SURYA.co.id, SURABAYA - Upaya meningkatkan kualitas generasi mendatang tidak cukup dimulai ketika anak lahir.
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mulai mendorong penelitian yang melihat perkembangan manusia jauh lebih awal, yakni sejak masa prakonsepsi hingga berada di dalam kandungan.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui rencana pembentukan Pusat Studi Perkembangan Otak dan Kapasitas Kognitif Sejak dalam Rahim.
Pusat studi ini nantinya diarahkan menjadi wadah penelitian multidisiplin yang mengkaji perkembangan otak dan kapasitas kognitif manusia sejak masa prakonsepsi, kehamilan hingga tumbuh kembang anak.
Baca juga: Kuliah Tamu di Unusa, Prof Delvac Asal Manchester Soroti Riset Kesehatan Berdampak
Gagasan tersebut mengemuka dalam Guest Lecturer bertajuk "Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment" di Auditorium Lantai 9 Kampus B Unusa, Senin (10/8/2026).
Dr. dr. Hermanto Tri Joewono, Sp.OG., Subsp.KFM, mengatakan pembangunan kualitas manusia selama ini banyak dikaitkan dengan periode setelah kelahiran.
Padahal, berbagai proses penting dalam perkembangan sistem saraf telah berlangsung sejak masa prenatal.
Karena itu, kehamilan menurutnya perlu dipandang bukan sekadar sebagai masa menunggu kelahiran, tetapi sebagai periode penting yang dapat menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan perkembangan anak.
"Kita jangan lupa bahwa kapasitas kognitif juga harus menjadi perhatian. Perkembangan otak sudah berlangsung sejak dalam kandungan, sehingga periode ini perlu kita pahami dan optimalkan," ujar Hermanto.
Ia menilai perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak selama ini memang telah mencakup sejumlah persoalan besar, seperti preeklamsia, perdarahan pascapersalinan, kelahiran prematur dan stunting.
Namun, menurut Hermanto, aspek perkembangan otak dan kapasitas kognitif juga perlu mendapatkan porsi lebih besar dalam penelitian kesehatan.
"Rahim bukan sekadar ruang tunggu bagi bayi. Di dalam rahim terjadi proses perkembangan dan interaksi yang dapat dipengaruhi oleh kondisi ibu. Karena itu, ada ruang untuk melakukan optimalisasi," katanya.
Hermanto menjelaskan, kondisi ibu selama kehamilan dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perkembangan janin.
Karena itu, kesehatan ibu, pemenuhan nutrisi serta lingkungan selama kehamilan perlu dilihat sebagai bagian dari investasi jangka panjang terhadap kualitas generasi.
Bahkan, perhatian tersebut idealnya dimulai sebelum kehamilan atau pada masa prakonsepsi.
Calon ibu dan ibu hamil perlu mendapatkan asuhan yang memadai, termasuk pemenuhan kebutuhan nutrisi yang mendukung perkembangan janin.
Salah satu aspek yang dapat diteliti adalah nutrisi, termasuk asam lemak omega-3 seperti DHA yang diketahui memiliki peran dalam perkembangan otak.
Selain nutrisi, faktor lingkungan selama kehamilan juga membuka ruang penelitian. Salah satunya melalui stimulasi auditori, termasuk penggunaan musik.
Menurut Hermanto, masih terdapat banyak ruang untuk mengembangkan penelitian mengenai perkembangan otak manusia sejak fase intrauterin.
"Karena itu, perlu ada pusat studi yang secara khusus mengkaji perkembangan otak dan kapasitas kognitif manusia sejak dalam rahim," tegasnya.
Pusat studi yang direncanakan Unusa tidak akan berdiri hanya pada satu bidang keilmuan.
Penelitian akan diarahkan untuk mempertemukan berbagai disiplin, mulai kesehatan ibu, perkembangan janin, nutrisi, perkembangan otak hingga tumbuh kembang anak.
Pendekatan multidisiplin dinilai penting karena perkembangan manusia merupakan persoalan kompleks yang tidak dapat dijelaskan hanya dari satu perspektif.
Rencana tersebut mendapat dukungan Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono.
Ia mengatakan pengembangan riset perkembangan otak sejak dalam kandungan dapat menjadi salah satu bagian penting dalam penguatan ekosistem riset kesehatan di Unusa.
Pengembangan tersebut juga akan dikaitkan dengan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi yang baru dibuka.
"PPDS Obstetri dan Ginekologi Unusa akan menjadi salah satu pusat pengembangan riset mengenai perkembangan otak manusia sejak dalam kandungan," ujar Prof. Tri Yogi.
Prof. Tri Yogi menilai penelitian mengenai perkembangan saraf sejak awal kehidupan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin.
Ilmu kedokteran perlu bertemu dengan teknologi, sains data, kecerdasan buatan, teknik biomedis hingga teknologi pencitraan.
Menurut dia, kemajuan teknologi dapat membantu peneliti dan tenaga medis memahami mekanisme penyakit, melakukan deteksi lebih dini serta mengembangkan intervensi yang lebih tepat.
"Jika dokter memetakan otak manusia, insinyur memetakan jaringan yang menghubungkan dunia. Hari ini, kedua bidang tersebut harus bersatu untuk menjawab persoalan kesehatan yang semakin kompleks," katanya.
Dengan latar belakang sebagai insinyur, Prof. Tri Yogi melihat dunia kedokteran dan teknik memiliki kesamaan dalam hal penyelesaian masalah.
Keduanya dapat dipertemukan melalui riset dan inovasi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Prof. Tri Yogi juga mendorong mahasiswa dan dosen Unusa menjadikan berbagai persoalan kesehatan sebagai peluang untuk menghasilkan penelitian dan inovasi.
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori.
Pengetahuan yang dimiliki harus diterjemahkan menjadi penelitian yang mampu menjawab persoalan nyata.
Rencana pembentukan pusat studi perkembangan otak sejak dalam rahim diharapkan menjadi salah satu langkah Unusa memperluas riset kesehatan sekaligus membangun kolaborasi lintas disiplin.
Guest Lecturer tersebut menghadirkan Prof. Delvac Oceandy, MD., Ph.D dari The University of Manchester dan Prof. Dr. dr. Soedarsono, Sp.P(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya.