TRIBUNSTYLE.COM - Konflik dengan Iran disebut mulai memberi tekanan serius terhadap persediaan persenjataan Amerika Serikat.
Kondisi itu mendorong pemerintahan Donald Trump mengalihkan sejumlah sistem rudal pertahanan udara dari Asia Timur ke Timur Tengah, keputusan yang membuat Korea Selatan kecewa dan memunculkan kekhawatiran baru di Semenanjung Korea.
Mengutip Military Watch pada Senin (10/8/2026), Amerika Serikat disebut akan menarik sejumlah sistem pertahanan udara canggih yang selama ini ditempatkan di Korea Selatan.
Di antaranya adalah baterai rudal THAAD dan Patriot yang kemudian diarahkan untuk memperkuat pertahanan pasukan serta pangkalan AS di Timur Tengah.
Langkah ini dilakukan ketika fasilitas dan personel militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah menghadapi tekanan serangan yang semakin intens.
The New York Times melaporkan bahwa Angkatan Darat AS telah menggunakan lebih dari separuh persediaan rudal Patriot serta sebagian besar stok THAAD.
Baca juga: Lahir Pakta Pertahanan Bersama Pakistan - Turki - Saudi, Tamparan Keras Buat Iran atau Amerika?
Bukan hanya rudal pertahanan udara yang terkuras. Washington juga telah menggunakan persediaan rudal jelajah Tomahawk dalam jumlah besar.
Padahal, Tomahawk selama bertahun-tahun dipersiapkan sebagai bagian dari stok strategis Amerika Serikat untuk menghadapi kemungkinan konflik besar, termasuk skenario di kawasan Asia-Pasifik yang melibatkan Tiongkok.
Penggunaan persenjataan dalam jumlah besar untuk menghadapi Iran akhirnya menimbulkan persoalan baru bagi Washington.
Berkurangnya persediaan senjata berpresisi tinggi dinilai dapat membatasi kemampuan AS ketika harus merespons krisis besar lain di kawasan Indo-Pasifik.
Dampak keputusan Washington paling terasa di Korea Selatan.
Penarikan sistem pertahanan udara AS dari negara tersebut dilaporkan memunculkan kontroversi sekaligus kekhawatiran terkait keamanan Semenanjung Korea.
Korea Selatan kini harus menghadapi pertanyaan mengenai seberapa besar kemampuan pertahanannya jika terjadi eskalasi dengan Korea Utara, terutama ketika Pyongyang memiliki persenjataan rudal balistik dalam jumlah besar.
Keputusan Trump juga berpotensi memengaruhi kepercayaan Seoul terhadap komitmen keamanan Washington.
Selama puluhan tahun, Korea Selatan menjadi salah satu sekutu utama AS di Asia Timur dan mendukung keberadaan pasukan serta pangkalan militer Amerika Serikat di wilayahnya.
Baca juga: Iran dan Amerika Serikat Adu Kekuatan di Selat Hormuz! AS Kirim 20 Kapal Perang, Teheran Menghadang
Namun, pemindahan aset pertahanan yang dianggap vital dapat memunculkan persepsi bahwa kepentingan Washington di Timur Tengah kini lebih mendesak dibandingkan kebutuhan keamanan Asia Timur.
Situasi itu juga terjadi ketika keseimbangan kekuatan militer kawasan semakin kompleks akibat meningkatnya kemampuan militer Tiongkok.
Meski Komandan Pasukan AS di Korea, Jenderal Xavier Brunson, sebelumnya menekankan pentingnya posisi strategis Semenanjung Korea, perkembangan terbaru menunjukkan Washington harus membagi sumber daya militernya untuk menghadapi berbagai ancaman secara bersamaan.
Konflik dengan Iran membuat AS harus mengalokasikan sistem pertahanan udara, rudal, dan persenjataan presisi dalam jumlah besar ke Timur Tengah.
Jika kondisi berlanjut, Washington menghadapi dilema strategis karena harus mempertahankan kemampuan menghadapi Iran sekaligus menjaga kesiapan militernya di Asia-Pasifik.
Bagi Korea Selatan, penarikan aset pertahanan menjadi sinyal bahwa ketergantungan pada kekuatan militer Amerika Serikat memiliki risiko ketika Washington menghadapi konflik besar di kawasan lain.
Situasi ini berpotensi mendorong Seoul mengevaluasi kembali strategi pertahanan dan hubungan keamanannya.
Konflik Iran-AS pada akhirnya bukan hanya berdampak di Timur Tengah, tetapi juga mulai memengaruhi kalkulasi keamanan negara-negara sekutu Amerika Serikat di Asia Timur. (Tribun Style/Tribun Video)