WARTAKOTALIVE.COM, LONDON – The Banker mengumumkan hasil pemeringkatan Top 1000 World Banks 2026 edisi Juli 2026. Bank-bank dari China atau Tiongkok mendominasi dalam 10 peringkat terbesar. ICBC (Industrial and Commercial Bank of China) mempertahankan posisi teratas secara global berdasarkan modal Tier 1. Bank terbesar di dunia asal Tiongkok yang berkantor pusat di Beijing tersebut memiliki total aset yang diperkirakan mencapai US$7.645,80 miliar, atau setara dengan Rp122,3 kuadriliun (Rp122.332,8 triliun / Rp122.332.800.000.000.000).
Total aset ICBC yang sebesar Rp122,3 kuadriliun tersebut adalah 31 kali lipat jika dibandingkan dengan jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia 2026 sebesar Rp3.842,73 triliun. Diketahui, Pemerintah Indonesia dan DPR RI telah menyepakati APBN 2026 untuk belanja negara sebesar Rp3,84 kuadriliun dan pendapatan negara sebesar Rp3.153,58 triliun, dengan tingkat defisit yang ditetapkan sebesar 2,68 persen terhadap PDB. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi 2026 ditargetkan berada pada tingkat 5,4 % .
Peringkat kedua diduduki oleh China Construction Bank (CCB) atau China Construction Bank Corporation, yang merupakan salah satu dari empat bank komersial terbesar (Big Four) di Tiongkok. Bank milik negara ini secara konsisten masuk dalam jajaran bank terbesar di dunia berdasarkan total aset dan kapitalisasi pasar.
Di posisi ketiga terdapat Agricultural Bank of China (ABC), atau yang dikenal juga sebagai AgBank, salah satu dari empat bank komersial milik negara terbesar (Big Four) Tiongkok yang masuk dalam jajaran lembaga keuangan terbesar di dunia berdasarkan total aset.
Peringkat ke-4 diduduki oleh Bank of China (BOC), bank komersial milik negara tertua dan terbesar di Tiongkok. Bank yang juga merupakan anggota dari kelompok Big Four tersebut dikategorikan sebagai Global Systemically Important Bank (G-SIB) oleh Financial Stability Board.
Baca juga: Laba Bersih Bank BRI Rp 26,53 Triliun, Lebih Tinggi dari Bank Himbara Lainnya Mandiri, BNI dan BTN
Nomor urut ke-5 ditempati oleh JPMorgan Chase, bank dari Amerika Serikat dengan total aset US 3.438,16 miliar; posisi ke-7 Bank of America (Amerika Serikat) US D3.279,30 miliar; peringkat 9 Crédit Agricole (Prancis) USD 2.671,00 miliar.
Dari Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menduduki peringkat ke-132 secara global. Capaian tersebut menempatkan BRI di antara bank-bank terbesar dunia seperti ICBC, Bank of China, JPMorgan, Bank of America, hingga Citigroup.
Publikasi yang diunggah pada 8 Juli 2026 tersebut memperlihatkan bahwa di tingkat regional, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menempati peringkat ke-132 dunia dengan modal Tier 1 sebesar US$17,9 miliar, atau setara sekitar Rp355 triliun (dengan asumsi kurs 1 Dolar AS = Rp17.900).
Rilis The Banker tersebut memiliki arti penting mengingat pemeringkatan Top 1000 World Banks telah menjadi salah satu tolok ukur utama dalam industri perbankan global sejak pertama kali disusun pada tahun 1970.
Atas capaian tersebut, Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan bahwa posisi BRI di panggung internasional kian mencerminkan kemampuan perseroan dalam menjaga fundamental keuangan dan kekuatan permodalan di tengah dinamika perekonomian global.
“Pencapaian ini menjadi pengakuan atas kemampuan BRI dalam menjaga fundamental kinerja agar tetap sehat, kuat, dan berkelanjutan. Kekuatan permodalan yang terjaga memberikan fondasi penting bagi BRI untuk terus bertumbuh, menjalankan fungsi intermediasi, dan menciptakan nilai yang semakin luas bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Hery.
Juli lalu, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan bahwa perusahaan mengadakan program BRIvolution Reignite, yaitu kerangka transformasi terintegrasi yang bertumpu pada dua pilar utama. Pertama, Transform the Funding Franchiseuntuk memperkuat pendanaan berbasis dana murah (CASA) dan transaction banking. Kedua, Revamp Existing Core and Build New Core guna memperkokoh bisnis inti kredit mikro serta membangun consumer banking sebagai mesin pertumbuhan baru.
BRIvolution Reignite dirancang untuk memastikan BRI mampu tumbuh semakin sehat, efisien, dan berdaya saing, sekaligus tetap konsisten menjalankan perannya sebagai bank yang berpihak pada ekonomi kerakyatan.
Inisiatif transformasi tersebut berdampak positif pada kinerja keuangan perseroan. Dalam pernyataannya per 30 Juli 2026, Hery mengatakan bahwa pada Triwulan I 2026, total aset BRI Group tumbuh 7,2 % secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp2.250 triliun.
The Banker adalah media publikasi cetak dan digital internasional yang berfokus pada industri perbankan dan keuangan global. Publikasi ini dimiliki oleh grup media keuangan terkemuka dunia, Financial Times (FT Group) yang berbasis di London, Inggris.
Berpengalaman lebih dari 100 tahun sejak didirikan pada Januari 1926 oleh Brendan Bracken, The Banker memiliki reputasi sebagai salah satu sumber informasi paling berpengaruh, akurat, dan terpercaya bagi para eksekutif dan pembuat keputusan di industri perbankan dunia.
Adapun posisi BRI dalam pemeringkatan tersebut ditopang oleh fundamental keuangan yang solid. Berdasarkan data yang tercantum dalam Top 1000 World Banks per Desember 2025, Tier 1 Capital BRI tercatat sebesar USD 127,2 miliar (setara Rp 2,27 kuadriliun (atau Rp 2.276,88 triliun)
Dari sisi profitabilitas, laba sebelum pajak perseroan tercatat sebesar US$4,3 miliar. Kinerja BRI juga tercermin dari Capital Assets Ratio sebesar 14,1 % , Return on Capital sebesar 18,9 % , serta Return on Assets sebesar 2,68 % .
Hery menambahkan bahwa kekuatan fundamental BRI merupakan hasil dari konsistensi perseroan dalam menjalankan transformasi BRIvolution Reignite, yang mengedepankan semangat perubahan dengan bertumpu pada kekuatan yang telah dimiliki sebagai fondasi untuk membangun bank yang semakin inklusif, adaptif, modern, dan berkelanjutan.
"Kekuatan fundamental yang terus kami bangun menjadi modal penting bagi BRI untuk menjaga pertumbuhan yang sehat dengan kualitas aset yang tetap terjaga. Kami optimistis momentum positif ini akan terus berlanjut melalui penguatan digitalisasi, penerapan manajemen risiko yang disiplin, serta fokus pada penciptaan nilai (value creation) yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Hery.
Hery menegaskan bahwa ke depan BRI akan terus memperkuat perannya sebagai bank yang berpihak pada ekonomi kerakyatan dengan menjadikan UMKM sebagai pusat pertumbuhan. Perseroan akan memperkuat ekosistem UMKM secara end-to-end, mulai dari penyediaan akses pembiayaan, pendampingan usaha, hingga integrasi dengan pasar dan ekosistem digital, sehingga mampu mendorong pertumbuhan yang semakin inklusif dan berkelanjutan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi terhadap pencapaian tersebut. “Pengakuan ini kami dedikasikan kepada seluruh nasabah, pelaku UMKM, dan seluruh pekerja BRI. Kepercayaan serta kontribusi mereka menjadi fondasi bagi BRI untuk terus bertumbuh, bertransformasi, dan menghadirkan manfaat ekonomi maupun sosial yang semakin luas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Sebagai informasi, The Banker merupakan publikasi keuangan global yang menjadi bagian dari Financial Times Group. Berdiri sejak 1926, The Banker telah membangun reputasi sebagai publikasi yang menyajikan pelaporan yang objektif dan tajam serta menjadi informasi dan analisis rujukan bagi profesional perbankan di seluruh dunia.
Modal sebagai Penyangga Utama Bank
Tier 1 Capital (Modal Inti/Modal Tingkat 1) adalah komponen modal terpenting dan paling berkualitas dalam struktur permodalan suatu bank. Modal ini berfungsi sebagai penyangga utama (primary buffer) untuk menyerap kerugian secara langsung tanpa mengganggu operasional harian bank maupun menyebabkan kebangkrutan.
Dalam regulasi perbankan internasional (khususnya kerangka kerja Basel III), Tier 1 Capital dijadikan indikator utama untuk mengukur kesehatan finansial, kekuatan modal, dan tingkat ketahanan suatu bank saat menghadapi krisis atau risiko ekonomi.
1. Komponen Utama Tier 1 Capital
Tier 1 Capital terbagi menjadi dua sub-kategori utama:
· Common Equity Tier 1 (CET1) / Modal Inti Utama: Merupakan bentuk modal terbaik dengan kualitas tertinggi karena bersifat permanen dan berada di posisi paling akhir untuk dikembalikan jika terjadi likuidasi. Komponennya meliputi:
o Saham Biasa (Common Stock): Modal yang disetor oleh pemegang saham.
o Agio Saham (Stock Premium): Selisih lebih antara harga jual saham dengan nilai nominalnya.
o Laba Ditahan (Retained Earnings): Akumulasi keuntungan bersih bank yang tidak dibagikan sebagai dividen.
o Akumulasi Penghasilan Komprehensif Lain (OCI): Cadangan atau keuntungan/kerugian yang belum direalisasi.
· Additional Tier 1 (AT1) / Modal Inti Tambahan: Instrumen keuangan yang tidak memiliki tanggal jatuh tempo pasti (perpetual) dan dapat dikonversi menjadi saham biasa atau dihapusbukukan/ditulis turun (written down) jika modal bank jatuh di bawah ambang batas minimum tertentu. Komponennya meliputi:
o Saham preferen non-kumulatif tanpa jangka waktu (perpetual non-cumulative preferred stock).
o Obligasi hibrida/kontinjensi (Contingent Convertible Bonds atau CoCos).
2. Fungsi Utama Tier 1 Capital bagi Bank
· Penyerap Kerugian (Going-Concern Loss Absorbency): Menanggung kerugian kredit macet atau penurunan nilai aset saat bank masih beroperasi normal tanpa menyebabkan insolvency.
· Perlindungan bagi Nasabah: Memastikan dana simpanan (deposito) nasabah tetap aman karena adanya landasan modal sendiri yang tebal.
· Dasar Penilaian Pemeringkatan Global: Lembaga riset internasional seperti The Banker menggunakan besaran angka Tier 1 Capital sebagai indikator tunggal untuk menyusun daftar Top 1000 World Banks.
· Menentukan Penyaluran Kredit: Besarnya Tier 1 Capital membatasi total ekspansi penyaluran kredit dan aset berisiko yang boleh ditanggung bank.
3. Indikator Penting: Rasio Tier 1 Capital
Kecukupan modal ini diukur melalui Tier 1 Capital Ratio, yaitu rasio perbandingan antara Modal Tier 1 dengan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) / Risk-Weighted Assets (RWA):
· Standar Minimum Regulasi (Basel III): Menetapkan standar rasio CET1 minimum sebesar 4,5?n total Rasio Tier 1 minimum sebesar 6?ri ATMR.
· Praktik Perbankan Indonesia: Bank-bank besar di Indonesia (seperti BRI, Mandiri, BCA, dan BNI) umumnya menjaga rasio Tier 1 jauh di atas batas minimum internasional (sering kali mencapai 18 % –22 % ), yang menunjukkan tingkat ketahanan permodalan yang sangat kuat. (*)