Kafe Adonan Cerita, Kedai Kopi yang Diisi Pekerja Teman Tuli di Banjarmasin
Irfani Rahman August 09, 2026 11:50 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Sebuah papan berisi abjad Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) terletak di atas meja pelayanan Kafe Adonan Cerita, Jumat (7/8/2026).

Papan tersebut memuat gambar gerakan tangan untuk abjad A hingga Z. Di bagian bawahnya, terdapat tulisan yang mengarahkan pelanggan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat ketika melakukan pemesanan.

Jika belum memahami bahasa isyarat, pelanggan juga dapat menuliskan pesan pada kertas yang telah disediakan.

Di balik meja kasir, Amin melayani pelanggan sebagai barista. Sementara Mita terlihat sibuk mengemas sejumlah kue.

Kedua teman tuli tersebut merupakan pekerja di Kafe Adonan Cerita yang berada di halaman Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalimantan Selatan, Jalan Ahmad Yani Km 6, Banjarmasin.

Baca juga: BREAKING NEWS- Kebakaran Bangunan Ruko di Jalan Cemara Banjarmasin, Empat Toko Terdampak

Baca juga: BREAKING NEWS- Tabrakan dengan Bus di Muara Kintap Tanahlaut, Pikap Nyaris Terjun ke Bawah Jembatan

Kafe tersebut menyediakan sejumlah menu, mulai dari bakery dan pastry, minuman dan kopi, rice bowl, pasta, seafood, hingga makanan beku.

Mita yang kini berusia 23 tahun, sudah mengenal aktivitas memasak sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar.

Ia belajar memasak bersama ibunya di rumah. Ketika duduk di bangku SMP, ia mulai mengikuti lomba pembuatan kue tingkat provinsi. Minat tersebut terus dilanjutkannya hingga SMA dengan mengambil bidang tata boga.

Sementara Amin mulai menyukai kegiatan memasak ketika duduk di bangku SMP. Pria berusia 21 tahun itu kemudian mengambil jurusan tata boga. Bolu, cookies, hingga cupcake pernah dibuatnya selama belajar. Pada 2024, Amin juga pernah meraih juara dua dalam perlombaan.

Pemilik Kafe Adonan Cerita, Sherly Marlina mengatakan gagasan membuka kerja bagi penyandang disabilitas berawal dari pertemuannya dengan teman-teman difabel.

Sherly merupakan pengajar di salah satu panti sosial. Selain sebagai siswanya, para difabel tersebut juga tergabung dalam komunitas.

Dalam sejumlah pertemuan, Sherly mendengar cerita mengenai pengalaman penyandang disabilitas ketika mencari pekerjaan.

Dari pembicaraan tersebut, muncul gagasan untuk memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas.

“Kita punya satu impian. Kalau nanti ada mitra yang mau membantu, maka kita akan memberikan kesempatan kerja buat teman-teman disabilitas yang memang memiliki kemampuan dan kompetensi,” kata Sherly.

Gagasan itu kemudian yang disampaikan kepada Disnakertrans Kalsel. Menurut Sherly, Disnakertrans memberikan fasilitas untuk mendukung rencana tersebut.

Saat ini terdapat empat pekerja disabilitas yang bekerja di Kafe Adonan Cerita. Sherly mengatakan para pekerja tersebut menunjukkan komitmen selama menjalankan pekerjaannya.

“Mereka juga memiliki kedisiplinan yang baik,” tambahnya.

Sebelum bekerja, para teman tuli yang mengikuti pelatihan tidak langsung diarahkan pada satu bidang.

Sherly mengatakan, mereka terlebih dahulu dikenalkan dengan beberapa keterampilan, seperti pengolahan minuman, bakery dan aneka kue.

Setelah itu, mereka diarahkan sesuai minat dan kemampuan masing-masing. Pelatihan dilakukan dengan pendekatan personal dan lebih banyak praktik langsung. Materi audiovisual juga digunakan untuk memberikan contoh visual.

”Untuk teori kita sangat sedikit. Mereka lebih banyak melihat contoh, kita memberikan mereka tekniknya secara nyata dan mereka akan mengikutinya,” kata Sherly.

Sherly menilai ruang kerja bagi penyandang disabilitas masih terbatas. Ia berharap lebih banyak instansi maupun pihak lain membuka kesempatan serupa. Sebab, menurutnya, masih ada keluhan mengenai. diskriminasi dalam penempatan kerja dan pembayaran honor.

Selain bekerja di kafe, para difabel juga diberi ruang mengembangkan kemampuan lain. Amin, misalnya, memiliki ketertarikan pada seni seperti melukis dan desain sasirangan.

Kafe Adonan Cerita juga memiliki program pembelajaran bahasa isyarat untuk masyarakat. Sherly mengatakan kegiatan tersebut dibuka untuk umum, termasuk pelajar.

Materi yang diperkenalkan adalah Bisindo. Menurut Sherly, pembelajaran bahasa isyarat dilakukan agar masyarakat dapat berkomunikasi dengan penyandang disabilitas.

Kafe tersebut juga direncanakan menjadi tempat belajar bersama bagi penyandang disabilitas. Sherly mengatakan program tersebut nantinya akan diberikan secara gratis.

Sementara itu, Mita berharap semakin banyak teman tuli mendapatkan kesempatan untuk bekerja.

”Harapannya ingin teman-teman tuli harus bisa sukses untuk masa depan. Semua disabilitas bisa mendapatkan kesempatan bekerja,” katanya dengan bahasa isyarat.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.