SURYA.co.id, SURABAYA - Seorang pelajar SMP negeri di Kota Surabaya diduga menjadi korban perampasan ponsel dengan modus gendam saat menunggu jemputan sepulang sekolah.
Pelajar laki-laki berusia 13 tahun itu diduga dibawa berkeliling menggunakan sepeda motor oleh seorang pria yang menghampirinya di kawasan Jalan Mulyorejo, Surabaya, Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.
Setelah dibawa ke sejumlah lokasi, korban diturunkan di depan sebuah rumah di kawasan Jalan Dharmahusada Indah Utara Blok U. Di tempat itu, ponsel miliknya diminta oleh pelaku.
Pihak keluarga menduga korban berada dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar setelah mengikuti ajakan pelaku.
Ayah korban, Agung Bayu Wibowo (49), mengatakan anaknya saat itu tengah menunggu jemputan dari ibunya sepulang sekolah.
Awalnya, korban menunggu di depan pagar sekolah. Namun, kemudian ia berpindah ke sisi jalan.
Di lokasi tersebut, seorang pria yang mengendarai sepeda motor menghampiri korban.
Menurut Agung, pria tersebut kemudian mengajak anaknya melihat sebuah kecelakaan yang disebut terjadi di ujung jalan.
Baca juga: Modus Baru di Surabaya: Maling Kursi Besi Taman Pakai Mobil Ambulans Biar Tak Dicurigai
Korban lantas mengikuti ajakan tersebut dan naik ke sepeda motor pelaku.
"Awalnya anak saya sedang menunggu jemputan. Kemudian pelaku menghampiri dan mengajak melihat kecelakaan di ujung jalan. Anak saya akhirnya ikut naik motor," ujar Agung saat dikonfirmasi SURYA.co.id, Senin (10/8/2026).
Bukannya menuju lokasi kecelakaan, korban justru dibawa berkeliling ke sejumlah tempat.
Agung mengatakan anaknya dibawa melewati kawasan depan RS Unair Surabaya hingga kemudian berhenti di depan sebuah rumah besar di Jalan Dharmahusada Indah Utara Blok U.
Di lokasi tersebut, korban diminta turun dari motor.
Pelaku kemudian meminta ponsel Infinix Hot 50 milik korban.
Saat mengetahui ponsel dalam kondisi terkunci, pelaku meminta korban membuka kunci layar.
Setelah ponsel berhasil dibuka, pelaku membawanya pergi dan meninggalkan korban sendirian.
"Di depan rumah besar itu anak saya diturunkan. Setelah itu, HP-nya diminta. Ketika diketahui masih terkunci, anak saya disuruh membuka password. Setelah HP terbuka, pelaku langsung membawanya pergi," tutur Agung.
Ponsel tersebut ditaksir bernilai sekitar Rp2 jutaan dan sehari-hari digunakan korban untuk mendukung kegiatan belajar serta berkomunikasi dengan orangtuanya.
Setelah pelaku pergi, korban tidak langsung pulang. Ia justru berada dalam kondisi linglung di depan rumah tersebut.
Seorang satpam perumahan kemudian menemukan dan membantu korban.
Selanjutnya, korban dibantu warga sekitar hingga akhirnya diantar pulang.
Agung mengatakan kondisi anaknya saat itu terlihat seperti setengah sadar dan mengeluhkan pusing.
"Setelah kejadian, anak saya terlihat linglung dan mengaku kepalanya pusing. Karena itu, kami menduga ada modus gendam yang membuat dia mudah mengikuti pelaku," jelasnya.
Agung mengatakan dugaan tersebut masih berdasarkan kondisi yang dialami anaknya setelah kejadian dan informasi yang diterima keluarga.
Agung menyebut pelaku diperkirakan berusia sekitar 56 tahun dengan postur tubuh tegap dan berkumis.
Warna kulit pelaku disebut cokelat sawo matang. Tingginya diperkirakan sekitar 168 sentimeter.
Saat kejadian, pelaku disebut mengenakan jaket dengan motif atau warna putih-biru serta menggunakan helm yang tidak ditutup penuh. Pelaku juga tidak mengenakan masker.
Kendaraan yang digunakan berupa sepeda motor jenis bebek yang diduga Honda Supra.
"Pelaku diperkirakan berusia sekitar 56 tahun, tubuhnya tegap, berkumis, dengan tinggi sekitar 168 sentimeter. Saat itu memakai jaket putih-biru dan helmnya tidak ditutup. Pelaku juga tidak memakai masker," ungkap Agung.
Keluarga korban kemudian mendapat informasi dari sejumlah tetangga bahwa pria dengan ciri-ciri serupa diduga pernah melakukan aksi di kawasan Jalan Mulyorejo Utara.
Menurut Agung, informasi tersebut menyebut kejadian serupa telah berlangsung sejak awal 2026.
Dua perempuan disebut pernah menjadi korban. Salah satunya kehilangan ponsel, sedangkan korban lainnya kehilangan sejumlah perhiasan, seperti anting dan gelang.
"Informasi dari warga, kejadian serupa sudah pernah terjadi sekitar tiga sampai empat bulan lalu di Jalan Mulyorejo Utara. Ada yang kehilangan HP dan ada juga yang kehilangan perhiasan. Modusnya diduga serupa," katanya.
Meski demikian, informasi mengenai dugaan keterkaitan antara kasus-kasus tersebut masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan kepolisian.
Kasus yang dialami pelajar tersebut telah dilaporkan kepada kepolisian.
Kanit Reskrim Polsek Mulyorejo Polrestabes Surabaya AKP Djoko Soesanto membenarkan laporan tersebut telah diterima pihaknya.
Polisi kini masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan memastikan kronologi serta modus dalam kejadian tersebut.
"Laporan sudah diterima. Saat ini masih dalam proses penyelidikan. Mohon waktu," ujar Djoko.