TRIBUNKALTIM.CO - Kalimantan Timur (Kaltim) menempati posisi keempat sebagai provinsi dengan persentase pengguna Bahasa Indonesia terbesar dalam pergaulan sehari-hari.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam publikasi Sosial Budaya 2025, sebanyak 90,11 persen penduduk di Kaltim menggunakan Bahasa Indonesia dalam interaksi sosial.
Data tersebut menempatkan Kaltim di bawah DKI Jakarta yang berada di peringkat pertama dengan 99,7 persen, disusul Papua (92,4 persen) dan Papua Barat (92,1 persen).
Baca juga: 15 Provinsi dengan Penduduk Paling Merasa Aman Berjalan Sendirian, Cek Posisi Kaltim di Nasional
Sementara itu, Kalimantan Utara berada di posisi kelima dengan 89,02 persen.
Istilah “bahasa Indonesia dalam pergaulan” mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat.
Yang dimaksud adalah bahasa yang paling sering digunakan seseorang ketika berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari di luar situasi formal, misalnya saat berbincang dengan teman, tetangga, rekan kerja, atau masyarakat umum.
Artinya, data ini bukan menunjukkan kemampuan berbahasa Indonesia, melainkan kebiasaan masyarakat dalam memilih bahasa ketika berinteraksi.
Seseorang bisa saja menguasai bahasa daerah, tetapi lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari sehingga masuk dalam kategori tersebut.
Tingginya penggunaan Bahasa Indonesia di Kalimantan Timur tidak terlepas dari karakteristik wilayahnya yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan budaya.
Selain suku asli Kalimantan seperti Dayak, Kutai, Banjar, dan Paser, provinsi ini juga menjadi tempat tinggal masyarakat Jawa, Bugis, Toraja, Madura, Sunda, Batak, hingga Flores.
Baca juga: 15 Provinsi dengan Utang Pinjol Terbesar di Indonesia, Kaltim Catat Nilainya Hampir Rp1 Triliun
Keberagaman tersebut membuat Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lingua franca, yakni bahasa penghubung yang digunakan oleh masyarakat dengan bahasa ibu yang berbeda.
Dengan menggunakan Bahasa Indonesia, komunikasi antarsuku menjadi lebih mudah tanpa menghilangkan identitas bahasa daerah masing-masing.
Fenomena ini semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya mobilitas penduduk menuju Kalimantan Timur.
Kehadiran proyek strategis nasional, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), turut mendorong perpindahan tenaga kerja, aparatur sipil negara, hingga pelaku usaha dari berbagai daerah ke provinsi tersebut.
Dalam kondisi masyarakat yang semakin heterogen, Bahasa Indonesia menjadi pilihan yang paling praktis untuk digunakan dalam lingkungan kerja, pendidikan, pelayanan publik, maupun aktivitas sosial.
Karena itu, persentase pengguna Bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah yang masyarakatnya lebih homogen secara etnis.
Meski demikian, tingginya penggunaan Bahasa Indonesia tidak berarti bahasa daerah kehilangan perannya. Di banyak wilayah Kalimantan Timur, bahasa daerah tetap digunakan dalam lingkungan keluarga, kegiatan adat, hingga pelestarian budaya lokal.
Dengan kata lain, masyarakat dapat bersikap dwibahasa atau bahkan multibahasa, yakni menggunakan lebih dari satu bahasa sesuai konteks komunikasi.
Baca juga: 10 Provinsi dengan Pemuda Belum Menikah Terbanyak 2025, Kaltim Capai 75,66 Persen
Berikut daftar 10 provinsi dengan persentase pengguna Bahasa Indonesia terbesar dalam pergaulan berdasarkan BPS Sosial Budaya 2025:
1. DKI Jakarta – 99,7 persen
2. Papua – 92,4 persen
3. Papua Barat – 92,1 persen
4. Kalimantan Timur – 90,11 persen
5. Kalimantan Utara – 89,02 persen
6. Papua Selatan – 86,07 persen
7. Papua Barat Daya – 82,48 persen
8. Sulawesi Tengah – 80,02 persen
9. Kepulauan Riau – 76,59 persen
10. Sulawesi Tenggara – 75,27 persen. (*)