Bunuh Kenalan di Aplikasi Kencan Pria Sesama Jenis, Saep Tergiur Lihat Foto Korban, Lama Diidamkan
Murhan August 08, 2026 02:48 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kasus pembunuhan dan mutilasi di Depok, Jawa Barat jadi sorotan. Pelakunya adalah Saepullah (26).

Dia lantas mengurai pengakuan mengejutkan soal alasan pertemuan awalnya dengan korban, Kunaefi (51).

Bahkan, cerita awal perkenalannya dengan Kunaefi, Saepullah blak-blakan di depan penyidik kepolisian.

Berdasarkan cerita tersebut diduga pembunuhan yang dilakukan Saepullah sudah ada perencanaan.

Diketahui, Saepullah membunuh Kunaefi di kontrakannya di Jalan Belimbing RT 03/RW 05, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok pada Kamis (23/7/2026).

Tak cuma membunuh, Saepul juga memutilasi tubuh Kunaefi hingga menjadi beberapa bagian lalu membuangnya ke berbagai tempat.

Baca juga: Polisi Berpangkat Kombes Pukuli Pengendara, sang Pejabat Polda Tak Terima Mobil Dinasnya Disalip

Aksi pembunuhan dan mutilasi itu terungkap setelah ada warga yang menemukan potongan tubuh Kunaefi di kawasan Depok pada Selasa (4/8/2026).

Lalu Saepul pun ditangkap polisi pada Rabu (5/8/2026).

Sempat kabur ke kawasan Banten, Saepul mengurai pengakuan mengejutkan ke penyidik.

Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin menceritakan pengakuan Saepul soal awal perkenalannya dengan korban.

Ternyata pelaku dan korban kenal lewat aplikasi kencan khusus gay alias penyuka sesama jenis.

Setelah kenalan, Saepul tergiur dengan sepeda motor yang ada di foto Kunaefi.

"Korban usia 51 tahun, awalnya pelaku ini berkenalan dengan korban melalui aplikasi kencan namanya Hornet. Pelaku berkenalan dengan korban dan saat saling bertukar foto, pelaku melihat ada motor yang dimiliki oleh korban dan motor itu adalah motor yang diidam-idamkan oleh pelaku," kata Kombes Pol Iman Imanuddin dalam tayangan wawancara di youtube tv one news, Jumat (7/8/2026).

Dari sanalah muncul niatan Saepul ingin menguasai sepeda motor milik korban.

Hal tersebut memicu Saepul ngebet ingin bertemu dengan Kunaefi.

Saepul lalu mengajak Kunaefi bertemu di kontrakannya.

"Karena ketertarikan terhadap motor tersebut, ingin menguasai kendaraan yang dimiliki korban, korban diundang oleh pelaku ke kontrakannya. Di sanalah terjadi pembunuhan yang dilakukan pelaku," ujar Kombes Pol Iman Imanuddin.

Dalam pertemuan tersebut, Saepul mengaku sejak awal memang berniat memiliki sepeda motor korban.

Namun rupanya niatan tersebut tak mulus berjalan.

Saepul malah terlibat cekcok dengan Kunaefi hingga akhirnya terjadilah pembunuhan.

"Pelaku dari awal sudah mempersiapkan diri untuk mengambil barang yang dimiliki korban. Ada pemicu yang terjadi, saat pelaku meminta kendaraannya, sempat terjadi pertengkaran karena pelaku diajak berhubungan disorientasi seksual, karena terjadi ketegangan, terjadi pertengkaran," pungkas Kombes Pol Iman Imanuddin.

Saepul yang emosi langsung mengambil pisau di dapurnya lalu menusuk korban selanjutnya memutilasinya.

"Pelaku mengambil pisau dari dapur dan melakukan penusukan ke bagian perut korban. Kemudian untuk menghilangkan jejak, pelaku memotong bagian dari tubuh korban," imbuh Kombes Pol Iman Imanuddin.

Sementara itu terkait dengan motif pembunuhan yang dilakukan Saepul terhadap Kunaefi, kepolisian masih menyelidikinya.

Katimsus 2 Resmob Polda Metro Jaya, Ipda Breggy Yesaya Imanuel Sutijono mengurai dugaan bahwa pelaku dan korban adalah penyuka sesama jenis.

Kendati demikian diketahui bahwa korban telah menikah dan punya dua anak.

"Untuk motif pembunuhan sendiri sedang kami dalami, namun ditemukan fakta bahwasanya pelaku diduga merupakan penyuka sesama jenis," ungkap Ipda Breggy Yesaya Imanuel Sutijono.

Terkait dengan status pelaku, kini Saepul resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Atas perbuatannya, Saepul terancam dijerat dengan Pasal 458 dan 459 KUHP tentang pembunuhan biasa dan berencana, dengan ancaman penjara paling lama 20 tahun.

Adapun kasus pembunuhan dan mutilasi tersebut, kepolisian masih melakukan pencarian terhadap potongan tubuh korban.

Hingga hari ini, Jumat (7/8/2026) penyidik masih mencari keberadaan potongan kaki korban yang dibuang pelaku di sungai kawasan Depok.

"Kami hari ini terus melakukan upaya untuk mencari potongan tubuh dari korban bagian bawah, dua kaki korban masih belum ditemukan. Kami bersama-sama dengan tim dari K9 untuk menelusuri kali sebagaimana keterangan tersangka yang menyatakan bahwa tubuh bagian bawah di buang ke kali tersebut," ungkap Kombes Pol Iman Imanuddin.

Alami kesulitan, polisi melibatkan anjing pelacak guna mencari potongan tubuh korban.

Tak cuma itu, tersangka juga sempat dibawa ke TKP sungai tempatnya membuang potongan kaki korban.

Namun saat dilakukan pencarian, belum ada hasil memuaskan.

"Tersangka sudah membuang cukup lama dan dibuang ke kali, dugaannya terbawa arus sehingga sudah terjadi pergeseran. Kami masih harus melakukan penyisiran di kali tempat diduga lokasi pembuangan tersebut," pungkas Kombes Pol Iman Imanuddin.

Homoseksual Bukan Kelainan Jiwa? Ini Penjelasan dari sisi Psikologi

 Homoseksual seringkali dianggap sebagai sebuah kelainan di tengah masyarakat.

Namun dari pandangan psikologi, homoseksual bukan kelainan atau gangguan kejiwaan.

Pada tahun 1973, asosiasi psikiater yang tergabung dalam American Psychiatric Association (APA) menghapus diagnosis homoseksualitas sebagai gangguan jiwa dari acuan diagnosis ahli kesehatan jiwa atau Diagnostic and Statistical Manual (DSM) edisi II.

Di Indonesia, menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) juga tidak menganggap orientasi seksual termasuk homoseksual ke dalam kelainan atau gangguan jiwa.

Lantas, bagaimana penjelasan lengkapnya mengenai homoseksual bukan kelainan?

Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Dharmawan A. Purnama, Sp.KJ menjelaskan, ada alasan ilmiah kenapa para ahli sepakat mencoret homoseksual sebagai kelainan atau gangguan jiwa.

Homoseksual tidak memenuhi syarat kelainan

Menurut Dharmawan, syarat suatu fenomena dianggap sebagai kelainan atau gangguan jiwa ditandai dengan adanya penderitaan (distress) dan ketidakmampuan (disability).

“Orientasi seksual termasuk homoseksual bukan gangguan kepribadian atau mental. Gangguan psikologis dan perilaku itu syaratnya mesti ada distress dan disability,” kata dia, saat diwawancarai Kompas.com, Senin (6/9/2021).

Homoseksual dipengaruhi hipotalamus

Seorang yang menjadi homoseksual dapat dipengaruhi oleh perkembangan bagian otak bernama hipotalamus sejak dalam kandungan.

“Penyebabnya bisa berasal dari perkembangan di hipotalamus. Jadi, di hipotalamus itu ada bagian yang mengatur seksual, termasuk orientasi seksual,” jelas dia.

Selain itu, saat masih dalam kandungan kondisi hormon pada janin juga turut mempengaruhi orientasi seksual.

“Ada yang namanya fase kritis di tiga bulan pertama pertumbuhan janin. Kalau ada sesuatu pada hormon testosteron, pembentukan seksual dapat terpengaruh, sehingga pembentukan pusat seksual akan berbeda dengan umumnya,” ujarnya.

Homoseksual disebut gangguan jika..

Homoseksual bisa jadi disebut gangguan kesehatan mental, apabila seseorang merasa tidak nyaman dengan orientasi seksualnya.

Dalam dunia kesehatan mental, kondisi ini disebut dengan homoseksual egodistonik.

Pada kondisi ini, adanya konflik batin yang kerap menyebabkan kegelisahan, stres hingga gangguan kecemasan.

Namun, melainan homoseksual egodistonik dapat disembuhkan melalui terapi oleh ahli kesehatan jiwa.

Dalam praktiknya, Dharmawan menggunakan pendekatan logoterapi atau terapi mencari makna hidup.

“Kalau sama pasien saya, saya suka lakukan logoterapi, terapi mencari makna hidup,” ungkap Dharmawan.

Meskipun dianggap abnormal, Dharmawan menekankan bahwa homoseksual bukanlah suatu kelainan.

“Sesuatu yang dianggap abnormal belum tentu penyakit, belum tentu kelainan,” kata dia.

(Banjarmasinpost.co.id/TribunnewsBogor.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.