Fakta-Fakta Pelaku Mutilasi di Depok: Saepul Ikut 5 Grup LBGT
Firmauli Sihaloho August 10, 2026 12:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM - Polisi masih mendalami latar belakang Saepullah alias Saepul (26), tersangka kasus pembunuhan yang disertai mutilasi terhadap Kunaefi (51) di Depok, Jawa Barat.

Dalam proses penyelidikan, aparat menemukan fakta bahwa Saepul diketahui aktif di sejumlah grup media sosial.

Sedikitnya terdapat lima grup yang diikuti tersangka di berbagai platform, termasuk Facebook dan WhatsApp.

Keberadaan Saepul di sejumlah grup tersebut turut menjadi perhatian penyidik. Informasi mengenai aktivitasnya di media sosial kini dikaji untuk mengungkap lebih jauh kehidupan pribadi, lingkungan pergaulan, hingga kemungkinan motif di balik aksi pembunuhan tersebut.

Katimsus 2 Resmob Polda Metro Jaya Ipda Breggy Yesaya Imanuel Sutijono mengatakan, penyidik masih menelusuri aktivitas Saepul di grup-grup tersebut.

Menurut Breggy, keterlibatan tersangka dalam sejumlah grup LGBT menjadi salah satu temuan yang diperoleh selama proses pendalaman.

Polisi menyebut hingga kini terdapat sedikitnya lima grup yang masih ditelusuri aktivitas dan keterkaitannya dengan tersangka.

Meski demikian, informasi mengenai keanggotaan Saepul dalam grup media sosial tersebut merupakan bagian dari penyidikan yang masih berlangsung.

Temuan tersebut juga tidak serta-merta membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara aktivitas tersangka di media sosial dengan tindak pidana yang dilakukannya.

Polisi masih terus mendalami berbagai informasi untuk mengungkap secara utuh latar belakang dan motif di balik pembunuhan terhadap Kunaefi.

Baca juga: Sepekan Kebakaran Gambut di Kerumutan, Ini Luas Lahan Gambut yang Hangus di 2 Lokasi

Baca juga: 1,3 Ton Ketamin Disembunyikan Dalam Kompartemen di Anjungan MV King Sun Digagalkan di Kepri

Berkenalan dengan Korban Lewat Media Sosial

Penyidik juga mengungkap bahwa Saepul dan Kunaefi sebelumnya berkenalan melalui media sosial.

Keduanya kemudian sepakat bertemu di kontrakan Saepul pada 23 Juli 2026.

Pertemuan tersebut berubah menjadi cekcok hingga berujung pada tewasnya Kunaefi.

Setelah itu, jasad korban dimutilasi dan dibuang menggunakan karung.

Jasad Kunaefi kemudian ditemukan warga di kawasan Tanah Merah, Kapling Depkes, Pancoran Mas, Depok, pada 4 Agustus 2026.

Sehari setelah penemuan jasad, polisi menangkap Saepul yang diketahui melarikan diri ke Pandeglang, Banten.

Pernah Jadi Pemotong Daging

Selain mengungkap aktivitas Saepul di media sosial, polisi juga menelusuri latar belakang pekerjaan tersangka.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Saepul mengaku pernah bekerja sebagai koki di sebuah restoran.

Salah satu tugasnya adalah memotong daging.

Ia juga mengaku pernah menjadi guru matematika di tingkat sekolah menengah pertama.

Tidak berhenti di situ, Saepul disebut pernah mengikuti ajang musik dangdut yang ditayangkan salah satu stasiun televisi.

"Untuk profesi pelaku sendiri, dia mengaku pernah bekerja sebagai koki di sebuah restoran (bagian pemotong daging). Dan juga sempat berprofesi menjadi guru matematika di sekolah menengah pertama. Pelaku juga mengaku sempat ikut event musik dangdut di salah satu siaran televisi," ujar Breggy.

Polisi menduga pengalaman Saepul sebagai pemotong daging berkaitan dengan cara tersangka memutilasi jasad korban.

Namun, dugaan tersebut masih menjadi bagian dari proses penyidikan dan harus dibuktikan berdasarkan alat bukti yang dimiliki penyidik.

Terancam Hukuman Mati

Dalam kasus ini, Saepul dijerat Pasal 459 dan/atau Pasal 458 KUHP terkait pembunuhan berencana dan/atau pembunuhan.

Ancaman hukumannya sangat berat, yakni pidana mati atau penjara seumur hidup sesuai pasal yang diterapkan penyidik.

Polisi masih terus mendalami motif, rangkaian peristiwa, serta seluruh aktivitas Saepul sebelum dan setelah pembunuhan.

Penyidik juga masih mengumpulkan alat bukti untuk mengungkap secara utuh bagaimana pertemuan antara Saepul dan Kunaefi berakhir menjadi pembunuhan hingga mutilasi.

Dikenal Sosok yang Sopan

Pria berusia 26 tahun itu diketahui bekerja sebagai penjaga stan Pisang Coklat (Piscok) Selamat Pagi di kawasan Stasiun Pondok Cina, Depok.

Ia mulai bergabung sebagai karyawan sejak Mei 2026 dan menjalankan pekerjaannya seperti pegawai pada umumnya.

Selama bekerja, Saepul disebut tidak pernah menunjukkan sikap yang membuat atasannya merasa waspada.

Bos Piscok Selamat Pagi, Dwi Purwadi, mengaku mengenal Saepul sebagai pribadi yang santun dan mudah bergaul dengan lingkungan kerja.

Menurut Dwi, tersangka juga dikenal berbicara dengan sopan kepada siapa pun, baik secara langsung maupun melalui pesan singkat.

Bahkan, Dwi mengaku sempat menilai Saepul sebagai sosok pemuda yang memiliki kesan agamais dalam kesehariannya.

"Kata-katanya (Saepul) juga selama saya dengar bukan yang kata-kata kotor banget. Bukan yang toxic banget kayak gitu loh. Even kalau dia kaget pun kata-katanya yang ke agamis, kayak Allahu Akbar gitu. Bahkan di chat pun dia masih termasuk yang sopan ya pakai assalamualaikum mas, kayak gitu," akui Dwi.

Meski demikian, menjelang peristiwa yang kemudian menggemparkan publik, Dwi mulai mengingat adanya perubahan perilaku pada diri Saepul.

Perubahan tersebut pertama kali terlihat pada 22 Juli 2026 ketika Saepul tiba-tiba meminta izin tidak masuk kerja.

Saat itu, Saepul menyampaikan kepada atasannya bahwa dirinya akan mengikuti proses wawancara kerja di sebuah gerai makanan di kawasan Margo City.

"Pas tanggal 22 Juli itu pagi dia bilang ada interview di food court Margo City. Posisinya itu nasi goreng ya (lowongan jadi pegawai)," ujar Dwi.

Penjelasan tersebut awalnya tidak menimbulkan kecurigaan karena dianggap sebagai hal yang wajar bagi seseorang yang ingin mencari peluang pekerjaan baru.

Namun, situasi berubah hanya sehari setelahnya ketika Saepul kembali menghubungi atasannya.

Pada 23 Juli 2026, ia secara tiba-tiba mengirimkan pesan yang berisi keinginan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Keputusan tersebut membuat Dwi merasa heran karena tidak pernah ada tanda-tanda ketidaknyamanan selama Saepul bekerja di stan piscok miliknya.

Apalagi, Saepul disebut tidak memberikan alasan yang jelas mengapa ingin berhenti bekerja secara mendadak.

Dwi juga mengungkapkan bahwa saat itu Saepul masih memiliki utang kasbon kepada perusahaan sebesar Rp200 ribu yang belum diselesaikan.

Sejak mengirimkan pesan pengunduran diri tersebut, Saepul tidak pernah lagi terlihat datang ke tempat kerjanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.