Amalan Memasuki Arba Mustakmir 2026, Buya Yahya dan UAS Memberikan Pandangan
M.Risman Noor August 10, 2026 06:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Arba Mustakmir 1448 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu 12 Agustus 2026.

Rabu terakhir di bulan Safar ini sering disebut pula Rebo Wekasan.

Lalu bagaimana pandangan Buya Yahya dan Ustadz Abdul Somad (UAS) mengenai Arba Mustakmir?

Pada intinnya bukan sunah nabi Muhammad SAW, namun kedua ulama ini tak melarang umat Islam melakukannya.

Baca juga: Sosok KH Yazid Fahmi Ulama Gigih Berdakwah Asal Tapin Kalsel, Haul ke-3  di Langgar At Taqwa

Baca juga: Berkunjung ke Kalsel, Menag Meminta Para Tokoh Lintas Agama Ikut Menjaga Hubungan antarumat 

Penceramah Ustadz Abdul Somad menjelaskan hukum ziarah yang diniatkan untuk amalan Arba Mustakmir atau Rebo Wekasan.

Dipaparkan Ustadz Abdul Somad, kebiasaan ziarah yang dilakukan di bulan safar bukan bersumber dari hadits atau sabda Nabi Muhammad SAW.

Kendati demikian Ustadz Abdul Somad mengatakan ziarah kepada wali-wali Allah di bulan kedua kalender Hijriyah adalah bentuk tawassul.

Diketahui, saat ini berada di penghujung bulan Safar 1448 Hijriyah atau bulan kedua dalam sistem kalender Islam, hitungan hari menuju bulan Rabiul Awal 1448 Hijriyah.

Rebo Wekasan merupakan istilah Jawa yang merujuk pada tradisi yang dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Islam.

Istilah Arba Mustamir adalah merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, diyakini sebagian kalangan masyarakat sebagai hari yang sakral.

Pada sebagian masyarakat Banjar, tradisi memperingati Arba Mustamir masih dilakukan hingga sekarang.

Ustadz Abdul Somad memaparkan ada kebiasaan umat muslim di Indonesia melakukan ziarah di bulan Safar.

"Berziarah di Rabu terakhir bulan Safar berdoa dijauhkan dari bala dan musibah, karena menurut ulama tasawuf musibah paling banyak diturunkan pada Rabu terakhir di bulan Safar, itu mereka dapatnya dari ilham, bukan hadits Nabi SAW," terang Ustadz Abdul Somad dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube Irman Hidayah.

Istilah ziarah di Rabu terakhir bulan Safar termasuk salah satu amalan Rebo Wakasan.

Maka berdoa dan ziarah kubur di bulan Safar termasuk dibolehkan sebab baik dilakukan dan tidak dilarang.

Hal ini disebut bertawassul dengan wali-wali Allah SWT, bertawassul dengan Syekh Abdul Qodir Jaelani, bertawassul dengan Wali Songo, itu bukan meminta kepada wali melainkan kepada Allah SWT berkat kemuliaan wali-wali-Nya.

"Yang membolehkan tawassul itu ulama-ulama, di antaranya Ulama asal Maroko, Syekh Sayid Abdullah bin Muhammad bin ash-Shiddiq al-Ghumari," ucap Ustadz Abdul Somad.

Di saat berziarah hendaknya mengucap salam kepada ahli kubur, bacaan salam yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:

السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ

Assalâmu‘alaikum dâra qaumin mu’minîn wa atâkum mâ tû‘adûn ghadan mu’ajjalûn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn

Artinya: Assalamu’alaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian.

Setelah membaca salam ini, Rasulullah SAW lalu menyambungnya dengan berdoa “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang disemayamkan di Baqi’.”

Baca juga: Kemarau Membuat Sumur Warga Kering, Polsek Cempaka Salurkan Air Bersih ke Dua Kelurahan

Amalan-amalan yang bisa diamalkan di bulan Safar di antaranya puasa sunnah, sholat sunnah, sedekah, membaca Alquran dan amalan kebaikan lainnya sebagaimana bisa dilaksanakan di bulan-bulan lainnya.

Bagi sebagian umat muslim di Indonesia, Rabu terakhir bulan Safar atau Arba Mustamir dan Rebo Wekasan dianggap merupakan satu hari yang sakral.

Tak sedikit umat muslim yang melakukan amalan Arba Mustamir dengan membaca doa.

Konon hari pada hari Arba Mustamir dipercaya datangnya 320.000 sumber penyakit dan marabahaya 20.000 bencana.

Pendakwah Buya Yahya menjelaskan pandangan Islam soal amalan khusus pada Arba Mustamir atau Rebo Wekasan di Bulan Safar yang diyakini mencegah bala atau musibah.

Buya Yahya menegaskan amalan atau ritual itu tidak bersumber dari hadist Nabi Muhammad SAW.

Meski begitu, Buya Yahya yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah tak memungkiri adanya amalan yang beredar di kalangan masyarakat terkait bulan Safar.

Baca juga: Bahrul Warga Sungai TUrak HSU, Kumpulkan Puluhan Kilogram Daun Gelinggang, Untuk Obat dan Kecantikan

Karena itu Buya Yahya menyebut amalan semacam itu tidak wajib untuk dipercayai sebab tidak dianjurkan dalam Islam.

Buya Yahya menegaskan amalan khusus yang kerapkali tersebar di bulan Safar adalah arba mustamir atau rebo wekasan bukan bersumber dari hadist Nabi SAW.

"Dilarang mengatakan itu dari Nabi SAW sama artinya dengan dusta, kalau memang ada seorang yang shaleh, alim, tidak tampak pada dirinya kemaksiatan kemudian mengucapkan amalan itu, mungkin bisa benar, tapi itu berupa ilham," jelas Buya Yahya dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube Al-Bahjah TV.

Buya Yahya menambahkan Allah memberikan ilham kepada seseorang yang kemudian diketahui dan diamalkan oleh orang tersebut.

Meski demikian, ilham yang dimaksud tidak wajib dipercayai. Kendati ilham wali sekalipun tak wajib diyakini.

"Namun bagi orang yang ingin mempercayai boleh, misalnya anjuran banyak membaca doa karena diyakini bakal ada musibah yang datang di suatu tempat," terangnya.

Terkait hal demikian hendaknya berhusnudzon atau berprasangka baik yang mana hal itu adalah ilham dari para ulama di waktu tertentu bakal banyak musibah. Soal ini boleh dipercayai ataupun tidak.

Mengingkari hal demikian adalah tidak berbahaya bagi kaum muslim, yang berbahaya itu su'ul adzab kepada orang shaleh atau alim ulama.

"Kalau ada amalan lainnya misal baca Yassin, baca doa, sedekah, agar ditolak dari bencana, itu amalan yang sah, tak hanya dibaca saat rebo wekasan, tapi setiap saat boleh dilakukan," urainya.

Selain itu, saat membaca surah Yassin boleh mengulang-ulang beberapa ayat, misalnya "Salaamun qoulam mirrobbirrohim" sebanyak tiga kali.

Baca juga: Satu Hektare Lahan Semak Belukar di Jalan Tarantang Tapin Terbakar, Penyebab Belum Diketahui

Amalan lainnya shalat malam, sebanyak-banyaknya jumlah rakaat yang dilakukan adalah sah.

Namun afdholnya melakukan shalat malam dua rakaat sekali salam, namun dilakukan empat dan enam rakaat sah.

"Apakah ada shalat tolak bala, yang benar adalah shalat hajat untuk menolak bala, berapapun rakaatnya setelah shalat membaca doa dijauhkan dari marabahaya, atau saat sedekah diniatkan untuk menolak bala, sah," ucap Buya Yahya.

Karena itu, tidak perlu menghujat amalan-amalan itu. Yang terpenting adalah tidak melakukan kebohongan misalnya mimpi bertemu Nabi SAW.

Selagi tidak bertentangan dalam Islam dan tidak dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW maka boleh-boleh saja. (Banjarmasinpost.co.id/Danti Ayu)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.