WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Misteri temuan ratusan senjata, narkotika hingga CD porno di sebuah sekolah swasta kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, kembali didalami polisi.
Polres Metro Jakarta Selatan bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara menyeluruh pada Senin (10/8/2026).
Proses pemeriksaan berlangsung sekitar empat setengah jam, mulai pukul 14.30 WIB hingga selesai sekitar pukul 19.09 WIB.
Tim Puslabfor keluar dari lokasi lebih dahulu, kemudian disusul personel Inafis Polres Metro Jakarta Selatan.
Kanit Krimum Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan Ipda Alpino de Tech mengatakan, olah TKP dilakukan atas permintaan pihak yayasan.
Pemeriksaan ditujukan untuk memastikan tidak ada lagi barang yang diduga berbahaya di lingkungan sekolah.
“Pada hari ini kami dari Polres Jaksel bersama Puslabfor dari Mabes Polri melakukan olah TKP berdasarkan permintaan dari pihak yayasan. Tentunya hal ini salah satu bentuk pelayanan dari pihak kepolisian untuk memastikan agar tidak adanya barang-barang yang diduga berbahaya yang ada di sekolah,” kata Alpino kepada wartawan.
30 Item Terkait Senjata Ditemukan
Pemeriksaan dilakukan oleh dua tim Puslabfor dengan fokus berbeda.
Tim pertama mengambil sampel DNA dari sejumlah lokasi yang diperiksa.
Sementara tim kedua melakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya barang yang berkaitan dengan senjata api, senjata angin, amunisi, maupun suku cadang senjata.
Total ada 30 item yang ditemukan dalam pemeriksaan tersebut.
Barang-barang itu meliputi airsoft gun, amunisi, magasin airsoft gun, serta sejumlah suku cadang senjata seperti sasaran tembak dan gagang senjata.
“Totalnya ada 30 item yang telah ditemukan Puslabfor yang berkaitan dengan senjata, senjata angin, amunisi, dan sparepart-nya,” ujar Alpino.
Dari pemeriksaan Puslabfor, airsoft gun yang ditemukan diketahui dalam kondisi rusak dan tidak utuh.
Selain barang-barang tersebut, polisi juga mengambil sampel DNA dari tiga ruangan yang diperiksa.
Pengambilan sampel dilakukan untuk membantu mengidentifikasi pihak yang pernah berada atau melakukan kontak dengan ruangan maupun barang-barang di dalamnya.
Tiga Ruangan Jadi Fokus Pemeriksaan
Tiga ruangan menjadi titik utama pemeriksaan Puslabfor.
Ketiganya yakni ruang eks ketua pengurus yayasan berinisial IWD, ruang sekretaris, serta ruang sarana prasarana yayasan.
Ketiga ruangan tersebut sebelumnya telah diperiksa oleh petugas piket Reskrim.
Namun, pemeriksaan kembali dilakukan bersama Puslabfor untuk memastikan tidak ada benda berbahaya yang terlewat sekaligus memberikan kepastian kepada pihak sekolah, guru, dan wali murid.
“Hari ini ada tiga ruangan yang sebelumnya juga sudah pernah dicek oleh piket Reskrim. Namun, untuk memastikan agar tidak ada kekhawatiran dari pihak guru maupun dari wali murid atau orang tua murid, kami lakukan bersama Puslabfor,” jelas Alpino.
Polisi Luruskan Isu Bunker
Polisi juga meluruskan informasi mengenai keberadaan bunker di lingkungan sekolah yang sebelumnya menjadi perhatian.
Alpino menegaskan ruangan yang disebut-sebut sebagai bunker tersebut sebenarnya merupakan basement.
Ruangan itu terhubung langsung dengan bangunan utama melalui tangga.
“Sebetulnya itu bukan bunker, melainkan basement yang terhubung dengan ruangan. Lokasi itu juga sudah diperiksa dan tidak ditemukan apa pun,” katanya.
Dengan demikian, polisi memastikan tidak ada temuan barang berbahaya di ruangan basement tersebut.
Police Line Dibuka, Sekolah Dinyatakan Steril
Setelah seluruh pemeriksaan selesai, polisi membuka kembali garis polisi yang sebelumnya dipasang di lokasi.
Pembukaan police line dilakukan setelah pihak kepolisian berkoordinasi dengan Plt Ketua Pengurus Yayasan dan kuasa hukumnya.
“Tadi kami sudah konfirmasi kepada Plt Ketua Pengurus dan juga kuasa hukumnya. Dari pihak yayasan menyatakan sudah cukup dan mereka sudah bisa melakukan aktivitasnya lagi,” ujar Alpino.
Polisi menyatakan area yang diperiksa telah dinyatakan steril.
Dengan dibukanya kembali police line, aktivitas sekolah dapat kembali dilakukan.
Meski demikian, hasil pemeriksaan Puslabfor, termasuk sampel DNA yang telah diambil, masih menjadi bagian dari proses penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam olah TKP tersebut, petugas juga tidak menemukan kamera pengawas atau CCTV di area yang diperiksa.
Temuan 30 item terkait senjata dan pengambilan sampel DNA kini menjadi bagian penting dalam pendalaman polisi untuk mengetahui asal-usul barang serta pihak yang berkaitan dengan keberadaan benda-benda tersebut di lingkungan sekolah.