Perkuat Manajemen Risiko, Lembaga Penggerak Ekonomi MUI Gelar Pelatihan SDM
Hasanudin Aco August 08, 2026 02:20 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga Penggerak Ekonomi Umat (LPEU) MUI dan Manajemen Risiko Asosiasi Energi Indonesia (AMREI) menggelar pelatihan mengenai bagaimana membangun kinerja organisasi berbasis risiko atau (Risk-Based Performance Management) sebagai Pilar Tata Kelola Pengurus Pusat MUI, Jumat-Sabtu, 7-8 Agustus 2026.

Wakil Sekjen MUI Bidang Ekonomi H Hazuarli Halim saat membuka kegiatan ini mengatakan, pelatihan berbasis manajemen risiko ini sangat penting bagi organisasi MUI yang menghadapi tantangan sumber daya manusia (SDM) yang harus bisa membuat keputusan yang tepat dan efektif terkait kepentingan umat.

“Pelatihan dua hari ini pasti sangat bermanfaat bagi manajemen dan roda organisasi yang makin melihat aspek risiko sebagai dasar berpijak, juga pengetahuan ini bisa ditranfer dalam berbagai kepentingan di luar MUI," ungkapnya, Sabtu (8/8/2026).

Dalam acara pembukaan pelatihan yang diikuti sekitar  50 peserta ini, selain Wasekjen MUI, juga hadir Dr.H. Mukhaer Pakkanna, Ketua LPEU MUI dan pengacara Ihsan Tandjung. Pelatihan ini juga didukung oleh JASINDO, ACA Asuransi, ISDF MUI dan LPPOM MUI.

Ketua Pelaksana Lembaga Penggerak Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (LPEU MUI) Dr. Mukhaer Pakkanna mengatakan, pelatihan ni sangat penting karena berkait dengan manajemen risiko dan strategi.

"Kita ingin mempelajari bagaimana membuat manajemen strategi, terutama pengukuran kinerja dan mitigasi risiko," ujarnya.

Menurut dia, salah satu kelemehan utama umat adalah dalam mengorganisir program. 

Karena itu, pelatihan manajemen risiko sangat penting agar muncul kesadaran memitigasi risiko dan mengukur target-target yang digariskan. "Dengan pelatihan ini diharapkan kita mampu mengorganisir umat yang dipercayakan ke MUI," ungkapnya.

Ketua Umum AMREI (Manajemen Risiko Asosiasi Energi Indonesia) Rifky Assamady dalam pembukaan training mengatakan, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, ancaman siber serta dinamika geopolitik berkembang sangat cepat.

Selain itu, tuntutan masyarakat terhadap transparansi dan akuntabilitas juga telah mengubah cara organisasi dikelola. 

Dalam situasi seperti ini, keberhasilan organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menyusun program, tetapi juga oleh kemampuan membaca perubahan, mengantisipasi risiko, dan mengambil keputusan yang tepat pada waktu yang tepat.

Menurutnya, dalam perspektif Islam, kepemimpinan bukan sekadar tentang kewenangan, melainkan tentang amanah.  

“Amanah menuntut setiap pemimpin untuk menjaga kepercayaan, bertindak adil, serta mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.  Risk-Based Performance Management menjadi sangat relevan,” kata Rifky.

Rifky menjelaskan esensi dari Risk-Based Performance Management. Selama bertahun-tahun banyak organisasi hanya berorientasi pada pencapaian Key Performance Indicator (KPI).

"Kita menetapkan target, mengalokasikan anggaran, menjalankan program, kemudian mengevaluasi hasil pada akhir tahun. Namun sering kali kita baru mengetahui adanya masalah ketika target sudah gagal dicapai," sebutnya.

Dia menambahkan, pendekatan seperti ini sudah tidak lagi memadai. Organisasi modern harus bergeser dari performance management menjadi risk-based performance management.

Artinya, setiap target kinerja harus dipandang dari dua sisi sekaligus. Pertama, apa target yang ingin dicapai. Kemudian, apa risiko yang dapat menghalangi pencapaian target tersebut.

Karena itu, setiap Key Performance Indicator (KPI) harus memiliki pasangan berupa Key Risk Indicator (KRI).

Sekretaris AMREI, Mohamad Soleh menjelaskan pentingnya pemahaman tentang manajemen risiko melalui permainan yang melibatkan langsung peserta menggunakan Jenga Block dan  Boardgame.

Pola pelatihan manajemen risiko yang diawali dengan praktik games ini memudahkan peserta memahami teori dan langkah-langkah strategis yang akan diambil dalam menjalankan roda organisasi di MUI.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.