Gelagat Saepul Sebelum Mutilasi Pria Depok, Resign Meski Punya Utang ke Bos, Kerja Jaga Stand Piscok
Listusista Anggeng Rasmi August 10, 2026 08:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Terungkapnya kasus dugaan pembunuhan disertai mutilasi terhadap Kunaefi di Depok membuat banyak orang terkejut, termasuk orang-orang yang pernah bekerja bersama tersangka Saepul.

Sosok Saepul yang kini berstatus tersangka ternyata selama ini dikenal memiliki keseharian yang jauh dari kesan mencurigakan.

Pria berusia 26 tahun itu diketahui bekerja sebagai penjaga stan Pisang Coklat (Piscok) Selamat Pagi di kawasan Stasiun Pondok Cina, Depok.

Ia mulai bergabung sebagai karyawan sejak Mei 2026 dan menjalankan pekerjaannya seperti pegawai pada umumnya.

Selama bekerja, Saepul disebut tidak pernah menunjukkan sikap yang membuat atasannya merasa waspada.

Bos Piscok Selamat Pagi, Dwi Purwadi, mengaku mengenal Saepul sebagai pribadi yang santun dan mudah bergaul dengan lingkungan kerja.

Menurut Dwi, tersangka juga dikenal berbicara dengan sopan kepada siapa pun, baik secara langsung maupun melalui pesan singkat.

Bahkan, Dwi mengaku sempat menilai Saepul sebagai sosok pemuda yang memiliki kesan agamis dalam kesehariannya.

Baca juga: Sosok Saepul Pelaku Mutilasi di Depok Pernah Jadi Pemotong Daging & Guru MTK, Terancam Hukuman Mati

MUTILASI DEPOK - Karung yang sempat dikira sampah ternyata menyimpan jasad manusia. Warga baru mengetahui isinya setelah karung tersebut dibakar di area tanah lapang Jalan Raya Kav, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat pada Selasa (4/8/2026).
MUTILASI DEPOK - Karung yang sempat dikira sampah ternyata menyimpan jasad manusia. Warga baru mengetahui isinya setelah karung tersebut dibakar di area tanah lapang Jalan Raya Kav, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat pada Selasa (4/8/2026). (Warta Kota/Rifqi Ibnumasy | iStockphoto)

"Kata-katanya (Saepul) juga selama saya dengar bukan yang kata-kata kotor banget. Bukan yang toxic banget kayak gitu loh. Even kalau dia kaget pun kata-katanya yang ke agamis, kayak Allahu Akbar gitu. Bahkan di chat pun dia masih termasuk yang sopan ya pakai assalamualaikum mas, kayak gitu," akui Dwi.

Meski demikian, menjelang peristiwa yang kemudian menggemparkan publik, Dwi mulai mengingat adanya perubahan perilaku pada diri Saepul.

Perubahan tersebut pertama kali terlihat pada 22 Juli 2026 ketika Saepul tiba-tiba meminta izin tidak masuk kerja.

Saat itu, Saepul menyampaikan kepada atasannya bahwa dirinya akan mengikuti proses wawancara kerja di sebuah gerai makanan di kawasan Margo City.

"Pas tanggal 22 Juli itu pagi dia bilang ada interview di food court Margo City. Posisinya itu nasi goreng ya (lowongan jadi pegawai)," ujar Dwi.

Penjelasan tersebut awalnya tidak menimbulkan kecurigaan karena dianggap sebagai hal yang wajar bagi seseorang yang ingin mencari peluang pekerjaan baru.

Namun, situasi berubah hanya sehari setelahnya ketika Saepul kembali menghubungi atasannya.

Pada 23 Juli 2026, ia secara tiba-tiba mengirimkan pesan yang berisi keinginan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Baca juga: Curhat Pelaku Mutilasi di Depok, Ingin Punya Motor dengan Cara Membunuh, Nekat Cari Korban di Medsos

KASUS PEMBUNUHAN - Saepullah (26) alias Saepul, pelaku pembunuhan disertai mutilasi terhadap Kunaefi (51), yang baru dikenalnya lewat jagat Maya, usai cekcok saat bertemu. Saepul menghabisi nyawa Kunaefi dengan menggorok lehernya di kontrakan di Depok, sebelum dibekuk polisi dalam pelariannya di Pandeglang, Banten.
KASUS PEMBUNUHAN - Saepullah (26) alias Saepul, pelaku pembunuhan disertai mutilasi terhadap Kunaefi (51), yang baru dikenalnya lewat jagat Maya, usai cekcok saat bertemu. Saepul menghabisi nyawa Kunaefi dengan menggorok lehernya di kontrakan di Depok, sebelum dibekuk polisi dalam pelariannya di Pandeglang, Banten. ((Ist)/via Wartakotalive)

Keputusan tersebut membuat Dwi merasa heran karena tidak pernah ada tanda-tanda ketidaknyamanan selama Saepul bekerja di stan piscok miliknya.

Apalagi, Saepul disebut tidak memberikan alasan yang jelas mengapa ingin berhenti bekerja secara mendadak.

Dwi juga mengungkapkan bahwa saat itu Saepul masih memiliki utang kasbon kepada perusahaan sebesar Rp200 ribu yang belum diselesaikan.

Sejak mengirimkan pesan pengunduran diri tersebut, Saepul tidak pernah lagi terlihat datang ke tempat kerjanya.

Beberapa waktu kemudian, publik dikejutkan dengan kabar bahwa Saepul ditangkap penyidik Polda Metro Jaya dalam kasus dugaan pembunuhan dan mutilasi terhadap Kunaefi.

Polisi mengungkap bahwa sebelum berhasil diamankan pada 5 Agustus 2026, Saepul sempat melarikan diri ke wilayah Pandeglang, Banten.

Kesaksian dari mantan atasannya kini menjadi salah satu gambaran mengenai keseharian Saepul sebelum namanya mencuat sebagai tersangka dalam kasus yang menyita perhatian masyarakat tersebut.

Motif dan pengakuan tersangka

Untuk diketahui, Saepul membunuh Kunaefi di kontrakannya di Jalan Belimbing RT 03/RW 05, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok pada Kamis (23/7/2026).

Belakangan motif pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan Saepul terungkap.

Kepada penyidik, Saepul menceritakan alasannya tega menghabisi nyawa ayah dua anak itu.

Sempat kabur ke kawasan Banten, Saepul mengurai pengakuan mengejutkan ke penyidik.

Saepul mengaku bahwa ia mengenal korban kenal lewat aplikasi kencan khusus gay alias penyuka sesama jenis.

Setelah kenalan, Saepul tergiur dengan sepeda motor yang ada di foto Kunaefi karena motor tersebut adalah impiannya.

"Korban usia 51 tahun, awalnya pelaku ini berkenalan dengan korban melalui aplikasi kencan namanya Hornet. Pelaku berkenalan dengan korban dan saat saling bertukar foto, pelaku melihat ada motor yang dimiliki oleh korban dan motor itu adalah motor yang diidam-idamkan oleh pelaku," ungkap Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin.

Dari sanalah muncul niatan Saepul ingin bertemu Kunaefi guna menguasai sepeda motor miliknya.

Saepul lalu mengajak Kunaefi bertemu di kontrakannya.

Namun pertemuan Saepul dengan Kunaefi justru dipenuhi cekcok.

Diakui Saepul, ia mengajak Kunaefi untuk berhubungan badan sesama jenis.

Tapi permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh korban sehingga memantik amarah Saepul.

"Karena ketertarikan terhadap motor tersebut, ingin menguasai kendaraan yang dimiliki korban, korban diundang oleh pelaku ke kontrakannya. Di sanalah terjadi pembunuhan yang dilakukan pelaku," ujar Kombes Pol Iman Imanuddin.

"Pelaku dari awal sudah mempersiapkan diri untuk mengambil barang yang dimiliki korban. Ada pemicu yang terjadi, saat pelaku meminta kendaraannya, sempat terjadi pertengkaran karena pelaku diajak berhubungan disorientasi seksual, karena terjadi ketegangan, terjadi pertengkaran," sambungnya.

Saepul yang emosi langsung mengambil pisau di dapurnya lalu menusuk korban.

Tak puas, Saepul memutilasi Kunaefi hingga menjadi beberapa bagian.

"Pelaku mengambil pisau dari dapur dan melakukan penusukan ke bagian perut korban. Kemudian untuk menghilangkan jejak, pelaku memotong bagian dari tubuh korban," kata Kombes Pol Iman Imanuddin.

Adapun niatan untuk membunuh, Saepul rupanya sudah menceritakan hal tersebut ke temannya.

Saepul begitu ingin memiliki motor PCX dan rela melakukan hal apapun asal bisa memperolehnya.

"Saat ditanya (bagaimana cara dapat motor PCX), katanya (Saepul) 'Enggak tahu, mungkin membunuh orang,' begitu salah satu kalimat yang diucapkan oleh pelaku," imbuh Katimsus 2 Unit 1 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Ipda Breggy Yesaya Imanuel Sutijono.

Akibat perbuatannya, Saepul terancam dijerat dengan Pasal 458 dan 459 KUHP tentang pembunuhan biasa dan berencana, dengan ancaman penjara paling lama 20 tahun.

(Tribunnewsmaker.com/TribunnewsBogor/ Khairunnisa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.