Gas Elpiji 3 Kg Langka di Parepare, Warga Antre Berjam-jam hingga Masak Pakai Kayu
Saldy Irawan August 09, 2026 10:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, PAREPARE – Kelangkaan gas elpiji subsidi 3 kilogram masih terjadi di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Puluhan warga bahkan harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan gas bersubsidi tersebut di salah satu pangkalan di Kelurahan Lemoe, Kecamatan Bacukiki, Minggu (9/8/2026) sore.

Tabung gas 3 kilogram milik warga tampak dijejerkan di sepanjang trotoar jalan.

Sejumlah warga juga memberi tanda pada tabung mereka untuk menjaga posisi antrean agar tidak diserobot.

Mereka rela menunggu sejak sore di tengah cuaca panas demi mendapatkan gas yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.

Salah seorang ibu rumah tangga, Hayati, mengatakan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram sudah dirasakannya dalam dua hingga tiga bulan terakhir.

Ia mengaku tidak mengetahui penyebab pasti kelangkaan tersebut.

Namun, kondisi itu membuat warga harus terus memantau jadwal kedatangan pasokan di pangkalan.

"Kami tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba gas langsung langka begini. Capekki juga kalau antre terus," kata Hayati kepada Tribun-Timur.com.

Untuk mendapatkan gas sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp18.500 per tabung di pangkalan resmi, warga harus datang lebih awal dan menunggu hingga pasokan tiba.

Sejumlah warga bahkan sudah berada di lokasi sebelum waktu Asar agar tidak kehilangan antrean.

Kelangkaan di pangkalan resmi juga berdampak pada harga di tingkat pengecer.

Gas elpiji 3 kilogram yang seharusnya diperoleh masyarakat dengan harga sesuai HET, dijual pengecer hingga Rp25.000-Rp30.000 per tabung.

"Biasa ada di pengecer mahal begitu. Tidak bisa kita. Makanya ditau memang itu jadwalnya gas di pangkalan datang," ujarnya.

Kondisi serupa dialami Hamlia, warga yang juga ikut mengantre di pangkalan tersebut.

Ia mengaku sudah dua hari kehabisan gas. Untuk memenuhi kebutuhan memasak, Hamlia terpaksa menggunakan kayu bakar.

"Pakai kayu bakar meni masak air. Tidak ada gas dua hari ini. Apa mau dipakai, sudah keliling-keliling cari tidak ada," katanya.

Hamlia berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi persoalan tersebut.

Menurutnya, gas elpiji 3 kilogram merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus mudah diperoleh, terutama bagi warga yang bergantung pada harga subsidi.

"Kami mau pemerintah segera membantu kami. Tolong jangan biarkan warga seperti kita ini susah. Sudah mahal barang di pasar, susah lagi gas," ujarnya.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Parepare, Amarun Agung Hamka, mengatakan stok elpiji 3 kilogram di Kota Parepare mencapai 7.280 tabung per hari.

Menurutnya, distribusi dari agen ke pangkalan sejauh ini berjalan lancar.

"Stok aman, kami lagi memandu terus pendistribusiannya, 7.280 per hari," kata Amarun.

Namun, pemerintah menduga tingginya kebutuhan elpiji terjadi akibat musim kemarau ekstrem.

Sejumlah petani di daerah tetangga, seperti Kabupaten Pinrang dan Sidrap, diduga turut menggunakan elpiji untuk mengoperasikan pompa air guna mengairi sawah.

"Asumsi kami, di musim kemarau ini banyak yang membutuhkan gas elpiji untuk memompa sawah. Ini yang kami masih dalami," tandasnya.

Kondisi tersebut kini menjadi perhatian pemerintah daerah.

Di satu sisi, pemerintah menyebut pasokan harian masih tersedia. 

Di sisi lain, warga di tingkat pangkalan masih harus menghadapi antrean panjang dan harga tinggi di pengecer.

Persoalan distribusi dan penggunaan elpiji bersubsidi di luar peruntukannya pun menjadi hal yang perlu ditelusuri agar pasokan benar-benar diterima masyarakat yang menjadi sasaran subsidi.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.