Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, KABUPATEN BANDUNG - Sebuah kapal selam sepanjang 15 meter tengah dibangun dari bahan-bahan sederhana di Kampung Pintusari, Ciapus, Banjaran, Kabupaten Bandung. Bukan untuk berlayar, kapal raksasa itu dipersiapkan warga sebagai karya untuk memeriahkan karnaval 17 Agustus.
Kerangka kapal dibuat dari bambu, kemudian perlahan ditutup menggunakan kertas bekas kantong semen. Sejak dimulai pada 1 Juni, warga terus mengerjakannya sedikit demi sedikit hingga bentuk kapal selam mulai terlihat.
Ide pembuatan kapal selam tersebut digagas Deden bersama dua rekannya. Mereka mulai mengerjakannya sejak awal Juni dan hingga kini masih menyelesaikan bagian pembungkus sebelum masuk ke tahap pengecatan dan pemasangan aksesori.
“Awalnya kami melihat konsep apa yang belum pernah dibuat di Pintusari. Sebelumnya sudah pernah buat kereta api, kapal, dan helikopter. Tahun ini kami ingin membuat sesuatu yang berbeda, akhirnya memilih kapal selam,” ujar Deden saat ditemui, Sabtu (8/8/2026).
Pilihan kapal selam juga memiliki alasan tersendiri. Deden ingin membawa tema sejarah Indonesia melalui karya yang dibuat secara sederhana oleh warga.
Baca juga: Ucap Bahasa Sunda, Ini Kata-kata Pertama yang Diungkapkan Danijel Loncar
“Tujuannya untuk mengenang sejarah Indonesia yang pernah memiliki kapal selam. Untuk tahun ini, kami mengambil tema kapal selam Pasopati yang sekarang berada di Surabaya,” katanya.
Membangun replika sepanjang 15 meter tentu bukan pekerjaan sederhana. Apalagi, seluruh kerangka kapal dibuat sendiri tanpa menggunakan jasa pembuat profesional.
Deden mengatakan, rancangan kapal berasal dari ide dan perhitungan tiga orang yang mengerjakannya.
“Kerangkanya kami rancang dan buat sendiri. Ada tiga orang yang memikirkan bentuk kapal ini, lalu pengerjaannya dilakukan sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Mereka tidak langsung membuat seluruh badan kapal dalam satu waktu. Setiap bagian dikerjakan secara bertahap, kemudian disatukan menjadi struktur kapal yang lebih besar.
“Setiap hari kami membuat bagian demi bagian. Kalau langsung dirangkai sekaligus justru lebih sulit,” ucapnya.
Deden mengatakan ukuran kapal juga disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar, dengan banyaknya kabel yang melintas di atas lokasi pengerjaan, tinggi kapal tidak bisa dibuat terlalu menjulang.
“Panjangnya sekitar 15 meter, lebarnya 3,5 meter, sedangkan tingginya hampir empat meter. Tingginya kami batasi karena di atas banyak kabel. Kalau lebih dari empat meter, bisa mengenai kabel yang melintas,” ujar Deden.
Setelah rangka bambu terbentuk, pekerjaan dilanjutkan dengan menutup permukaannya menggunakan kertas bekas kantong semen.
Bahan tersebut dipilih setelah Deden dan kawan-kawannya mempertimbangkan beberapa material. Mereka sebelumnya pernah mencoba menggunakan karung, tetapi bahan tersebut dinilai kurang cocok untuk tahap pengecatan.
Baca juga: Pria Mabuk Paksa Pengendara Isi BBM Rp10 Ribu di SPBU Ciwidey, Berakhir Ditangkap
“Kertas semen kami pilih karena setelah kering teksturnya menjadi keras. Kalau masih basah memang lembek, tetapi setelah kering bisa menjadi lapisan yang cukup kuat,” katanya.
Kertas bekas semen ini didapatkan dari pengepul. Deden mengatakan, pengepul meminjamkan kertasnya dan nanti akan dikembalikan setelah selesai.
Sebelum dipasang di rangka tersebut, Deden harus memisahkan bagian kertas yang tidak ada lemnya dengan cara digunting satu per satu.
“Kami membutuhkan 50kilogram kertas semen, sekarang baru terpakai sekitar 20kg karena untuk melapisi kapalnya dibuat dua lapis supaya kuat,” ucapnya.
Deden menagatakan selain mudah dicat, kertas semen juga dianggap cukup mampu menghadapi kondisi luar ruangan.
“Untuk karya seperti ini, kami mencari bahan yang cukup kuat menghadapi panas dan hujan. Kertas semen paling memungkinkan untuk digunakan,” tuturnya.
Meski demikian, hujan tetap menjadi tantangan. Deden mengaku material tersebut tetap bisa mengalami kerusakan apabila terkena hujan, tetapi dampaknya dinilai tidak terlalu parah.
Pengalaman menghadapi cuaca buruk juga pernah dialami ketika mereka membuat replika kereta api untuk karnaval tahun sebelumnya.
Saat itu, kereta yang hampir selesai justru mengalami kerusakan. Persediaan bahan juga sudah habis, sementara dana dan waktu semakin terbatas.
“Tahun lalu kami sempat hampir menyerah. Karya yang dibuat rusak, bahan sudah habis, uang juga hampir habis, sementara waktunya semakin mepet,” ujar Deden.
Pengalaman itu membuat kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam menyelesaikan kapal selam tahun ini.
Di balik kapal berukuran raksasa itu, pengerjaannya dilakukan dengan cara sederhana. Deden dan tim kreatif di kampungnya tetap menjalani aktivitas sehari-hari sehingga waktu membuat kapal lebih banyak dilakukan pada malam hari.
“Biasanya kami mulai sekitar pukul 19.00 sampai pukul 01.00. Setelah itu pagi harinya tetap harus menjalani aktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Warga sekitar juga ikut membantu, meski tidak seluruh proses dikerjakan bersama-sama.
“Kalau warga biasanya membantu sedikit-sedikit. Untuk pemasangan kertas, Karang Taruna cukup banyak ikut membantu. Sementara untuk merangkai kerangka, lebih banyak kami yang mengerjakan,” kata Deden.
Menurutnya, proses merangkai membutuhkan perhatian lebih karena bentuk setiap bagian harus disesuaikan agar keseluruhan kapal terlihat proporsional.
“Kerangka harus dirangkai dengan perhitungan supaya bentuknya sinkron dan hasil akhirnya terlihat bagus,” tuturnya.
Waktu karnaval yang semakin dekat membuat mereka terus mengejar penyelesaian kapal. Deden optimistis kapal dapat selesai selama cuaca mendukung.
“Kalau tidak hujan, insyaallah bisa selesai. Kalau dikebut, bagian pembungkusannya mungkin bisa selesai sekitar empat hari. Setelah itu tinggal pengecatan dan aksesori,” ujarnya.
Membangun kapal selam sepanjang 15 meter tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hingga tahap pembungkusan, dana yang telah dikeluarkan hampir mencapai Rp8 juta.
Dana tersebut berasal dari donasi sejumlah orang. Sebelumnya, kelompok yang mereka sebut Creative Division juga mengandalkan uang patungan anggota untuk memulai pengerjaan.
“Awalnya kami mengumpulkan uang dari anggota Creative Division sendiri. Setelah ada modal, baru kami mulai membeli bahan dan mengerjakannya,” kata Deden.
Seiring pengerjaan berjalan, sejumlah orang yang melihat aktivitas mereka juga ikut memberikan bantuan.
“Kadang ada orang yang melihat kami sedang membuat kapal, kemudian bertanya sedang membuat apa dan memberikan uang untuk membantu. Jadi bantuan datang sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Untuk tahun ini, beberapa donatur juga memberikan bantuan.
“Alhamdulillah, tahun ini ada beberapa orang yang ikut menjadi donatur. Memang tidak banyak, tetapi cukup membantu proses pengerjaan,” kata Deden.
Di dalam kapal selam ini nantinya akan dikemudikan oleh Deden. Uniknya lagi, sebagai pengemudi, Deden tidak akan bisa melihat bagaimana perjalanan yang dilewatinya karena seluruh area tertutup.
“Nanti akan ada orang yang naik diatas kapal selam dan memberi tahu arah jalan menggunakan handy talkie. Saya mengemudikan sesuai arahan dan insting saja,” ucapnya.
Bagi Deden, kapal selam tersebut bukan dibuat untuk mengejar hadiah ataupun menjadi juara karnaval.
Karya berukuran besar itu lahir karena mereka memang memiliki kegemaran membuat sesuatu dan ingin ikut meramaikan perayaan kemerdekaan.
“Kami membuat ini karena memang suka. Tidak ada target untuk mendapat penilaian, apalagi harus menjadi juara. Yang penting kami bisa ikut meramaikan karnaval 17 Agustus,” ujarnya.
Tradisi tersebut bahkan sudah berlangsung sejak generasi sebelumnya. Deden mengatakan, warga Pintusari telah lama aktif mengikuti karnaval di Kecamatan Banjaran.
“Harapannya tidak ada yang khusus. Kami hanya ingin menikmati kemerdekaan dan ikut meramaikannya dengan kemampuan yang kami punya. Daripada terlalu banyak berharap atau memikirkan hal-hal yang belum tentu, lebih baik kami jalani apa yang ada. Kami nikmati dan kerjakan bersama-sama sesuai kemampuan,” ujar Deden. (*)