TRIBUNNEWS.COM - Di tengah kesibukan mengejar pekerjaan, penghasilan, rumah, dan berbagai keinginan duniawi, tanpa disadari hati terkadang terlalu sibuk memikirkan apa yang ingin dimiliki.
Islam tidak melarang umatnya menikmati kehidupan dunia, tetapi mengingatkan agar kecintaan kepada dunia tidak membuat seseorang melupakan akhirat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, serta ajang berbangga-bangga dan berlomba dalam harta maupun anak.
Karena itu, seorang Muslim perlu memohon kepada Allah SWT agar hatinya tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW bahkan memuat permohonan, “Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai perhatian terbesar kami dan jangan pula menjadi batas akhir pengetahuan kami.” (HR. Tirmidzi)
Doa tersebut dapat menjadi pengingat agar kita tetap bekerja, berusaha, dan menikmati rezeki yang diberikan Allah, tetapi tidak sampai kehilangan arah dalam mempersiapkan kehidupan akhirat.
Allahumma aqsim lana min khasy-yatika ma tahulu bihi bainana wa baina ma‘ashika, wa min tha‘atika ma tuballighuna bihi jannataka, wa minal-yaqini ma tuhawwinu bihi ‘alaina mushibatid-dunya, wa matti‘na bi asma‘ina wa absharina wa quwwatina ma ahyaitana, waj‘alhul-waritsa minna, wa la taj‘al mushibatana fi dinina, wa la taj‘alid-dunya akbara hammina, wa la mablagha ‘ilmina, wa la tusallith ‘alaina man la yarhamuna.
Artinya: “Ya Allah, berilah kami bagian dari rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, berilah kami ketaatan yang mengantarkan kami kepada surga-Mu, dan berilah kami keyakinan yang meringankan musibah dunia yang menimpa kami. Berilah kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai perhatian terbesar kami dan jangan pula menjadi batas akhir pengetahuan kami, serta jangan Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak menyayangi kami.” (HR. Tirmidzi)
Baca juga: Doa agar Terhindar dari Penyesalan dan Kehinaan di Hari Kiamat
Untuk menjaga hati agar tidak terlalu terpaut pada kenikmatan dunia, Islam mengajarkan sejumlah sikap dan amalan yang dapat membantu seorang Muslim menempatkan kehidupan dunia secara proporsional.
Bukan berarti harus meninggalkan harta, pekerjaan, atau kesenangan duniawi, tetapi memastikan semuanya tidak membuat lalai dari Allah SWT dan kehidupan akhirat.
Berikut ini cara menghindari hubbud dunya menurut ajaran Islam:
Salah satu cara menjaga hati agar tidak berlebihan mencintai dunia adalah menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki di dunia pada akhirnya akan berakhir.
Harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan duniawi tidak bersifat kekal.
Allah SWT menggambarkan kehidupan dunia dalam QS. Al-Hadid ayat 20 sebagai permainan, kesenangan, perhiasan, kebanggaan, dan perlombaan memperbanyak harta serta anak yang pada akhirnya akan berlalu.
Kesadaran tersebut bukan berarti seseorang harus meninggalkan pekerjaan atau tidak boleh menikmati rezeki. Sebaliknya, seorang Muslim dianjurkan menggunakan apa yang dimilikinya untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.
Hubbud dunya dapat muncul ketika seseorang terlalu sibuk mengejar pencapaian dunia sampai melupakan tujuan hidup yang lebih besar.
Karena itu, setiap usaha sebaiknya diarahkan agar tidak hanya menghasilkan keuntungan duniawi, tetapi juga bernilai sebagai amal.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qasas ayat 77, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”
Ayat ini menunjukkan keseimbangan yaitu dunia tetap boleh dinikmati, tetapi akhirat harus menjadi orientasi utama.
Keinginan memiliki sesuatu sebenarnya merupakan hal yang wajar.
Namun, jika rasa cukup selalu bergantung pada bertambahnya uang, barang, atau status, hati akan terus merasa kurang.
Karena itu, Islam mengajarkan qanaah, yaitu merasa cukup terhadap rezeki yang diberikan Allah sambil tetap berusaha secara halal.
Rasulullah SAW bersabda, “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Muslim no. 1051).
Salah satu cara melatih hati agar tidak terlalu melekat pada harta adalah membiasakan diri mengeluarkan sebagian rezeki untuk orang lain.
Ketika seseorang belajar berbagi, ia menyadari bahwa harta bukan sekadar sesuatu yang harus dikumpulkan dan dinikmati sendiri, tetapi juga amanah yang dapat digunakan untuk membantu sesama.
Allah SWT bahkan memberikan gambaran besar tentang keutamaan berinfak dalam QS. Al-Baqarah ayat 261.
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Harta yang dibelanjakan di jalan Allah diibaratkan seperti sebutir benih yang menghasilkan tujuh bulir, dan setiap bulir memiliki seratus biji.
Rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih mahal, jabatan yang lebih tinggi, atau jumlah pengikut yang lebih banyak tidak selalu menunjukkan kemuliaan seseorang di sisi Allah.
Jika pencapaian dunia dijadikan ukuran utama kebahagiaan, seseorang akan mudah terjebak dalam perbandingan dan tidak pernah merasa cukup.
QS. Al-Hadid ayat 20 mengingatkan tentang kecenderungan manusia untuk saling membanggakan diri dan berlomba dalam memperbanyak harta serta anak.
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, saling bermegah-megahan di antara kamu, dan berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak. (Dunia) adalah seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian mengering, lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Hadid: 20)
Karena itu, penting untuk mengukur keberhasilan bukan hanya dari apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari seberapa besar ketakwaan dan manfaat yang dihasilkan.
Baca juga: Doa agar Selalu Qanaah, Pandai Bersyukur atas Rahmat Allah SWT
Mengingat kematian dapat membantu seseorang melihat dunia secara lebih proporsional.
Apa yang hari ini terasa sangat penting bisa jadi tidak lagi berarti ketika seseorang menyadari bahwa kehidupan dunia memiliki batas.
Rasulullah SAW juga mengajarkan agar seseorang menjalani dunia seperti orang asing atau seorang musafir.
Dalam HR. Bukhari no. 6416, Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah kamu di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.”
Pesan tersebut mengajarkan agar dunia tidak diperlakukan sebagai tempat tinggal yang kekal, melainkan sebagai perjalanan menuju kehidupan akhirat.
Hati yang terlalu sibuk mengejar dunia perlu diimbangi dengan aktivitas yang mengingatkan manusia kepada Allah.
Salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan menghadiri majelis ilmu dapat membantu seseorang kembali mengingat tujuan hidupnya.
Dengan memperbanyak ibadah, perhatian hati tidak hanya tertuju pada pekerjaan, uang, dan berbagai urusan dunia.
Dunia tetap dijalani dan diusahakan, tetapi hati tidak sepenuhnya bergantung kepadanya.
Lingkungan dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan.
Jika setiap hari seseorang berada dalam lingkungan yang menjadikan kekayaan, penampilan, popularitas, atau status sebagai ukuran keberhasilan, keinginan untuk mengejar hal-hal tersebut dapat semakin kuat.
Karena itu, memilih teman dan lingkungan yang baik juga menjadi bagian penting dalam menjaga hati.
Bergaul dengan orang-orang yang mengingatkan kepada Allah, gemar berbuat baik, dan tidak berlebihan mengejar dunia dapat membantu seseorang menjaga keseimbangan hidup.
Islam tidak memerintahkan umatnya menjadi miskin atau meninggalkan kehidupan dunia.
Justru QS. Al-Qasas ayat 77 mengajarkan agar manusia menggunakan apa yang Allah berikan untuk mencari kebahagiaan akhirat, sembari tetap menikmati bagian yang halal dari dunia.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)
Karena itu, bekerja, menabung, membeli rumah, memiliki kendaraan, atau membangun usaha bukanlah masalah selama semuanya diperoleh dengan cara halal dan tidak membuat seseorang melupakan kewajiban kepada Allah.
Yang perlu dihindari adalah ketika harta mulai menguasai hati dan menjadi tujuan yang mengalahkan kepentingan akhirat.
Baca juga: Doa agar Dijauhkan dari Sifat Berlebih-lebihan atau Ghuluw
Pada akhirnya, menjaga hati dari hubbud dunya bukan hanya persoalan kemauan manusia, tetapi juga membutuhkan pertolongan Allah.
Karena itu, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak doa agar dunia tidak menjadi pusat perhatian dan tujuan hidupnya.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)