Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM-perdagangan luar negeri Maluku sepanjang semester I 2026 menghadapi tekanan cukup besar.
Nilai barang yang masuk ke Maluku jauh lebih besar dibandingkan barang yang berhasil diekspor.
Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku mencatat neraca perdagangan Maluku periode Januari-Juni 2026 mengalami defisit US$ 370,45 juta.
Angka tersebut melonjak dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencatat defisit sebesar US$ 146,61 juta.
Artinya, dalam satu tahun defisit perdagangan Maluku bertambah sekitar US$ 223,84 juta.
Jika melihat data BPS, besarnya defisit tersebut tidak lepas dari jurang yang sangat lebat antara ekspor dan impor.
Sepanjang Januari-Juni 2026, nilai ekspor Maluku hanya mencapai US$28,46 juta.
Sementara nilai impor mencapai US$398,91 juta.
Selisih keduanya membuat neraca perdagangan Maluku terperosok hingga minus US$370,45 juta.
Baca juga: Update Jadwal Kapal Cantika Lestari dari Pelabuhan Slamet Riyadi Ambon Sejak 10 - 16 Agustus 2026
Baca juga: Emosi Usai Dimarahi, ABK Bakar Kapal Lalu Lompat ke Laut dan Hilang
Juni, Defisit Makin Dalam
Kondisi tersebut juga terlihat pada Juni 2026.
Dalam satu bulan, Maluku mencatat defisit perdagangan sebesar US$77,77 juta.
Nilai ekspor pada Juni hanya sekitar US$ 431,43 ribu, sedangkan impor mencapai US$78,20 juta.
Dengan demikian, nilai impor Maluku pada Juni 2026 mencapai sekitar 181 kali lipat dibandingkan nilai ekspornya.
Defisit Juni 2026 terutama berasal dari sektor migas yang mencapai US$77,79 juta.
Sementara sektor nonmigas masih mencatatkan surplus tipis sekitar US$20,92 ribu.
Kondisinya jauh berbeda dibandingkan Juni 2025.
Saat itu, defisit neraca perdagangan Maluku tercatat US$19,39 juta.
Artinya, dalam setahun defisit perdagangan Juni membengkak lebih dari empat kali lipat.
Impor Jadi Biang Pelebaran Defisir
BPS menilai peningkatan defisit menunjukkan kinerja neraca perdagangan Maluku mengalami pelemahan.
Pasalnya, pertumbuhan nilai impor jauh lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor.
Hal tersebut terlihat jelas dari data kumulatif Januari-Juni 2026.
Nilai impor Maluku mencapai US$398,91 juta, sedangkan ekspor hanya US$28,46 juta.
Jika melihat struktur impor, sektor migas menjadi penyumbang terbesar.
Nilai impor migas sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$360,39 juta, sedangkan impor non migas sebesar US$38,52 juta.
Sementara ekspor Maluku pada periode yang sama seluruhnya berasal dari sektor non migas dengan nilai US$28,46 juta.
Volume Perdagangan Juga Defisit
Bukan hanya dari sisi nilai, neraca volume perdagangan Maluku juga berada dalam posisi defisit.
Sepanjang Januari - Juni 2026, neraca volume perdagangan tercatat mengalami defisit sekitar 367,384 ribu ton.
Defisit tersebut terutama berasal dari sektor migas yang mencapai 371,41 ribu ton.
Sementara sektor non migas masih mampu mencatat surplus sekitar 4,07 ribu ton.
Pada Juni 2026 neraca volume perdagangan kembali mengalami defisit sebesar 82,87 ribu ton.
Defisit tersebut terutama berasal dari sektor migas sebesar 82,70 ribu ton, sementara sektor non migas mencatat defisit sekitar 0,16 ribu ton.
Gambaran tersebut menunjukkan perdagangan luar negeri Maluku pada semester pertama 2026 masih sangat bergantung pada impor terutama komoditas migas.
Di sisi lain nilai ekspor yang relatif kecil membuat aktivitas perdagangan luar negeri Maluku belum mampu mengimbangi derasnya barang yang masuk.
Dengan kata lain sepanjang enam bulan pertama 2026, Maluku lebih banyak belanja ke luar dibandingkan menghasilkan nilai ekspor ke luar negeri. (*)