Viral Pasien Asma Diduga Ditolak di IGD, RSUD Soreang Kini Tambah 10 Brankar dan 7 Kursi Roda
Seli Andina Miranti August 08, 2026 02:11 PM

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Adi Ramadhan Pratama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pasca-kasus pasien asma yang diduga ditolak di Instalasi Gawat Darurat (IGD), RSUD Oto Iskandar Di Nata, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, melakukan sejumlah evaluasi dan pembenahan pelayanan.

Meski membantah telah melakukan penolakan pada pasien, pihak RSUD Oto Iskandar Di Nata melakukan pembenahan secara menyeluruh, mulai dari penambahan sarana dan prasarana hingga penguatan sumber daya manusia (SDM).

Direktur RSUD Oto Iskandar Di Nata, Yuli Irnawaty Mosjasari mengungkapkan bahwa langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya rumah sakit mempercepat alur pelayanan pasien, khususnya ketika kondisi sedang padat.

Baca juga: Kisah Otto Iskandar Dinata Dipentaskan dalam Monolog di Asia Afrika Festival 2026

"Kami menambah tempat tidur di IGD, juga menambah cadangan kursi roda. Jadi saat tempat tidur sudah kapasitasnya penuh, kami bisa melakukan pemeriksaan awal, walaupun di kursi roda. Minimal kita bisa melakukan pemeriksaan awal dulu," ujarnya kepada Tribun Jabar, Sabtu (8/8/2026).

Berdasarkan data yang disampaikan Yuli, RSUD Oto Iskandar Di Nata menambah sejumlah sarana fasilitas kesehatan antara lainnya seperti 10 brankar/strecher di IGD, 7 kursi roda di IGD, dan 4 Tempat Tidur di ruang perawatan.

Selain fasilitas itu, RSUD Oto Iskandar Di Nata juga menambah 3 tenaga pengantar orang sakit. Tenaga ini bertugas membantu mobilisasi pasien ketika harus menjalani pemeriksaan lanjutan maupun dipindahkan ke ruang perawatan.

"Kemudian pengawasan, kami ada manager on duty ditambah untuk di jam-jam tertentu yang memang peak hour. Biasanya peak hour itu dari 14.00 sampai 21.00. Nah, itu peak hour kami tambah lagi jadi 2 orang supervisor-nya," katanya.

Kendati kejadian berlangsung pada Mei 2026, kasus tersebut kembali menjadi perhatian setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengunggah kembali video mengenai kasus itu di RSUD Oto Iskandar Di Nata melalui akun Instagramnya.

Dalam unggahannya, Dedi mengingatkan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Yuli kembali menjelaskan kronologi kasus yang sebelumnya telah disampaikan pihaknya.

Menurut Yuli, saat kejadian kondisi IGD RSUD Oto Iskandar Di Nata memang sedang penuh. Namun, pasien yang datang dengan keluhan sesak dan batuk tetap mendapatkan pemeriksaan meskipun belum sempat menyelesaikan proses pendaftaran.

"Pasien membutuhkan nebulizer, untuk keluhannya sesak, keluhannya batuk seperti itu. Nah, di saat kami sedang carikan tempat, kan kalau melakukan tindakan harus minimal duduk, masa berdiri. Nah, sedang kami carikan itu, tapi pasiennya sudah membuat video itu dan mencari alternatif ke rumah sakit lain,"  ucapnya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Perawat RSUD Cicalengka Bandung Dinonaktifkan usai Diduga Ikut Hujat Almarhum Yurizal

Terlepas dari itu, pihak RSUD Oto Iskandar Di Nata kemudian melakukan tindak lanjut dengan mendatangi kediaman pasien untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Saat kunjungan tersebut, kondisi pasien tersebut rupanya sudah membaik.

"Kami mendatangi rumah pasien tersebut, menanyakan kembali bagaimana kondisinya. Tetapi ternyata memang sudah baik, bahkan yang bersangkutan sedang sedang aktivitas di luar rumah. Kami melakukan cek kembali kesehatannya dan pastinya memohon maaf ya atas ketidaknyamanan," ujarnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.