Iran Buka Pintu Damai dengan AS, Presiden Masoud Pezeshkian Tegaskan Bukan Berarti Akan Tunduk!
Eri Ariyanto August 10, 2026 02:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali mengirim sinyal penting terkait hubungan Teheran dan Amerika Serikat (AS).

Di tengah ketegangan kedua negara yang belum sepenuhnya mereda, Pezeshkian justru menyebut saat ini merupakan momentum terbaik untuk kembali membuka jalur diplomasi.

Menurutnya, Iran memiliki posisi yang lebih kuat untuk menghadapi perundingan setelah melewati konflik dan tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, kesiapan Iran untuk kembali duduk di meja perundingan bukan berarti Teheran mengubah sikap politiknya terhadap Washington.

Pezeshkian menegaskan diplomasi tidak boleh ditafsirkan sebagai tanda Iran menyerah atau tunduk pada tekanan AS.

Ia menyebut persatuan dan kekuatan domestik Iran menjadi modal penting dalam menghadapi setiap proses negosiasi.

Pezeshkian bahkan menilai Iran keluar dari konflik terakhir sebagai negara yang tetap kuat dan memiliki posisi tawar.

Karena itu, jalur diplomasi dinilai dapat digunakan untuk memperjuangkan kepentingan nasional tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip Iran.

Dalam konferensi pers keduanya sejak menjabat sebagai Presiden Iran pada Sabtu (8/8/2026), Pezeshkian juga membantah anggapan bahwa Teheran telah memberikan konsesi kepada Washington.

Ia memastikan Iran tetap berpegang pada kesepakatan yang telah dibuat dan menilai justru AS yang belum sepenuhnya menjalankan isi nota kesepahaman.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan sikap Iran yang membuka pintu dialog, tetapi tetap mempertahankan posisi keras terhadap Amerika Serikat.

Baca juga: Iran Blokade Selat Hormuz, AS Didesak Bayar Kompensasi Perang Sebelum Jalur Minyak Dunia Dibuka

Seperti diketahui, Masoud Pezeshkian menyatakan, saat ini merupakan waktu terbaik bagi Teheran dan Amerika Serikat (AS) untuk kembali menempuh jalur diplomasi guna mencapai kesepakatan baru.

Meski demikian, ia menegaskan kesediaan Iran untuk berunding tidak boleh diartikan sebagai bentuk tunduk ataupun melunak terhadap Washington.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam konferensi pers keduanya sejak menjabat sebagai Presiden Iran pada Sabtu (8/8/2026). Menurutnya, kondisi politik dan keamanan di dalam negeri saat ini justru memberikan posisi yang lebih kuat bagi Iran untuk memasuki meja perundingan.

"Ketika orang-orang berbicara tentang mencapai kesepakatan, saya percaya sekarang adalah waktu terbaik, karena ada kohesi, kekuatan, dan persatuan di negara ini," ujar Pezeshkian, dikutip dari Anadolu.

Ia menilai, Iran berhasil keluar dari konflik terakhir dengan posisi yang lebih menguntungkan. Menurutnya, ketahanan yang ditunjukkan pemerintah, militer, dan masyarakat selama perang membuat Iran dipandang sebagai negara yang tetap kuat di tengah tekanan dari luar.

"Sejauh yang saya tahu, Iran dianggap telah keluar dari perang dan konflik ini sebagai negara yang menang dan kuat," katanya.

SOSOK PRESIDEN IRAN - Presiden terpilih Iran, Masoud Pezeshkian memenangkan pemilu pada Jumat (5/7/2024). (Mehr News Agency/Ayoub Ghaderi)

Berdasarkan kondisi tersebut, Pezeshkian menilai momentum saat ini dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang selama ini membayangi hubungan Iran dan Amerika Serikat melalui jalur diplomasi.

Namun, ia menegaskan dialog yang ditempuh pemerintah Iran semata-mata bertujuan memperjuangkan kepentingan nasional dan hak-hak rakyat Iran, bukan sebagai bentuk perubahan sikap terhadap Amerika Serikat.

"AS adalah negara kolonial, AS adalah negara kriminal, dan Republik Islam tetaplah Republik Islam. Tidak ada keraguan tentang itu," tegasnya.

Menurut Pezeshkian, keputusan Teheran kembali membuka komunikasi dengan Washington justru membuktikan efektivitas diplomasi dalam memperjuangkan kepentingan negara.

"Fakta bahwa kami mengadakan pembicaraan dan melakukan diplomasi telah memaksa AS untuk duduk di meja perundingan dan mencapai kesepakatan serta pemahaman dengan Iran," ujarnya.

Ia menambahkan, diplomasi bukan berarti Iran mengurangi prinsip-prinsip politiknya. Sebaliknya, negosiasi dinilai menjadi instrumen untuk mempertahankan hak-hak Iran tanpa harus mengorbankan kepentingan nasional.

Bantah Iran Berikan Konsesi kepada AS

Dalam kesempatan yang sama, Pezeshkian juga menepis kritik terhadap nota kesepahaman yang telah ditandatangani Iran dan Amerika Serikat pada Juni lalu. Menurutnya, kesepakatan tersebut tidak memuat satu pun klausul yang mengharuskan Iran memberikan konsesi kepada Washington.

"Anda tidak akan menemukan satu pun klausul dalam memorandum tersebut di mana kami memberikan konsesi apa pun," katanya.

Ia memastikan pemerintah Iran tetap berpegang teguh pada seluruh isi kesepakatan yang telah disepakati dan tidak akan mengorbankan kepentingan nasional demi tercapainya dialog.

Meski demikian, Pezeshkian justru menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang tidak sepenuhnya menjalankan isi nota kesepahaman tersebut.

Menurutnya, Washington memilih mengembangkan jalur pengiriman alternatif di Selat Hormuz daripada mengikuti mekanisme keamanan maritim yang sebelumnya dirancang bersama Iran dan Oman.

Pezeshkian menilai perbedaan tersebut seharusnya diselesaikan melalui mekanisme penyelesaian sengketa yang telah disepakati dalam nota kesepahaman, bukan melalui langkah-langkah sepihak.

Ia berharap implementasi kesepakatan tetap dapat dilanjutkan dengan tetap menjaga martabat dan kepentingan nasional Iran.

Bela Tim Negosiasi dan Singgung Kebijakan Dalam Negeri

Selain membahas hubungan luar negeri, Pezeshkian juga memberikan pembelaan terhadap tim negosiasi Iran yang belakangan menjadi sasaran kritik dari sejumlah kalangan.

Ia menyebut para perunding sebagai sosok yang profesional, berdedikasi, dan bekerja keras untuk memperjuangkan kepentingan negara dalam setiap proses diplomasi dengan Amerika Serikat.

Menurutnya, kritik yang diarahkan kepada tim negosiasi tidak mencerminkan besarnya upaya yang telah dilakukan dalam mempertahankan posisi Iran di meja perundingan.

Pada kesempatan yang sama, Pezeshkian juga mengungkapkan pemerintahannya tengah berkoordinasi dengan tiga cabang kekuasaan serta Dewan Keamanan Nasional Tertinggi guna melonggarkan pembatasan akses internet di Iran.

Meski demikian, ia menegaskan kebijakan tersebut akan tetap mempertimbangkan aspek keamanan nasional dan kesiapan infrastruktur digital sehingga tidak mengganggu stabilitas dalam negeri.

Pernyataan Pezeshkian memperlihatkan Iran berupaya menempuh jalur diplomasi dengan Amerika Serikat tanpa mengubah sikap politiknya yang selama ini dikenal keras terhadap Washington.

Di sisi lain, pemerintah Iran juga berusaha menjaga stabilitas domestik melalui berbagai kebijakan yang dinilai mampu memperkuat kepercayaan publik sekaligus mempertahankan posisi negara dalam menghadapi dinamika geopolitik kawasan.

(TribunNewsmaker.com/TribunNews/Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.