Jalur Pelaihari-Banjarmasin Masih Sering Gelap, Pengendara Mesti Berhati-hati Melintas
Irfani Rahman August 09, 2026 11:50 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI – Gelapnya sejumlah ruas jalur Pelaihari–Banjarmasin kembali menjadi keluhan kalangan pengendara. Terutama mereka yang kerap bepergian dan menapaki jalur poros tersebut. 

Pada malam tadi misalnya, minimnya penerangan dirasakan sejumlah pengendara menyebabkan perjalanan terasa lebih berat saat malam.

Menurur meraka bukan hanya soal kenyamanan. Kondisi jalan yang gelap dinilai meningkatkan risiko kecelakaan karena jarak pandang pengendara menjadi terbatas. 

Pejalan kaki, kendaraan yang berhenti di tepi jalan, hingga kondisi permukaan jalan menjadi lebih sulit terlihat.

Salah seorang warga Tala, Rina, mengaku sudah beberapa kali mengalami perjalanan dalam kondisi jalur yang gelap ketika pulang dari Banjarmasin.

Baca juga: Polisi Turun Tangan Tangani Kecelakaan Bus DT Vs Pikap di Muara Kintap, Kronologi Masih Didalami

Baca juga: BREAKING NEWS- Tabrakan dengan Bus di Muara Kintap Tanahlaut, Pikap Nyaris Terjun ke Bawah Jembatan

“Kalau malam gelap banget di beberapa titik. Hampir sebagian besar selama perjalanan, gelap. Memang bikin waswas karea kan pandangan jadi terbatas,” keluhnya, Minggu (9/8/2026).

Menurut ibu rumah tangga ini, kondisi tersebut terasa makin berisiko bagi pengendara yang sudah mengalami penurunan kemampuan penglihatan.

“Sekarang mata juga sudah mulai rabun. Kalau jalan gelap, melihat kendaraan atau orang di depan jadi tidak jelas. Mudah-mudahan kondisi listrik segera normal,” harapnya.

Keluhan serupa disampaikan Dedi, warga Tala lainnya yang juga cukup sering melakukan perjalanan Pelaihari–Banjarmasin.

Karyawan swasta ini mengaku harus ekstra hati-hati ketika melintas pada malam hari. Kondisi gelap membuatnya tidak bisa memacu kendaraan seperti biasanya.

“Kalau terang tentu lebih nyaman dan aman. Kalau gelap begini kita harus lebih pelan karena pandangan tidak maksimal. Yang dikhawatirkan kalau ada orang menyeberang atau kendaraan berhenti, bisa terlambat terlihat,” ujarnya.

Dedi berharap pemulihan kelistrikan dapat segera tuntas sehingga penerangan di sepanjang jalur utama kembali normal.

“Harapannya jangan lama-lama lagi. Kami yang sering bepergian dan pulang malam sangat merasakan dampaknya,” katanya.

Kondisi kelistrikan di Kalimantan Selatan sebelumnya menjadi perhatian serius setelah gangguan pada sistem pembangkit berdampak terhadap pasokan listrik di wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah. 

Saat melakukan kunjungan ke PLTU Asam-Asam, Kabupaten Tanah Laut, beberapa hari lalu, Gubernur Kalimantan Selatan H Muhidin mendapat penjelasan langsung dari manajemen PT PLN UID Kalselteng terkait langkah pemulihan sistem kelistrikan.

Dalam kesempatan tersebut, pihak PLN menyampaikan bahwa berbagai upaya perbaikan pembangkit terus dilakukan untuk mengembalikan kondisi kelistrikan secara bertahap menuju normal.

PLN juga sebelumnya menyampaikan target agar kondisi kelistrikan kembali normal pada 25 Agustus 2026.

Meski pemadaman pada siang hari disebut sudah tidak sesering sebelumnya, masyarakat masih merasakan dampak gangguan, termasuk pada penerangan jalan yang bergantung pada pasokan listrik.

Bagi warga yang setiap hari menggunakan jalur Pelaihari–Banjarmasin, target pemulihan tersebut kini bukan sekadar persoalan pasokan listrik di rumah.

Pasalnya, ketika malam turun dan jalur utama berubah gelap, yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan perjalanan, tetapi juga rasa aman dan keselamatan setiap orang yang berada di jalan.

(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.