Ratusan Mangrove Mati di Hutan Petengoran, Pemerintah Diminta Segera Turun Tangan
Reny Fitriani August 10, 2026 02:19 PM

Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Ratusan batang mangrove ditemukan mati di kawasan konservasi Hutan Mangrove Petengoran, Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung yang dilaporkan oleh warga setempat pada 8 Agustus 2026. 

Baca Juga: Dugaan Keracunan MBG di Pesawaran, Hasil Labkesda Sudah Keluar, Uji BBPOM Masih Ditunggu

Salah seorang warga Desa Gebang, Tony Yunizar mengatakan, jumlah mangrove yang mati terlihat cukup banyak sehingga perlu segera diperiksa oleh instansi terkait.

Kerusakan tersebut ditemukan di sejumlah titik, termasuk kawasan yang berbatasan langsung dengan tambak udang.

Kondisi itu menjadi perhatian warga karena Hutan Mangrove Petengoran merupakan kawasan konservasi yang juga dikembangkan sebagai ekowisata serta menjadi lokasi penelitian mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi.

Batang-batang mangrove terlihat mengering dan mati. 

Tony meminta pemerintah segera melakukan pengecekan untuk mengetahui penyebab kematian mangrove tersebut serta memastikan kerusakan tidak meluas.

"Kami melihat banyak mangrove yang mati. Ini kawasan konservasi, jadi kami berharap pemerintah turun langsung melihat kondisi di lapangan dan mencari tahu penyebabnya," kata Tony kepada Tribun Lampung, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, kematian mangrove perlu menjadi perhatian serius karena tanaman tersebut memiliki fungsi penting bagi ekosistem pesisir dan masyarakat sekitar.

Ia juga menyoroti lokasi mangrove yang berbatasan dengan tambak udang. 

Menurutnya, kondisi saluran air, kualitas lingkungan, aktivitas di sekitar kawasan, hingga kemungkinan faktor lainnya perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab kematian mangrove.

Meski demikian, dirinya menilai penyebab kematian mangrove tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan kondisi yang terlihat di lapangan. 

Diperlukan pemeriksaan dan kajian dari yang berwenang agar penyebabnya dapat diketahui secara objektif.

Dalam dokumentasi yang diperoleh, disebutkan kematian mangrove tersebut diduga telah berlangsung cukup lama dan terjadi secara bertahap. 

Bahkan, temuan warga baru dilaporkan sekitar dua hingga tiga hari sebelum informasi tersebut disampaikan, sementara kematian mangrove diperkirakan telah terjadi dalam kurun lima hingga enam bulan. 

Dirinya tersebut juga disebut adanya indikasi penumpukan material limbah di salah satu titik. 

Material yang menumpuk disebut menutupi bagian akar mangrove sehingga diduga dapat mengganggu proses pernapasan tanaman. 

Namun, dugaan tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut. 

Selain itu, terdapat dugaan bahwa kematian mangrove berkaitan dengan aktivitas pengembangan lahan untuk tambak. 

Dugaan tersebut, katanya juga belum dapat dipastikan dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

"Saya juga tidak mengatakan bahwa ini faktor dari itu, cuma indikasinya ada ke sana. Tapi sekali lagi ini perlu kajian seperti apa hasilnya karena perlu tindak lanjut yang sangat serius, tidak bisa juga kita hanya tebak-menebak,” ungkapnya.

Tony berharap Dinas terkait Provinsi Lampung segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi. 

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui luas kawasan yang terdampak, jumlah mangrove yang mati, serta kondisi mangrove yang masih bertahan.

Tony juga berharap perhatian diberikan pemerintah pusat melalui kementerian yang memiliki kewenangan di bidang kehutanan dan lingkungan hidup.

Menurutnya, penanganan kerusakan mangrove tidak cukup hanya dengan melakukan penanaman kembali. Penyebab kematian harus diketahui dan ditangani terlebih dahulu agar mangrove yang ditanam nantinya tidak kembali mengalami kerusakan.

“Kalau hanya ditanam lagi tetapi penyebab kematiannya tidak diselesaikan, kami khawatir akan mati lagi. Yang penting sekarang pemerintah turun dan melihat langsung,” pungkas Tony.

(Tribunlampung.co.id/Oky Indrajaya)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.