176 Hektare Kawasan Bromo Terbakar, Gubernur Khofifah Kawal Water Bombing dengan Helikopter
Dwi Prastika August 08, 2026 11:22 PM

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Fatimatuz Zahroh

TRIBUNMADURA.COM, PROBOLINGGO - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, telah meluas hingga 176 hektare per Jumat (7/8/2026).

Upaya pemadaman terus dilakukan dengan memperkuat operasi darat dan udara.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan helikopter water bombing untuk menjatuhkan air ke titik-titik kebakaran.

Satu helikopter tambahan dijadwalkan tiba pada Sabtu (8/8/2026).

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan, hingga kini, proses pemadaman terus dilakukan, termasuk mengerahkan satu unit helikopter guna melakukan proses water bombing.

Bantuan dari BNPB tersebut mulai dilakukan dengan kapasitas bawaan 1.000 liter air dalam sekali terbang. 

“Sejak hari kedua saya sudah berkoordinasi dengan BNPB agar penanganan diperkuat melalui dukungan helikopter water bombing. Alhamdulillah mulai hari Jumat (7/8/2026) helikopter dari Kalimantan Tengah sudah tiba dan mulai mendukung proses pemadaman,” kata Gubernur Khofifah mengawal langsung proses water bombing di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Sabtu (8/8/2026).

Selain helikopter, operasi pemadaman juga diperkuat dengan penggunaan drone water bombing yang memiliki kapasitas angkut air sekitar 100 hingga 150 liter setiap penerbangan.

Baca juga: Api di Kawasan Bromo belum Padam, Petugas Lakukan Penyekatan Cegah Kebakaran Masuk Wilayah Lumajang

Menurut Khofifah, kombinasi operasi darat, helikopter, dan drone diharapkan mampu mempercepat pengendalian api.

Ia menambahkan, Kepala BNPB juga telah meninjau langsung lokasi beberapa hari sebelumnya sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat terhadap percepatan penanganan karhutla di kawasan TNBTS.

Meski demikian, Khofifah mengakui pelaksanaan water bombing masih dipengaruhi kondisi cuaca, terutama kecepatan angin yang dapat membatasi operasional helikopter demi keselamatan penerbangan.

“Water bombing sudah mulai dilaksanakan. Namun ketika angin bertiup cukup kencang, operasional helikopter harus menyesuaikan kondisi demi keselamatan. Karena itu strategi pemadaman terus disesuaikan dengan situasi di lapangan,” jelasnya.

Baca juga: Kebakaran di Bukit Jantur Bromo Meluas, TNBTS Tutup Jalur Wisata Jemplang dan Tambah Armada Pemadam

Untuk memperkuat operasi udara, satu unit helikopter tambahan dari BNPB dijadwalkan tiba pada Sabtu (8/8/2026). 

“Jika tambahan heli water bombing dari BNPB hari ini datang, angin melandai, insyaallah hari ini, Sabtu pemadaman karhutla Bromo bisa kita padamkan. Mohon doa semuanya,” imbuhnya. 

“Kalau ada dua armada heli water bombing, semoga anginnya bisa landai, sehingga dua heli bisa memaksimalkan melakukan water bombing dan pemadaman hari ini,” katanya.

Khofifah juga menjelaskan, operasi water bombing tahun ini lebih efektif karena sumber air dapat diambil dari Ranupani yang lokasinya lebih dekat dibandingkan saat penanganan karhutla tahun 2023, ketika helikopter harus mengambil air dari Kaliandra maupun Batu.

“Harapannya dari Ranupani ini bisa lebih dekat. Mudah-mudahan besok anginnya landai, kemudian mengambil airnya dari Ranupani, dua heli water bombing bisa maksimal lakukan pemadaman. Mudah-mudahan bisa segera padam semua,” tuturnya.

Baca juga: Luas Kebakaran Gunung Bromo Capai 50 Hektare, Api Dekati Perbatasan Kabupaten Malang

Dugaan Pemicu Kebakaran

Sementara itu, Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja, mengatakan, dugaan awal menunjukkan kebakaran kemungkinan dipicu oleh aktivitas manusia, bukan karena faktor alam.

Namun demikian, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan.

“Kalau dari dugaan ada kemungkinan itu faktor manusia, jadi bukan faktor alam, karena jalur di atas awal api itu ada di puncak tebing. Ada jalur tradisional yang menghubungkan Desa Arjosari dan Desa Ranupani. Sepertinya tidak ada unsur sengaja kalau menurut kami,” ungkapnya.

Menurut Rudijanta, fokus utama seluruh tim saat ini adalah mempercepat pemadaman agar api tidak semakin meluas, sementara proses investigasi penyebab kebakaran akan terus dilakukan secara paralel.

“Saat ini kami masih fokus pada upaya pemadaman. Namun, penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran akan terus kami lakukan,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.