TRIBUNNEWS.COM – Kesehatan saluran cerna anak tidak hanya berkaitan dengan proses pencernaan dan penyerapan nutrisi, tetapi juga memiliki hubungan dengan perkembangan otak dan sistem imun, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD, Ph.D., mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan adanya hubungan erat antara saluran cerna dan otak melalui gut-brain axis.
Baca juga: Saat Antibiotik Tak Lagi Mempan Lawan Bakteri, BPOM Luluskan Terapi Baru untuk Infeksi Berat
“Keseimbangan mikrobiota usus berperan penting dalam menjaga sistem imun sekaligus mendukung pematangan fungsi otak pada masa awal kehidupan,” ujar Taruna saat memberikan keynote speech dalam Pediatric Science & Health Summit 2026 di Nusa Dua, Bali belum lama ini.
Menurut Taruna, periode 1.000 HPK merupakan fase penting yang turut menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.
Perkembangan anak pada periode ini dipengaruhi kecukupan nutrisi dan kemampuan otak berkembang melalui mekanisme neuroplastisitas.
Sebaliknya, ketidakseimbangan mikrobiota atau disbiosis dapat memicu peradangan sistemik yang berpengaruh terhadap neuroplastisitas dan fungsi neurologis.
“Karena itu, seluruh inovasi pangan maupun nutrisi harus melalui proses penelitian, pembuktian ilmiah, komunikasi yang bertanggung jawab, serta harmonisasi regulasi sebelum diterjemahkan menjadi produk maupun rekomendasi kesehatan masyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, pakar Gastroenterologi dan Nutrisi Anak dari University Hospital Brussels (UZ Brussel), Belgia, Prof. Yvan Vandenplas, MD, Ph.D., mengatakan mikrobiota usus berperan penting dalam penyerapan nutrisi, perkembangan sistem imun, dan pertumbuhan anak.
“Mikrobiota usus memainkan peran sentral dalam penyerapan nutrisi, perkembangan sistem imun, hingga pertumbuhan anak,” katanya.
Di dalam saluran cerna terdapat sekitar 100 triliun mikrobiota yang berperan dalam fungsi pencernaan, daya tahan tubuh, dan berbagai fungsi tubuh lainnya.
Karena itu, menjaga keseimbangan mikrobiota menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung kesehatan anak sejak awal kehidupan.
Yvan mengatakan keseimbangan mikrobiota dapat didukung melalui asupan biotik, seperti prebiotik, probiotik, dan sinbiotik.
Prebiotik, misalnya, menjadi nutrisi bagi bakteri baik di usus yang dapat membantu mendukung kesehatan saluran cerna.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian pada anak yang lahir melalui operasi caesar.
Sejumlah studi yang dibahas dalam forum menunjukkan adanya perbedaan komposisi mikrobiota usus antara anak yang lahir melalui operasi caesar dan persalinan normal.
Anak yang lahir melalui operasi caesar disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami disbiosis yang dapat berkaitan dengan kesehatan pencernaan dan perkembangan sistem imun.
Kesehatan saluran cerna juga berkaitan dengan persoalan alergi.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, Prof. Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), menekankan pentingnya diagnosis yang tepat dan dini pada anak dengan Alergi Protein Susu Sapi (ASS).
Keterlambatan diagnosis dapat memperpanjang penanganan dan berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak. Karena itu, pilihan nutrisi perlu disesuaikan dengan kondisi klinis dan mengikuti panduan berbasis bukti.
Zakiudin mengatakan partially hydrolyzed formula (pHF) tidak direkomendasikan untuk anak yang sudah mengalami alergi protein susu sapi.
Sementara itu, extensively hydrolyzed formula (eHF) dapat menjadi salah satu pilihan untuk penanganan alergi ringan hingga sedang sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Pada kondisi alergi berat, pilihan nutrisi perlu ditentukan berdasarkan kondisi anak dan rekomendasi dokter.
Masalah kesehatan saluran cerna pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari tumbuh kembang anak secara keseluruhan.
Penyerapan nutrisi, sistem imun, pertumbuhan, dan perkembangan otak merupakan sejumlah aspek yang saling berkaitan.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi, Dr. dr. Nur Aisiyah Widjaja, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), mengatakan penanganan gangguan pertumbuhan, termasuk stunting, tidak cukup hanya dengan meningkatkan asupan kalori.
Kualitas asupan dan keseimbangan protein-energi menjadi bagian penting dalam mendukung catch-up growth. Pada anak dengan kekurangan nutrisi kronis, kebutuhan nutrisi perlu disesuaikan dengan kondisi dan hasil evaluasi dokter.
Selain itu, kekurangan zat besi juga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak. Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), mengatakan zat besi berperan penting dalam perkembangan sistem saraf dan fungsi kognitif.
Data South East Asian Nutrition Survey II Indonesia (SEANUTS II) yang dipaparkan dalam forum menunjukkan rata-rata asupan zat besi anak Indonesia baru mencapai 65,8 persen dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan.
Kekurangan zat besi dan anemia defisiensi besi dapat memengaruhi fungsi kognitif, energi, dan daya tahan tubuh. Karena itu, deteksi dan intervensi dini diperlukan untuk mencegah dampaknya terhadap perkembangan anak.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan tantangan kesehatan anak semakin kompleks sehingga membutuhkan pelayanan berbasis bukti ilmiah.
Menurut Piprim, dokter anak perlu terus memperbarui pengetahuan mengenai berbagai persoalan yang memengaruhi tumbuh kembang, termasuk kesehatan saluran cerna, gangguan pertumbuhan, alergi, dan defisiensi zat besi.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Pediatric Science & Health Summit 2026 bertema “Advancing Science for Clinical Excellence” yang digelar PP IDAI dan IDAI Cabang Bali.
Forum tersebut menegaskan bahwa kesehatan saluran cerna perlu dipandang sebagai bagian dari kesehatan anak secara menyeluruh.
Pemenuhan nutrisi sesuai kebutuhan, pemantauan pertumbuhan, serta deteksi dan penanganan gangguan kesehatan sejak dini menjadi bagian penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.
(Tribunnews.com/Eko Sutriyanto)