TRIBUNJAKARTA.COM - Kembali bekerja setelah melahirkan menjadi tantangan tersendiri bagi ibu yang masih memberikan ASI.
Bukan hanya harus membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus bayi, ibu menyusui juga dituntut mencari celah untuk tetap memerah ASI di sela kesibukan.
Masalah muncul ketika waktu untuk pumping semakin berkurang.
Frekuensi memerah ASI yang menurun dapat membuat produksi ASI ikut berkurang. Kondisi ini kemudian kerap membuat ibu panik dan khawatir tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan ASI bayinya.
Namun, menurut Dokter Yovita Ananta, produksi ASI yang sudah sempat berkurang bukan berarti tidak bisa ditingkatkan kembali.
Ia menjelaskan, produksi ASI bekerja dengan prinsip *supply and demand*. Artinya, semakin sering ASI dikeluarkan, tubuh akan kembali mendapatkan rangsangan untuk memproduksinya.
"ASI itu kan memang prinsipnya supply and demand. Jadi kalau misalnya ada demand-nya, dia akan berproduksi lagi," ujar Yovita dalam wawancara bersama TribunJakarta.com.
Menurut Yovita, salah satu persoalan yang kerap dihadapi ibu bekerja adalah sulitnya mencari waktu untuk memerah ASI.
Kesibukan di kantor, pekerjaan lapangan, jadwal rapat hingga tidak tersedianya ruang khusus membuat ibu tidak selalu bisa melakukan pumping sesuai kebutuhan.
Padahal, keberadaan waktu dan tempat yang mendukung sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan pemberian ASI.
"Keberadaan ruang laktasi dan juga kesempatan waktu untuk memerah, untuk memompa ASI itu sangat berperan penting," kata Yovita.
Ia mengatakan, tempat kerja idealnya menyediakan ruang khusus yang nyaman dan memiliki privasi bagi ibu menyusui.
Dengan begitu, ibu tidak perlu mencari tempat seadanya hanya untuk memerah ASI.
Yovita juga menyinggung pentingnya kesempatan waktu bagi ibu untuk melakukan pumping selama bekerja.
Sebab, ketika ibu kesulitan memerah ASI, frekuensi pengosongan payudara dapat berkurang dan pada akhirnya produksi ASI juga dapat ikut menurun.
Meski produksi ASI sudah terlanjur menurun, Yovita mengatakan ibu tidak perlu langsung menyerah.
Produksi ASI masih dapat diupayakan kembali dengan meningkatkan frekuensi menyusui atau memerah ASI.
"Jadi kalau misalnya yang sudah sempat berkurang ya masih bisa sebenarnya dicoba ditambah lagi," ujarnya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah kembali menyusui bayi secara langsung secara lebih rutin.
Yovita menyarankan ibu dapat mencoba menyusui mengikuti kebutuhan bayi, misalnya setiap dua atau tiga jam.
"Jadi ngikutin on demand-nya bayi, jadi dia akan produksi lagi, produksi lagi," jelasnya.
Dengan pola tersebut, tubuh kembali mendapatkan rangsangan untuk memproduksi ASI.
Setelah kembali bekerja, ibu tetap perlu mencari waktu untuk melakukan pumping secara rutin.
Menurut Yovita, ibu perlu mencari "celah" di tengah pekerjaan agar frekuensi memerah ASI tetap terjaga.
Perkembangan teknologi juga dapat menjadi salah satu alternatif bagi ibu bekerja yang kesulitan mencari waktu pumping.
Yovita menyebut saat ini sudah tersedia pompa ASI hands-free yang memungkinkan ibu memerah ASI sembari melakukan aktivitas tertentu.
"Sekarang ini kan juga untungnya ada beberapa alat pompa yang bisa hands-free. Jadi yang sambil bekerja, sambil meeting," katanya.
Menurutnya, penggunaan alat tersebut dapat membantu ibu yang memiliki aktivitas padat.
Namun, Yovita mengingatkan bahwa alat pompa saja tidak cukup.
Dukungan dari tempat kerja tetap menjadi faktor penting agar ibu dapat mempertahankan pemberian ASI.
"Memang bukan jalan yang mudah kalau tidak didukung sama kebijakan di kantor, kebijakan di tempat kerjanya," ujarnya.
Karena itu, keberadaan ruang laktasi di tempat kerja bukan sekadar fasilitas tambahan.
Bagi ibu menyusui, ruang tersebut dapat menjadi tempat untuk menjaga rutinitas pumping selama jam kerja.
Yovita mengatakan, ruang laktasi diperlukan agar ibu dapat memerah ASI dengan nyaman dan memiliki privasi.
"Kalau misalnya tidak ada tempat yang nyaman, tempat privacy lah minimal, itu pasti ya ibu agak sulit untuk bisa memerah dan bawa pulang ASI perah," tuturnya.
Selain ruang, kesempatan waktu untuk memerah juga perlu diberikan.
Menurut Yovita, dukungan tersebut akan membantu ibu mempertahankan proses menyusui meski sudah kembali bekerja.
Tak hanya kebijakan kantor, lingkungan kerja juga memiliki pengaruh terhadap ibu menyusui.
Candaan atau komentar dari teman kerja yang dianggap sepele bisa memengaruhi kondisi mental ibu.
Yovita mencontohkan komentar seperti menyebut ASI ibu sudah sedikit atau menyarankan berhenti menyusui.
"Teman lainnya pun bisa pengaruh ke mental ibu. Jadi kayak misalnya, 'Ah, ASInya udah sedikit, udahlah tanggung, enggak usah, kasihan aja formula'," katanya.
Perbandingan dengan ibu lain juga dapat membuat ibu semakin merasa tidak percaya diri.
"Melihat yang lain ASInya bisa banyak, yang kita sedikit, itu juga bisa pengaruh ke mental ibu," ujar Yovita.
Karena itu, ia meminta orang-orang di sekitar ibu menyusui untuk lebih berhati-hati dalam memberikan komentar.
"Kalau bisa semua yang keluar dari mulut kita itu sebenarnya sebaiknya kalimat-kalimat yang empatik," katanya.
Menurut Yovita, dukungan tersebut tidak cukup hanya berupa kata-kata.
Keluarga, teman kerja, hingga tempat kerja perlu memberikan dukungan nyata agar ibu dapat tetap fokus menyusui.
Bagi ibu yang produksi ASI-nya sudah terlanjur berkurang setelah kembali bekerja, Yovita menegaskan masih ada kesempatan untuk mengupayakannya kembali.
Kuncinya adalah menjaga frekuensi menyusui atau memerah ASI serta mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar.
"Belum ada kata terlambat," tegasnya.
Ia menilai keberhasilan menyusui bukan hanya ditentukan oleh ibu.
Suami, keluarga, teman kerja, tempat kerja hingga tenaga kesehatan memiliki peran dalam membantu ibu mempertahankan pemberian ASI.
"Setiap tetes ASI itu tidak hanya produksi dari satu ibu, tapi juga hasil dari dukungan seluruh keluarga, seluruh tempat kerja, dan juga tenaga kesehatan," kata Yovita.
Karena itu, menurutnya, dukungan kepada ibu menyusui sebaiknya tidak berhenti pada kalimat penyemangat.
Lingkungan sekitar perlu membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan ibu tetap dapat memberikan ASI, termasuk ketika sudah kembali bekerja.