelum Waisak 2027
Kendaraan tersebut kemudian dihibahkan melalui lembaga nirlaba Forum Pemerhati Kendaraan Tradisional Yogyakarta, yang beranggotakan pengemudi becak kayuh dan becak motor.
Salah seorang pengemudi becak listrik, Juwari, menuturkan, armada becak listrik yang dioperasikannya sejak tahun 2023 lalu masih beroperasi dengan baik.
Menurutnya, kendala teknis atau kerusakan merupakan hal yang wajar dalam penggunaan kendaraan harian, namun tidak pernah sampai melumpuhkan aktivitas.
"Masih lancar, masih eksis dipakai sampai sekarang. Terkadang kalau ada yang rusak ya diperbaiki, setelah itu sudah bisa jalan lagi untuk bekerja," ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Juwari menjelaskan, perawatan berkala menjadi kunci utama supaya becak listrik tetap beroperasi optimal, dan tidak mengganggu kelancaran mengais nafkah.
Kerusakan yang terjadi selama ini pun dinilai masih dalam batas wajar dan dapat ditangani dengan cepat tanpa membutuhkan waktu yang relatif lama.
"Enggak ada kendala yang sampai memberhentikan pekerjaan sehari-hari, begitu. Jadi, selama ini tetap lancar, tetap bisa kerja, jalan terus," terangnya.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua Pengayom Becak Listrik, Paimin, yang didapuk membina para pengemudi becak listrik di seputaran Yogyakarta.
Pihaknya, memastikan koordinasi perbaikan armada senantiasa dilakukan secara cepat supaya kendaraan tidak sampai mangkrak dan dianggurkan begitu saja.
"Kalau ada kendala itu langsung diperbaiki, jangan sampai hanya diparkir. Prinsipnya terus dirawat supaya bisa langsung dipakai buat cari duit lagi," katanya.
Bahkan, Paimin menyebut, beberapa perawatan dan peningkatan kualitas dapat dilakukan secara mandiri oleh masing-masing pengemudi becak listrik.
Salah satunya adalah modifikasi dan penguatan sistem pengereman, demi menunjang keselamatan operasional mengangkut penumpang sehari-hari.
"Kemarin rem cakramnya kan agak tipis, kalau pas hujan licin. Nah, sekarang sudah diganti yang lebih besar. Begitu direm langsung berhenti presisi. Kebanyakan teman-teman juga ikut menyesuaikan," tuturnya.
Selain keandalan mesin yang terjaga lewat perawatan rutin, Paimin bilang, respons para wisatawan atau penumpang pengguna becak listrik sejauh ini sangat positif.
Meski kerap ada keraguan awal dari penumpang terkait kekuatan saat melintasi jalan menanjak, performa becak listrik terbukti ampuh menjawab keraguan.
"Rata-rata sebelum naik penumpang tanya, 'kuat enggak Pak nanti kalau nanjak?'. Tapi setelah jalan dan digenjot, mereka malah bilang enak, halus, nyaman. Jadi kesan penumpang sangat bagus," pungkasnya. (han/aka)