TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK — Dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang mulai mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga Kota Pontianak memicu perhatian dari jajaran legislatif.
Anggota DPRD Kota Pontianak, Husin, mendesak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk meningkatkan kesiapsiagaan operasional guna merespons potensi perluasan area terbakar.
Husin menekankan pentingnya penguatan sinergi antara instansi pemerintah dan pemadam kebakaran (Damkar) swasta yang ada di Kota Pontianak agar penanggulangan di titik lokasi kebakaran dapat dilakukan secara cepat dan presisi.
"Kami minta kepada Badan Penanggulangan Bencana untuk siaga dan bekerja sama dengan pemadam swasta agar bisa tanggap ketika terjadi karhutla. Ini untuk mengurangi kabut asap yang berdampak kepada masyarakat," ujar Husin saat dikonfirmasi tribunpontianak.co.id, Sabtu (8/8/2026).
Mengingat wilayah Kota Pontianak turut menerima asap kiriman dan paparan dari kawasan sekitarnya, Husin mendorong BPBD Provinsi Kalimantan Barat untuk mengambil langkah taktis melalui rekayasa cuaca atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
"Kami berharap Badan Penanggulangan Bencana Provinsi bisa melakukan hujan buatan untuk mengurangi kabut asap dan menghindari cuaca buruk yang bisa berdampak kepada masyarakat," katanya.
Baca juga: BMKG Prediksi Hujan di Pontianak dan Kubu Raya 13-15 Agustus, Kabut Asap Masih Berpotensi Terjadi
Sebagai upaya preventif dari hilir, Husin mengimbau seluruh lapisan masyarakat—terutama yang bermukim di zona rawan Karhutla—agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar. Kesadaran bersama dinilai menjadi kunci utama pencegahan krisis polusi udara berulang.
"Untuk masyarakat yang daerahnya rawan kebakaran, kami imbau untuk tidak membakar lahan," tegasnya.
Selain upaya pencegahan pembakaran lahan, Husin juga mengingatkan warga untuk membatasi paparan polusi secara mandiri.
Ia menyarankan pembatasan aktivitas luar ruangan, terutama saat konsentrasi asap meningkat di malam hari, serta penggunaan alat pelindung diri.
"Kepada masyarakat, kami imbau untuk mengurangi aktivitas di malam hari. Kalau bepergian, gunakan masker," pungkasnya.
Prakirawan BMKG Supadio, Reny Shahputri, mengatakan hujan yang berpotensi turun diperkirakan berintensitas ringan dan terjadi secara tidak merata.
"Dari pantauan kami, potensi hujan di sekitar Kota Pontianak atau Kubu Raya diprakirakan terjadi sekitar tanggal 13-15 Agustus 2026," ungkap Reny Shahputri saat di konfirmasi tribunpontianak.co.id, Sabtu 8 Agustus 2026.
Menurutnya, hujan tersebut diprakirakan hanya bersifat lokal dan sementara. Dalam beberapa hari ke depan, kondisi cuaca di Pontianak secara umum masih akan didominasi cerah berawan.
"Untuk potensi hujan diprakirakan berpeluang terjadi sekitar tanggal 13-15 Agustus 2026 dengan intensitas ringan yang tidak merata. Hujan yang berpotensi turun hanya bersifat lokal dan sementara," jelasnya.
"Benar, Pontianak akan didominasi oleh cuaca cerah berawan beberapa hari ke depan. Jikapun ada hujan, biasanya bersifat lokal dan tidak merata," sambung Reny.
Reny menjelaskan, kondisi angin juga turut berpengaruh terhadap pergerakan asap yang masuk ke wilayah Pontianak. Secara umum, angin bertiup dari arah tenggara hingga selatan dengan kecepatan sekitar 13-20 kilometer per jam.
"Untuk arah dan kecepatan angin secara umum angin bertiup dari tenggara-selatan, dengan kecepatan mencapai 13-20 km/jam. Asap dari daerah lain mungkin bisa terbawa angin dan masuk ke wilayah Pontianak," katanya.
Di sisi lain, BMKG memantau adanya pergerakan pola cuaca Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berpotensi meningkatkan peluang hujan di wilayah Kalimantan Barat pada 11-16 Agustus 2026.
"Sejauh ini, diprakirakan pergerakan pola cuaca seperti Madden Julian Oscillation (MJO) akan meningkatkan peluang hujan di sekitar wilayah Kalbar, sekitar tanggal 11-16 Agustus 2026," ujar Reny. (*)