Ketika AS-Iran Saling Gertak soal Kendali Hormuz, Eropa Ogah Terseret, Lebih Pilih De-Eskalasi
Tiara Shelavie August 08, 2026 09:34 AM

TRIBUNNEWS.COM - Selat Hormuz kembali menjadi arena tarik-ulur kepentingan Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara Eropa.

Washington terus mendorong pembentukan koalisi angkatan laut internasional untuk mengamankan pelayaran di jalur strategis tersebut.

Namun, Inggris dan Prancis justru mengambil langkah hati-hati.

Keduanya tidak ingin keterlibatan di Hormuz berkembang menjadi konfrontasi militer yang lebih luas dengan Iran.

Di tengah tekanan tersebut, Iran tetap berupaya mempertahankan pengaruhnya atas Selat Hormuz dan pada saat yang sama mendorong pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan lalu lintas kapal.

AS Dorong Koalisi, Eropa Pilih Hati-Hati

Al Jazeera melaporkan Amerika Serikat telah berbulan-bulan berupaya membentuk koalisi maritim internasional untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyerukan negara-negara sekutu, termasuk China, mengirimkan kapal perang untuk mendukung upaya pengamanan jalur tersebut.

Namun, sebagian besar negara tidak memberikan kepastian untuk ikut serta.

Inggris dan Prancis memang sebelumnya membuka kemungkinan memimpin misi internasional untuk mengamankan pelayaran di Hormuz.

Inggris bahkan pernah menyatakan akan mengerahkan drone, jet tempur, dan kapal perang ketika kondisi memungkinkan.

Baca juga: Houthi Bantah Ambil Uang dari Kapal di Laut Merah, Pengamat Ungkap Risiko Eskalasi AS-Iran

Namun, beberapa bulan kemudian, rencana tersebut belum berkembang menjadi operasi penuh.

Al Jazeera mengutip HA Hellyer, peneliti senior Royal United Services Institute dan Center for American Progress, yang mengatakan Inggris dan Prancis tidak terlalu berminat terlibat dalam konfrontasi dengan Iran atas nama pihak lain.

Menurut Hellyer, dukungan Eropa terhadap kebebasan navigasi tidak otomatis berarti kesediaan memimpin operasi yang tidak didukung secara aktif oleh mitra utama di kawasan Teluk.

Amjed Rasheed, dosen studi pertahanan di King's College London, mengatakan keterlibatan Eropa kemungkinan akan tetap terbatas, bersyarat, dan defensif.

Rasheed mengatakan Eropa menginginkan de-eskalasi dan stabilitas di kawasan Teluk.

Ia juga menilai negara-negara Eropa tidak siap menjadi bagian dari perang yang keputusan untuk menyerang Iran dibuat di Washington dan Tel Aviv tanpa konsultasi dengan kekuatan Eropa.

Karena itu, menurut Hellyer, jika misi Eropa di Hormuz terbentuk, fokusnya kemungkinan tetap sempit, yakni memberikan rasa aman dan memastikan kelancaran pengiriman barang komersial.

Hormuz Jadi Aset Strategis Iran

Persoalan Hormuz menjadi semakin penting karena jalur tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia.

Status Selat Hormuz menjadi salah satu poin perselisihan utama antara AS dan Iran dalam pembicaraan untuk mengakhiri konflik.

Amerika Serikat bersikeras bahwa Selat Hormuz harus dapat dilalui secara bebas dan tanpa hambatan sesuai hukum internasional.

Sementara Iran berupaya memperkuat kendalinya atas jalur tersebut dan mengarahkan kapal untuk melewati rute yang disetujuinya.

Sina Azodi, asisten profesor politik Timur Tengah di Universitas George Washington, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran telah belajar dari pengalaman bahwa gangguan terhadap Selat Hormuz dapat mengguncang ekonomi global.

“Ini adalah aset strategis, dan saya rasa mereka tidak akan melepaskannya begitu saja,” kata Azodi.

Iran-Oman Hampir Rampungkan Pengaturan Hormuz

Di tengah dorongan Washington, Iran justru melanjutkan pembicaraan dengan Oman mengenai mekanisme pelayaran di Selat Hormuz.

Baca juga: 5 Populer Internasional: Iran Akan Larang Kapal AS Lewati Hormuz - Penembakan Massal di Thailand

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi mengatakan kesepahaman dengan Oman mengenai protokol baru untuk mengatur lalu lintas di Hormuz “hampir rampung.”

Menurut laporan Al Jazeera, kesepakatan tersebut akan berlangsung selama dua hingga empat bulan.

Sebagian besar rute pelayaran baru yang ditetapkan akan melewati perairan teritorial Iran, sementara sebagian lainnya melewati perairan Oman.

Rute sementara yang saat ini digunakan akan ditutup apabila pengaturan baru tersebut diberlakukan.

Perkembangan ini terjadi ketika Washington terus berupaya mendapatkan dukungan internasional untuk misi pengamanan maritim di jalur tersebut.

Sebuah pertemuan teknis yang melibatkan lebih dari 30 negara digelar pada Kamis untuk membahas kemungkinan misi multinasional di Hormuz.

Namun, seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan aktivitas operasional tetap bergantung pada kondisi di lapangan dan kesepakatan politik yang berkelanjutan.

AS-Iran Terjebak Saling Eskalasi

Tarik-ulur mengenai masa depan Hormuz juga terjadi ketika AS dan Iran masih mempertahankan tekanan masing-masing.

Situasi tersebut dinilai membuat ruang untuk mencapai titik temu semakin sulit.

Aisha Kusumasomantri, peneliti senior Indo Pacific Strategic Intelligence, menilai AS dan Iran sama-sama terjebak dalam chicken game theory.

Dalam wawancara Kompas Malam yang ditayangkan Kompas TV, Selasa (4/8/2026), Aisha mengatakan kedua negara terus menaikkan tekanan karena sama-sama tidak ingin berada di posisi kalah.

“Amerika Serikat maupun Iran ini sama-sama terjebak di dalam yang namanya chicken game theory. Jadi kedua negara ini sama-sama menghindari keterjebakan mereka di posisi kalah, sehingga yang dilakukan adalah mereka terus mengeksalasi,” kata Aisha.

Menurut Aisha, kondisi tersebut justru membuat konflik di sekitar Selat Hormuz berpotensi terus berlangsung apabila AS dan Iran tidak menurunkan ego serta tensi di kawasan Timur Tengah.

“Kalau kondisinya masih sama seperti sekarang, baik AS maupun Iran sama-sama tidak mau melakukan penurunan ego dan penurunan tensi di Timur Tengah, maka saya kira sebenarnya konflik di Selat Hormuz akan berjalan terus sampai akhir dan ini tidak akan ada ujungnya,” ujar Aisha.

Aisha menilai negosiasi sebenarnya menjadi pilihan yang paling menguntungkan bagi kedua pihak untuk keluar dari konflik.

Baca juga: Iran Disebut Jadi Pemenang Strategis di Perang AS-Israel, Pengaruh Teheran di Selat Hormuz Menguat

Namun, selama kedua negara masih mempertahankan pola eskalasi, upaya mencapai kesepakatan mengenai Hormuz akan tetap menghadapi tekanan.

Di sisi lain, Inggris dan Prancis masih menempatkan keterlibatan mereka dalam misi maritim Hormuz pada kondisi tertentu, sementara pembicaraan Iran-Oman mengenai protokol baru pelayaran terus berlangsung.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.