Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – PT Solusi Bangunan Andalas (SBA) memperpanjang jam operasional di unit packing plant (pengemasan semen) guna meningkatkan pasokan semen ke masyarakat Aceh di tengah kelangkaan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
General Manager PT SBA, R Adi Sentosa, mengatakan perusahaan hingga kini tetap beroperasi normal dan telah mencapai kapasitas produksi maksimal. Penambahan jam kerja di packing plant dilakukan agar distribusi semen ke masyarakat dapat dipercepat.
"Sampai hari ini PT Solusi Bangunan Andalas (SBA) sebagai produsen Semen Andalas tetap berproduksi seperti biasa. Bahkan kami membuka waktu kerja lebih panjang di packing plant dengan harapan lebih banyak produk yang bisa didistribusikan ke masyarakat," kata Adi saat menerima kunjungan kerja anggota Komite II DPD RI, Azhari Cage, Sabtu (8/8/2026).
Baca juga: Harga Semen di Aceh Tembus Rp120 Ribu, Azhari Cage Prihatin Warga Makin Terbebani Pascabanjir
Adi menjelaskan, dari sisi kapasitas mesin, produksi semen SBA saat ini sudah berada pada batas maksimal. Meski demikian, volume semen yang dipasarkan pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
"Secara kapasitas kami sudah berada pada posisi tertinggi yang bisa diproduksi saat ini. Harapannya, langkah ini dapat membantu mempercepat mengatasi kelangkaan semen di masyarakat," ujarnya.
Ia mengungkapkan, kondisi produksi pada 2026 jauh berbeda dibandingkan 2025. Tahun lalu, operasional pabrik sempat dihentikan selama beberapa hari hingga beberapa pekan karena rendahnya penyerapan pasar. Namun sejak awal 2026, terutama setelah bencana, aktivitas produksi hampir terus berjalan tanpa henti.
Menurut Adi, kapasitas produksi SBA saat ini mencapai sekitar 1,8 juta ton semen per tahun. Meningkatnya permintaan diperkirakan dipicu mulai bergulirnya sejumlah proyek pemerintah serta meningkatnya aktivitas pembangunan masyarakat pascabencana.
"Kalau analisa umum, bisa jadi karena sekarang banyak proyek pemerintah mulai berjalan, seperti KDMP, Sekolah Rakyat, hingga program rehabilitasi dan rekonstruksi. Selain itu, masyarakat juga mulai kembali membangun. Secara hukum pasar, ketika permintaan naik tentu kebutuhan semen ikut meningkat. Itu analisa saya pribadi," jelasnya.
Di sisi harga, Adi memastikan SBA tidak menaikkan harga semen untuk wilayah Aceh maupun sejumlah daerah di Sumatra yang terdampak bencana, meski perusahaan menghadapi kenaikan biaya operasional akibat meningkatnya harga energi dan suku cadang.
"Khusus untuk Aceh dan daerah di Sumatra yang terdampak bencana, manajemen memutuskan tidak menaikkan harga. Jadi beban tambahan akibat kenaikan harga energi tidak dibebankan kepada konsumen di Aceh. Harga semen di Aceh tetap tidak berubah," katanya.
Terkait kelangkaan semen di pasaran, Adi menegaskan fokus perusahaan adalah menjaga produksi tetap berjalan dan memastikan pasokan keluar dari pabrik. Sementara itu, persoalan distribusi di tingkat pasar dinilai perlu mendapat perhatian agar penyaluran lebih merata.
Ia mengaku persoalan tersebut telah disampaikan kepada sejumlah distributor besar saat Direktur Utama SIG berkunjung ke Aceh pekan lalu.
Menurutnya, SBA tidak memiliki kewenangan mengendalikan harga jual di tingkat pasar. Namun perusahaan memastikan harga semen yang keluar dari pabrik tetap sesuai ketentuan.
"Kami berharap penyalurannya bisa lebih adil dan merata, jangan hanya di titik-titik tertentu. Kalau distribusinya tidak merata, justru akan menjadi backfire bagi kami karena seolah-olah kami tidak mendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat," pungkasnya.(*)