Tribunlampung.co.id, Pringsewu – Sanggar Seni Merah Putih di Pekon Tulung Agung, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, mengembangkan kesenian Jawa sekaligus mengenalkan budaya Lampung melalui berbagai pertunjukan seni.
Baca Juga: Hasil Temuan Tim Gabungan Saat Lakukan Razia Tempat Hiburan Malam di Pringsewu
Sanggar yang berdiri sejak 2018 tersebut awalnya mengembangkan kesenian Jawa, terutama karawitan dan kuda kepang.
Hal itu tidak terlepas dari kondisi masyarakat Pekon Tulung Agung yang mayoritas merupakan keturunan Jawa.
Ketua Sanggar Seni Merah Putih, Eka Bima Prasetya mengatakan, pihaknya kemudian memperluas kegiatan dengan mengembangkan kesenian Lampung, salah satunya gamolan.
“Awalnya kami memang dari karawitan, karena di sini mayoritas Jawa. Tapi semakin ke sini kami mengembangkan, salah satunya gamolan Lampung,” kata Eka, Senin (10/8/2026).
Pengembangan tersebut dilakukan dengan membuat kolaborasi antara musik Jawa dan Lampung.
Gamelan Jawa dipadukan dengan gamolan Lampung dalam sejumlah karya yang ditampilkan para anggota sanggar.
Menurut Eka, proses pembuatan satu karya kolaborasi membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan.
Proses tersebut meliputi penyusunan konsep, komposisi dan latihan.
Tantangan utama dalam proses tersebut adalah menyatukan dua jenis musik yang memiliki karakter dan pakem berbeda tanpa menghilangkan ciri khas masing-masing.
Selain melalui musik, unsur budaya Lampung juga ditampilkan melalui kostum pertunjukan.
Merita Suci Triasi, yang menangani bidang kostum dan tata rias Sanggar Seni Merah Putih, mengatakan pihaknya pernah memadukan sejumlah unsur budaya dalam satu pertunjukan, seperti Jawa, Lampung, Bali, Batak dan Sunda.
Untuk unsur Lampung, mereka menggunakan kain tapis sebagai bagian dari kostum penari.
“Yang kita tonjolkan dari Lampung itu tapis. Yang laki-laki pakai selempang dari potongan tapis Lampung,” ujar Merita.
Sanggar Seni Merah Putih terbentuk setelah Pekon Tulung Agung menggelar kegiatan memperingati satu abad berdirinya pekon pada 2018.
Saat itu sejumlah kelompok seni seperti hadroh, keroncong, band, dangdut, kuda kepang dan wayang kulit digabungkan dalam sebuah pertunjukan.
Setelah kegiatan tersebut, para perwakilan kelompok seni sepakat membentuk wadah bersama yang kemudian diberi nama Sanggar Seni Merah Putih.
Saat ini, sanggar tersebut memiliki hampir 150 anggota.
Semua tidak hanya berasal dari Pekon Tulung Agung, tetapi juga dari sejumlah daerah lain, termasuk Kabupaten Tanggamus dan Pesawaran.
Selain mengembangkan kesenian, Sanggar Seni Merah Putih juga melakukan regenerasi dengan melibatkan anak-anak dan remaja dalam kegiatan seni.
Wakil Ketua Sanggar Seni Merah Putih, Dwi Prasetyo, mengatakan mayoritas peserta tari merupakan pelajar SD dan SMP, sedangkan peserta paling dewasa berada di tingkat SMA.
Menurut Dwi, salah satu tantangan dalam membina peserta usia anak-anak adalah membangun kedisiplinan agar mereka mengikuti latihan secara rutin.
“Anak-anak kan masih anak-anak. Kita pelan-pelan membentuk kebiasaan, disiplinnya itu yang perlu,” ujarnya.
Regenerasi di sanggar mulai berjalan dengan melibatkan peserta yang sebelumnya belajar sebagai pelatih.
Dirinya mengatakan saat ini terdapat sekitar enam hingga tujuh orang yang membantu melatih tari.
Para peserta juga diberikan pelatihan tata rias agar mampu mempersiapkan diri secara mandiri sebelum tampil.
“Paling tidak mereka bisa makeup sendiri. Jadi tidak cuma bergantung pada satu atau dua orang yang makeup-in mereka,” katanya.
Selain keterampilan seni, peserta juga diberikan pembelajaran mengenai unggah-ungguh dan sopan santun.
“Di Sanggar Seni Merah Putih tidak cuma belajar seni dan budaya, tapi juga belajar unggah-ungguh, sopan santun, bagaimana anak-anak bisa jadi anak yang baik,” ujarnya.
Dalam menjalankan kegiatan, Sanggar Seni Merah Putih mendapat dukungan dari pemerintah pekon dan pemerintah daerah.
Dukungan tersebut membuat sanggar secara bertahap memiliki sejumlah peralatan seni sendiri.
Namun, sanggar masih membutuhkan tempat latihan khusus. Saat ini kegiatan latihan masih menggunakan fasilitas desa yang berada di lingkungan permukiman.
Pihaknya berharap Sanggar Seni Merah Putih dapat memiliki tempat latihan sendiri, termasuk fasilitas yang dapat mengurangi suara latihan agar tidak mengganggu warga sekitar.
“Kami ingin punya tempat latihan khusus di Pekon Tulung Agung, seperti teman-teman sanggar di Jogja dan Solo yang punya tempat latihan kedap suara,” katanya.
(Tribunlampung.co.id/Oky Indrajaya)