SANGKOT Mujahit membaca buku tebal bersampul terang dengan gambar-gambar yang meriah, Harry Potter and the Deathly Hallows. Buku terakhir dari serial petualangan panjang penyihir rekaan JK Rowling.
“Dari bocah kacamata culun sampek Harry Potter remaja dan jadi penyihir paling sakti, Rowling membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh taon,” ucap Sangkot.
“Satu buku sepuluh taon?” tanya Leman Dogol menyeletuk. Bersama-sama Ocik Nensi dan Tante Sela, sepanjang hampir setengah jam sebelumnya, Leman membahas‘The Odyssey’, film terbaru sutradara Christophel Nolan, yang [sejauh ini] menghasilkan 1 miliar dollar Amerika Serikat atau setara Rp 17,6 triliun.
Kesimpulan mereka, pencapaian ‘The Odyssey’ yang fenomenal ini, ternyata belum cukup untuk membiayai satu bulan dana operasional MBG.
“O, nggak. Sepuluh taon itu tujuh buku. ‘Deathly Hallows’ ini buku ketujuh. Buku pertama, kalok tak silap ‘Philosopher’s Stone’ judulnya, ditulisnya taon 97.”
“Kurang paten, lah, kalok gitu Si Rowling itu, Kot,” sahut Tante Sela pula.
“Kurang paten cemana maksudnya, Tan? Sepuluh taon tujuh buku, dan semuanya laris-laris, tejual 600 juta kopi di seluruh dunia, mau paten kek mana lagi?”
“Maksudku bukan itu.”
“Tros?”
“Sepuluh taon, kok, cumak bisa bikin tujuh buku.”
“Tros masalahnya?”
“Kek Bahlil, lah, yang paten. Sekali jalan langsung sepuluh buku.”
Ucok Morning, Jontra Polta, dan Selwa Kumar yang sedang bermain dam batu serentak tertawa. Pun Tok Awang yang sedang meracik teh tarik dingin manual ori pesanan Leman Dogol di balik steling.
“Kalok kawan tu memang payah lawan, lah,” ucap Tok Awang di sela tawa. “Istilah kata memang out of the box.”
“Sepuluh buku sekali dirilis keknya bisa rekor dunia jugak ini. Dapat Guinness Book of Record,” ucap Selwa Kumar menimpali. “Koreksi, lah, kalok aku salah. Tapi setahu aku, ya, sebelumnya yang paling banyak itu empat ato lima buku sekaligos. Ini sampek dua kali lipatnya! Mantap kale!”
“Memang mantap, lah!” kata Jontra Polta mengamini. “Kakanda Bahlil ini, ah, bukan kaleng-kaleng! Tadinya dia bilang kalok sebenarnya cumak mo rilis delapan buku. Seturut angka favorit Prabowo. Seddep, kan? Momen kek gini pun masih jugak sempat-sempatnya dia kuas bos junjungannya.”
Ucok Morning yang sedari tadi masih diam akhirnya ikut nimbrung. “Oke, terlepas dari kuasnya yang paten, terlepas dari rekor dunia segala macam, menurut kelen, mungkin gak ada orang bisa nulis buku sekaligos sampek sepuluh gitu?”
“Bisa aja, lah, Ketua. Buktinya itu Bahlil bisa,” sebut Ocik Nensi.
“Maksudku gini, Cik. Cucu aku di rumah, sukak kali baca-baca novel dan dia sering beli novel yang ditulis, ah, sama siapa namanya itu? Hmmm... agak lupa aku. Padahal terkenal kali dia. Alah, yang kek judul lagu di felem India. Yang maen Shah Rukh Khan sama Preity Zinta dan Rani Mukherjee.”
“Tere Liye, Ketua,” sergah Sangkot.
“Aih! Tere Liye! Udah agak lama jugak tak kudengar lagu mantap ini,” celetuk Selwa pula, lalu mulai bernyanyi. Tere liye ham hain jiye...
Sangkot terkekeh. “Nama aslinya Darwis, tuh, Ketua.”
“Mau Darwis, mau Tere Liye, gak penting-penting kali sebenarnya. Poin aku, novel-novel dia banyak. Bisa dua bulan sekali, tiga bulan sekali, terbit novel barunya. Cucuku bolak-balik beli. Cumak, ya, kalok dibanding Bahlil tetap kalah jauh. Setahu aku, gak pernah sejarahnya Tere Liye ini keluar bukunya sekaligos sepuluh.”
“Belum paham aku ke mana arah cakap ketua. Cak to the point aja, Ketua,” kata Ocik Nensi.
“Tere Liye ini, kan, penulis yang betol-betol penulis, ya. Memang kerjaannya nulis. Sehari-hari nulis. Carik makan dia dari nulis. Dia aja gak bisa nulis sepuluh buku sekaligos gitu. Konon pulak Bahlil yang sibuknya luar biasa. Dia menteri. Dia ketua partai. Belum lagi yang laen-laen. Kapan dia sempat nulis? Sampek sepuluh buku pulak.”
Sangkot Mujahit menepiskan tangan, lantas tertawa. “Ketua ini lugu kali,” ucapnya. “Ketua pernah dengar yang namanya ghost writer?”
“Ghost writer? Penulis hantu? Apa pulak itu?”
“Penulis yang menulis atas nama orang laen, Ketua.”
“Maksud kau orang bayaran, gitu?”
“Kurang lebih, Ketua. Jadi dia menulis atas dasar pesanan, lalu dibayar, tapi namanya gak muncul di buku yang ditulisnya. Yang muncul namanya yang mesan, yang bayar dia.”
“Jadi kau mau bilang, sepuluh buku Bahlil itu ditulis penulis hantu?”
Sangkot menggeleng seraya mengangkat tangannya. “Aku gak bilang gitu, Ketua. Aku cumak mo kasih tahu, kalok di dunia penulisan ada yang namanya ghost writer. Banyak pejabat dan pengusaha yang pakek. Memang, ada jugak yang gak pakek. Riset sendiri, kumpulin bahan-bahan sendiri, tros nulis sendiri. Kek Pak Mahfud, lah, contohnya. Pak Yusril, ato Pak Gita Wiryawan. Tapi, ya, sikit buku orang tu. Setaon sekali pun belum tentu ada yang baru.”
“Alah, bacul kau, Kot. Gitu aja gak berani,” timpal Leman Dogol diikuti kekeh kecil. Disedotnya teh tarik yang baru diantar Tok Awang dua-tiga seruputan. “Tapi kalok aku, yang kutengok bukan perkara siapa yang nulis dan berapa banyak buku yang terbit sekaligos itu. Aku malah lebih sor sama pidato Bapak itu.”
“Bahlil?”
“Bosnya!”
“Apa dibilangnya?”
“Kecerdasan bukan didapat dari sekolah.”
“Tros dari mana?”
“Dari pengalaman idop. Dia contohkan Bahlil, yang pernah jadi sopir angkot dan kuliah di kampus yang sekarang udah tutup.”
Jontra Polta memukul meja. “Ada-ada aja, lah, presiden kelen ini, ya. Kalok kecerdasan bukan dari sekolah, untuk ada dia habiskan uang negara triliunan untuk bikin sekolah rakyat. Ngapain jugak dia mo bikin apa itu namanya, yang kampusnya belum ada, kurikulumnya belum jelas tapi udah dilantik petinggi-petingginya?”
“Universitas Republik Indonesia,” sahut Sangkot.
“Nah, itu! Kalok memang sekolah dan kampus gak bisa bikin orang jadi cerdas, untuk apa capek-capek dibangun? Tros, tahu kelen, dia, kan, jugak mo ganti banyak buku ajar. Katanya buku-buku tu hurufnya jelek, payah dibaca kerna ukurannya kecik. Kalok sekolah gak bisa bikin jadi cerdas, ya, biarkan aja, lah, kek gitu bukunya. Ngapain diganti-ganti?”
“Jangan-jangan, Bapak itu memang gak bisa bedakan mana yang cerdas mana yang cumak tipu-tipu?”
“Skil muncung, Kot! Kuas Eterna!”
“Ombol!”sahut Ucok Morning
“Ulok!” timpal Selwa Kumar
“Biawak! Kulit badak!” seru Jontra Polta.
Tawa pun pecah berderai-derai di Kedai Tok Awang. Keras dan panjang. Sampai Ocik Nensi dan Tante Selwa, menyela dengan percakapan yang membuat tawa sejenak terjeda.
“Ada yang lebih paten dari Bapak itu, Cik. Kebetulan beberapa hari ni lewat-lewat di FYP awak. Dibilang Bapak itu, angka cepek cumak untuk Tuhan. Kalok presiden angkanya sembilan sembilan.”
“Omakjang, itu memang udah payah cakap, lah. Cumak kalah angka tipis dia dari Fir’aun.”
Tawa pecah lagi. Lebih berderai. Lebih keras. Lebih panjang.
(t agus khaidir)