TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak bacaan Injil Katolik Selasa 11 Agustus 2026.
Bacaan injil katolik lengkap renungan harian Katolik.
Liturgi Selasa 11 Agustus 2026, merupakan Hari Selasa, Perayaan Wajib Santa Klara dari Asisi: Perawan yang Memilih Kristus, Santa Susana Martir: Kisah Iman dan Keteladanan, dengan warna liturgi putih.
Adapun bacaan liturgi Katolik hari Selasa 11 Agustus 2026 adalah sebagai berikut:
Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Selasa 11 Agustus 2026, Perayaan Wajib St.Klara
Diberikan-Nya gulungan kitab itu untuk kumakan,dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.
Tuhan bersabda kepadaku, “Hai, anak manusia, dengarkanlah sabda-Ku kepadamu. Janganlah membantah seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu.”Aku melihat, ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab. Ia Membentangkannya di hadapanku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.
Sabda-Nya kepadaku, “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel.” Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan.
Lalu sabda-Nya kepadaku, “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini dan isilah perutmu dengannya.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku. Tuhan bersabda lagi, “Hai anak manusia, mari, pergilah! dan sampaikanlah sabda-Ku kepada mereka.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan:Mzm 119:14.24.72.103.111.131
Ref: Betapa manisnya janji Tuhan bagi langit-langitku.
Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu, melebihi segala harta.
Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, dan kehendak-Mu menjadi penasehat bagiku.
Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku,lebih berharga dari pada ribuan keping emas dan perak.
Betapa manisnya janji-Mu bagi langit-langitku,melebihi madu bagi mulutku.
Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.
Mulutku kungangakan dan mengap-mengap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.
Bait Pengantar Injil Mat 11:29
Terimalah beban-Ku dan belajarlah daripada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.
Bacaan Injil Mat 18:1-5.10.12-14
Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak ini.
Sekali peristiwa datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.
Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Malaikat-malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”
Lalu Yesus bersabda lagi, “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu, sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik : Menjadi Kecil di Hadapan Allah, Besar dalam Kasih
Pengantar
Renungan Katolik hari ini mengajak kita memasuki sebuah pelajaran yang sangat mendasar namun sering kali sulit dijalani, yaitu kerendahan hati. Di tengah dunia yang menghargai kekuasaan, pencapaian, popularitas, dan pengakuan, Yesus justru mengajarkan bahwa yang terbesar dalam Kerajaan Surga adalah mereka yang menjadi seperti anak kecil.
Hari ini Gereja merayakan Santa Klara dari Asisi, seorang perempuan muda yang meninggalkan kemewahan keluarganya demi mengikuti Kristus dalam kemiskinan, kesederhanaan, dan kasih yang total. Hidup Santa Klara menjadi gambaran nyata dari Injil hari ini. Ia memilih menjadi "kecil" menurut ukuran dunia agar menjadi besar di mata Allah.
Melalui renungan harian Katolik ini, marilah kita membuka hati agar Sabda Tuhan membentuk cara berpikir, cara hidup, dan cara kita memandang sesama.
Bacaan Injil: Matius 18:1-5.10.12-14
Pada suatu hari para murid bertanya kepada Yesus,
"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?"
Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka, dan berkata:
"Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga."
Yesus juga memperingatkan agar jangan seorang pun meremehkan orang-orang kecil, sebab mereka sangat berharga di hadapan Bapa.
Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan tentang domba yang hilang. Seorang gembala rela meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor demi mencari seekor yang tersesat. Demikian pula Bapa di surga tidak menghendaki seorang pun yang kecil ini binasa.
Renungan Katolik Hari Ini
1. Dunia Mengajarkan Menjadi Besar, Yesus Mengajarkan Menjadi Kecil
Pertanyaan para murid sangat manusiawi.
Mereka ingin mengetahui siapa yang paling penting.
Barangkali pertanyaan yang sama juga muncul dalam hati kita.
Siapa yang paling sukses?
Siapa yang paling dihormati?
Siapa yang paling berpengaruh?
Ukuran dunia hampir selalu berkaitan dengan prestasi, jabatan, kekayaan, dan kekuatan.
Namun Yesus membalik seluruh cara berpikir manusia.
Ia tidak menunjuk seorang raja.
Ia tidak menunjuk seorang ahli Taurat.
Ia juga tidak menunjuk seorang pemimpin besar.
Sebaliknya, Ia menghadirkan seorang anak kecil.
Pada zaman Yesus, anak-anak belum memiliki status sosial yang tinggi. Mereka bergantung sepenuhnya kepada orang tua. Mereka tidak memiliki kuasa maupun hak istimewa.
Justru di situlah letak pelajarannya.
Anak kecil hidup dalam kepercayaan, ketergantungan, kesederhanaan, dan hati yang mudah menerima.
Kerajaan Allah dibangun bukan oleh orang yang merasa hebat, melainkan oleh mereka yang menyadari bahwa segala sesuatu adalah rahmat.
Inilah refleksi Sabda Tuhan yang sangat relevan pada zaman sekarang.
Semakin banyak orang berlomba menjadi terkenal, semakin sedikit yang mau menjadi rendah hati.
Padahal kerendahan hati adalah fondasi seluruh kehidupan rohani.
2. Santa Klara dari Asisi: Kecil Menurut Dunia, Besar di Mata Allah
Santa Klara lahir dalam keluarga bangsawan.
Ia memiliki masa depan yang cerah.
Kemewahan, kekayaan, dan kedudukan terbuka lebar baginya.
Namun setelah mendengar pewartaan Santo Fransiskus, hatinya disentuh oleh kasih Kristus.
Ia meninggalkan segala kenyamanan.
Ia memilih hidup miskin.
Ia mengenakan pakaian sederhana.
Ia mengabdikan seluruh hidupnya bagi doa, pelayanan, dan kasih.
Pilihan itu tampak bodoh menurut dunia.
Namun justru melalui hidup sederhana itulah Santa Klara menjadi terang bagi Gereja.
Ia tidak mencari nama besar.
Tetapi namanya dikenang selama berabad-abad.
Ia tidak mengejar kekayaan.
Namun ia menjadi kaya dalam kekudusan.
Ia tidak mencari penghormatan.
Namun Gereja menghormatinya sebagai santa besar.
Santa Klara membuktikan bahwa semakin seseorang mengosongkan diri demi Kristus, semakin Allah memenuhi hidupnya dengan damai.
3. Jangan Pernah Meremehkan Orang Kecil
Yesus berkata,
"Jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini."
Kalimat ini jauh lebih luas daripada sekadar berbicara mengenai anak-anak.
Yang dimaksud adalah semua orang yang lemah.
Orang miskin.
Orang sakit.
Orang lanjut usia.
Penyandang disabilitas.
Mereka yang terlupakan.
Mereka yang gagal.
Mereka yang sedang berjuang dalam hidup.
Kadang tanpa sadar kita memberi penghormatan lebih kepada mereka yang memiliki jabatan, uang, atau kekuasaan.
Sebaliknya, orang sederhana sering diabaikan.
Padahal Allah memandang setiap pribadi dengan kasih yang sama.
Setiap manusia memiliki martabat karena diciptakan menurut gambar Allah.
Setiap orang layak dihormati.
Ketika kita belajar menghargai mereka yang kecil, sesungguhnya kita sedang menghormati Kristus sendiri.
4. Allah Selalu Mencari Domba yang Hilang
Bagian Injil berikutnya menghadirkan gambaran seorang gembala.
Ia meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor demi mencari seekor yang hilang.
Secara ekonomi, tindakan itu mungkin tampak tidak masuk akal.
Namun kasih Allah tidak dihitung dengan logika untung-rugi.
Bagi Allah, satu jiwa sangat berharga.
Mungkin hari ini kita merasa seperti domba yang tersesat.
Kita jatuh dalam dosa.
Kita kehilangan semangat.
Kita jauh dari doa.
Kita kecewa.
Kita merasa tidak layak.
Kabar baik Injil adalah Allah tidak berhenti mencari kita.
Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna.
Ia datang terlebih dahulu.
Ia memanggil.
Ia mengetuk hati.
Ia menawarkan belas kasih.
Inilah inti Injil.
Allah lebih dahulu mengasihi daripada menghakimi.
5. Kerendahan Hati Membuka Jalan Menuju Sukacita
Sering kali kita berpikir bahwa kerendahan hati berarti menjadi lemah.
Padahal justru sebaliknya.
Orang rendah hati tidak sibuk membuktikan dirinya.
Ia tidak mudah tersinggung.
Ia tidak haus pujian.
Ia mampu bersyukur.
Ia mampu mengampuni.
Ia mampu bekerja sama.
Ia rela melayani tanpa harus dikenal.
Kerendahan hati menghasilkan damai.
Kesombongan menghasilkan persaingan.
Kerendahan hati membangun persaudaraan.
Kesombongan memecah hubungan.
Kerendahan hati membawa sukacita.
Karena itu Santa Klara dapat hidup penuh damai walaupun miskin secara materi.
Yang memenuhi hidupnya adalah Kristus sendiri.
“Kesetiaan kepada Tuhan tidak bergantung pada penerimaan manusia.”
6. Menjadi Murid Kristus di Tengah Dunia Modern
Di zaman media sosial, ukuran keberhasilan sering diukur dengan angka.
Berapa banyak pengikut.
Berapa banyak "like".
Berapa banyak orang mengenal kita.
Namun Injil mengingatkan bahwa Allah tidak melihat angka.
Allah melihat hati.
Ia melihat kasih yang dilakukan secara diam-diam.
Ia melihat doa yang dipanjatkan dengan tulus.
Ia melihat air mata pertobatan.
Ia melihat pelayanan kecil yang dilakukan tanpa sorotan.
Tidak ada kebaikan yang terlalu kecil di hadapan Tuhan.
Senyuman kepada orang yang sedih.
Mengunjungi orang sakit.
Memaafkan anggota keluarga.
Mendengarkan mereka yang sedang terluka.
Semuanya bernilai besar di hadapan Allah.
Inilah pesan penting dalam renungan Injil Matius 18:1-5.10.12-14.
Refleksi Sabda Tuhan
Hari ini kita dapat bertanya kepada diri sendiri.
Apakah aku masih mencari pengakuan manusia?
Apakah aku menghargai orang-orang sederhana di sekitarku?
Apakah aku berani hidup rendah hati seperti Santa Klara?
Apakah aku percaya bahwa Allah tetap mencari ketika aku tersesat?
Apakah aku mau menjadi alat kasih bagi mereka yang kecil dan terlupakan?
Semoga pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pintu pertobatan yang nyata.
Teladan Santa Klara untuk Kehidupan Kita
Santa Klara mengajarkan beberapa nilai yang tetap relevan hingga sekarang.
Hidup sederhana
Kesederhanaan membuat hati lebih bebas mencintai Allah.
Percaya pada penyelenggaraan Tuhan
Ia hidup tanpa rasa takut karena percaya Tuhan selalu mencukupi.
Setia dalam doa
Doa menjadi sumber kekuatan menghadapi segala tantangan.
Melayani dengan kasih
Kasih yang kecil tetapi dilakukan setiap hari menghasilkan buah besar.
Rendah hati
Semakin dekat dengan Tuhan, semakin seseorang tidak mencari kemuliaan diri.
Doa Penutup
Ya Tuhan Yesus,
Engkau mengajarkan kami bahwa yang terbesar dalam Kerajaan Surga adalah mereka yang memiliki hati seperti anak kecil.
Sering kali kami masih mencari penghargaan manusia, mengejar kebanggaan diri, dan lupa bahwa Engkau memanggil kami untuk melayani dengan rendah hati.
Melalui teladan Santa Klara dari Asisi, ajarlah kami mencintai kesederhanaan, mengandalkan penyelenggaraan-Mu, serta menghargai setiap orang sebagai anak-anak-Mu yang terkasih.
Ketika kami merasa tersesat, carilah kami seperti gembala yang baik. Ketika kami jatuh, bangkitkan kami dengan belas kasih-Mu. Ketika kami berhasil, jauhkanlah kami dari kesombongan.
Semoga hidup kami menjadi kesaksian akan kasih-Mu sehingga semakin banyak orang mengalami damai dan sukacita dalam Engkau.
Santa Klara dari Asisi, doakanlah kami.
Amin.
Penutup
Renungan Katolik hari ini mengingatkan bahwa ukuran kebesaran menurut Allah sangat berbeda dengan ukuran dunia. Menjadi kecil bukan berarti tidak berharga, melainkan membuka hati agar Allah berkarya sepenuhnya dalam hidup kita. Santa Klara telah membuktikan bahwa kerendahan hati, kesederhanaan, dan kasih mampu mengubah dunia lebih dalam daripada kekuasaan atau kekayaan.
Semoga renungan harian Katolik ini menolong kita semakin menghidupi refleksi Sabda Tuhan dan menjadikan renungan Injil Matius 18:1-5.10.12-14 sebagai pedoman dalam melayani dengan rendah hati setiap hari. (Sumber the katolik.com/kgg).