TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Ratusan pelayat hadir mengiringi perjalanan terakhir Kepala Dinas Perkebunan Sulawesi Utara, Darwin Muksin, menuju tempat peristirahatan terakhir pada Minggu (9/8/2026) pagi.
Prosesi tersebut diikuti jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, aparatur sipil negara (ASN), tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga warga.
Tangis mewarnai upacara pelepasan jenazah.
Sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Sulut mengusung keranda jenazah.
Berikut rangkuman prosesi pelepasan jenazah Darwin Muksin:
Asisten I Denny Mangala dan Asisten III Fransiskus Manumpil berada di bagian depan rombongan saat jenazah dibawa menuju Masjid An-Nur Teling Atas yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah duka.
Para ASN yang merupakan bawahan Darwin berdiri berjajar di sepanjang jalan dengan mengenakan pakaian dinas berwarna khaki.
Suasana haru semakin terasa ketika mereka melihat keranda yang ditutup kain hijau dan diselimuti bendera Merah Putih.
Sejumlah pelayat tampak tak kuasa menahan air mata.
Adel, salah seorang bawahan Darwin, mengaku sangat kehilangan sosok atasannya tersebut.
"Padahal Jumat masih bercanda dan bekerja dengan kami. Terima kasih pak atas bantuan kepada kami," katanya.
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling bertindak sebagai inspektur dalam upacara pelepasan jenazah.
"Maafkan jika saya sedikit melankolis saat ini," kata dia.
Dalam sambutannya, Yulius mengenang salah satu momen yang menurutnya berkesan bersama Darwin.
Ia menceritakan pengalaman ketika dirinya dan sang istri berada di Gunung Tumpa dan merasa haus. Saat itu, Darwin memberikan kelapa muda kepada mereka.
"Almarhum minta maaf pada saya karena beri dengan tangan kiri karena posisinya demikian," katanya dengan terbata-bata.
Yulius terlihat berusaha mengendalikan emosinya.
Suaranya bergetar dan beberapa kali terhenti saat menyampaikan kenangan tentang Darwin.
Baca juga: Renungan Pria Kaum Bapa Kristen, Filipi 2:12-18, Lakukanlah Sesuatu Tanpa Bersungut dan Berbantah
Baca juga: Jejak Karier Darwin Muksin selama 3 Dekade Mengabdi sebagai ASN Pemprov Sulut
Ia mengatakan telah mengenal Darwin selama lebih dari satu tahun.
Dalam pandangannya, Darwin merupakan sosok yang memiliki etos kerja tinggi dan kerap menyelesaikan pekerjaan melebihi apa yang diperintahkan.
"Kalau saya perintah A, ia sudah sampai Z," katanya.
Selain dikenal sebagai pekerja keras, Darwin juga disebut memiliki karakter yang ceria. Sikap tersebut dinilai mampu mencairkan suasana dan membuat pekerjaan sehari-hari terasa lebih ringan.
"Ia ceria, tak pernah mengeluh," katanya.
Yulius juga mengungkapkan salah satu hasil kerja Darwin di bidang perkebunan, yakni penanaman sekitar 2.000 tanaman.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri karena tanaman yang ditanam merupakan tunas kelapa, tanaman yang identik dengan Sulawesi Utara dan julukan daerah tersebut sebagai Nyiur Melambai.
"Karena yang ia tanam adalah tunas kelapa, ini tanaman khas daerah Sulut yang dijuluki Nyiur Melambai," katanya.
Dedikasi Darwin disebut tetap berlangsung hingga penghujung hidupnya.
Ia meninggal dunia ketika sedang menghadiri pagelaran TIFF di Tomohon.
"Apa yang sudah dilakukan almarhum akan kita kenang bersama sebagai suatu pengabdian yang luhur terhadap pembangunan daerah serta bangsa dan negara," katanya.
Setelah menyampaikan taklimat, Yulius memberikan penghormatan terakhir kepada Darwin. Ia kemudian menaruh karangan bunga di atas keranda dan menyerahkan tali kasih kepada keluarga yang ditinggalkan.
Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara Tahlis Gallang, yang mewakili pihak keluarga, menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Sulut karena telah memberikan ruang bagi Darwin untuk mengabdi bagi daerah.
"Terima kasih juga bagi pak gubernur dan wagub yang terus menguatkan dan menghibur keluarga," katanya.(*)