Laporan Wartawan TribunJatim.com, David Yohanes
TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Pertandingan bola dinilai berpotensi picu keributan, warga Kelurahan Botoran, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur memilih cara unik untuk meriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Mereka mengubah Sungai Ngrowo menjadi arena lomba dayung menggunakan perahu kayu tradisional di Sungai Ngrowo, Tulungagung, Sabtu (8/8/2026).
Sungai dibelah jadi dua dengan tali dan aneka bendera serta umbul-umbul, untuk pembatas lintasan 1 dan lintasan 2.
Sebanyak 43 tim berlomba untuk menjadi yang tercepat dalam lomba perahu tradisional ini.
“Untuk pertama seleksi, masing-masing tim berusaha mencatatkan waktu tercepat agar bisa masuk babak berikutnya,” jelas Ketua Panitia, Agus Suyudi.
Lomba ini bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Selain warga asli Kelurahan Botoran di barat Sungai Ngrowo, panitia juga mengundang warga Kelurahan Kenayan di timur sungai untuk ikut lomba.
Sementara perahu kayu yang dipakai adalah bekas perahu yang diadakan pada era pemerintahan Bupati Heru Tjahjono, 2003-2008, dan 2008-2013.
“Waktu itu pernah diadakan lomba di Kelurahan Sembung. Kami cari masih ditemukan 2 perahu,” sambung Agus.
Awalnya pihak panitia mewajibkan 26 RT yang ada di Kelurahan Botoran menurunkan satu tim.
Namun ternyata minatnya begitu tinggi hingga menjadi 43 tim yang berlaga.
Awalnya panitia Peringatan HUT Kemerdekaan RI Kelurahan Botoran sempat mengusulkan lomba sepakbola.
“Kalau sepakbola pasti nanti ribut, ada gasakan. Akhirnya dipilih lomba dayung saja, supaya semua senang, isinya guyon (bercanda) dan guyub,” ucap Agus.
Baca juga: Meriahkan Bulan Kemerdekaan, Lomba Layang-layang Hadir di Kota Malang, Perebutkan Hadiah Rp15 Juta
Lomba ini hanya menggunakan 2 perahu kayu yang tersisa.
Perahu ini bukan perahu naga yang biasa dipakai balapan, namun perahu tradisional yang dipakai warga Tulungagung era kuno.
Saat wilayah Tulungagung didominasi rawa, warga menggunakan perahu kayu untuk moda transportasi.
Sebelum lomba, warga juga melakukan bersih-bersih sungai dari sampah.
Sebulan sebelumnya, para peserta juga diberi kesempatan berlatih setiap hari.
“Yang lolos babak kedua, baru kita adu saling berhadapan 2 tim langsung di lintasan,” tandas Agus.
Salah satu peserta, Herlambang Efendy, mengusulkan lomba ini bisa digelar di semua desa sepanjang Sungai Ngrowo.
Nantinya setiap desa yang dilewati Sungai Ngrowo mengirimkan tim untuk bertanding.
Selain menjadi festival budaya, lomba dayung perahu tradisional ini juga untuk menjaga kebersihan sungai.
“Pada akhirnya semua akan merasa punya tanggung jawab menjaga kebersihan sungai,” katanya