Laporan Wartawan TribunJatim.com, Mohammad Romadoni
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Krisis air bersih kembali dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, saat musim kemarau.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, pemerintah daerah terus mengirimkan bantuan air bersih ke desa-desa yang terdampak.
Sebanyak 300 tangki air bersih disalurkan ke tiga wilayah terdampak kekeringan, yakni Desa Kunjorowesi dan Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, serta Dusun/Desa Duyung, Kecamatan Trawas.
Bantuan tersebut menjadi langkah penanganan darurat pemerintah untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pasokan air bersih selama musim kemarau.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai menyiapkan solusi jangka panjang melalui pembangunan jaringan pipanisasi.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan, dalam penanganan kedaruratan bencana kekeringan, bantuan air bersih akan terus disuplai pemerintah daerah sesuai petunjuk Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa (Gus Barra).
"Terkait air bersih, BPBD berkolaborasi dengan Pemprov Jatim mendapatkan bantuan drooping air bersih setiap hari sampai September 2026. Nanti jika sudah bantuan dari Provinsi sudah selesai, dilanjutkan oleh BPBD Kabupaten Mojokerto," ujar Rinaldi, Senin (10/8/2026).
Baca juga: Pengguna KA di Stasiun Mojokerto Naik Tipis Selama Juli 2026
Penanganan krisis air bersih di Mojokerto tidak hanya mengandalkan pemerintah daerah. Rinaldi mengatakan distribusi bantuan juga melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Pemprov Jatim, perusahaan swasta hingga kelompok masyarakat.
Menurut Rinaldi, kolaborasi tersebut diperlukan untuk menjaga pasokan air bersih bagi masyarakat selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
"Kemudian juga sudah masuk bantuan dari beberapa instansi lain (Perusahaan) dan lembaga kelompok masyarakat," jelasnya.
Bantuan tangki air tersebut menjadi penanganan jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan warga yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air selama musim kemarau.
Namun, pemerintah menyadari distribusi air menggunakan tangki belum menjadi solusi permanen. Karena itu, pembangunan jaringan perpipaan mulai dikaji untuk mengatasi persoalan kekeringan yang berulang.
Rinaldi menjelaskan, penanganan permanen dilakukan melalui kolaborasi Pemkab Mojokerto dan Pemprov Jatim. Salah satu rencana yang disiapkan adalah pipanisasi dari sumber air di Trawas menuju Desa Kunjorowesi dan Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro.
Kajian di lapangan terkait rencana tersebut telah dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto.
"Bisa dicek di sana (Bappeda), namun setahu kami permasalahan yang ada yaitu pipa melewati wilayah Kabupaten Pasuruan sehingga butuh ada komitmen perjanjian kerja sama antar dua daerah," ungkap Rinaldi.
Kondisi tersebut membuat pembangunan jaringan perpipaan membutuhkan koordinasi lintas wilayah. Pemerintah perlu menyepakati kerja sama antara Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan sebelum pembangunan dapat dilakukan.
Sementara untuk penanganan kekeringan di Desa Duyung, pemerintah desa sebenarnya telah memiliki sumber mata air yang dapat dimanfaatkan. Sumber tersebut berasal dari Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.
Namun, pembangunan jaringan perpipaan masih terkendala anggaran.
"Sehingga sekarang kami sedang mencarikan bantuan Desa Duyung, untuk bisa melaksanakan program pipanisasi. Kami mencoba mendorong, ke pusat harapannya bisa mendapatkan bantuan pipanisasi untuk Desa Duyung," pungkasnya.
Pipanisasi diharapkan dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap bantuan air bersih menggunakan tangki setiap kali musim kemarau tiba.
Bagi warga Desa Kunjorowesi, persoalan air bersih bukan masalah baru. Setiap musim kemarau, masyarakat harus menghadapi keterbatasan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu warga terdampak, Imroatus (34), mengatakan krisis air bersih telah dirasakan warga di Dusun Kandangan selama hampir tiga bulan.
"Memang tidak air di sini, apalagi pas musim kemarau. Kalau pas musim hujan airnya ambil dari tadah hujan disimpan dalam wadah tandon. Musim hujan atau normal ada air dari pipa Trawas itupun kecil dan bergantian setiap 11 hari sekali dengan warga sini," bebernya.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengandalkan berbagai sumber air yang tersedia. Saat musim hujan, air ditampung dari tadah hujan. Sementara ketika kondisi normal, warga masih mendapatkan aliran dari pipa Trawas, meski debitnya kecil dan distribusinya dilakukan secara bergiliran.
Imroatus berharap persoalan ketersediaan air bersih yang telah berlangsung bertahun-tahun dapat segera mendapatkan solusi permanen.
"Semoga permasalahan kebutuhan air bersih setiap hari di desa kami segera bisa teratasi, kami sangat berharap dengan pemerintah ini. Meksipun aliran kecil, yang penting ada apalagi kita kesulitan air saat musim kemarau," ucap Imroatus saat dijumpai di lokasi.
Di tengah keterbatasan sumber air, bantuan tangki dari Pemkab Mojokerto menjadi salah satu tumpuan warga Kunjorowesi.
Imroatus menyebut bantuan air bersih telah dikirim setiap hari dengan sistem pembagian secara bergantian. Air tersebut disalurkan ke sejumlah tandon yang digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dirinya bersyukur pemerintah daerah masih memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak krisis air bersih di Desa Kunjorowesi.
"Dapat bantuan drooping air bersih dari Pemkab Mojokerto, setiap hari tapi giliran per RT dan sebagian untuk musala di sini. Pengirimannya di setiap tandon, dan selalu ada setiap hari," tandasnya.
Bagi warga, distribusi air bersih menjadi solusi penting selama musim kemarau. Namun, pembangunan pipanisasi diharapkan dapat menjadi jawaban atas persoalan yang terus berulang setiap tahun sehingga masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan tangki ketika kemarau datang.