Opini: Santa Klara dari Assisi dan Relevansi Keberaniannya di Tengah Dunia Modern
Dion DB Putra August 11, 2026 07:19 AM

Oleh: Redegundis Kesa
Mahasiswi Fakultas Filsafat  Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di tengah dunia yang semakin mengukur keberhasilan manusia dari harta, jabatan, dan pengakuan sosial, kisah Santa Klara dari Assisi hadir bagaikan suara sunyi yang justru menggema paling keras. 

Perempuan yang lahir pada 16 Juli 1194 di Assisi, Italia, dengan nama Chiara Offreduccio, memilih jalan yang oleh kebanyakan orang pada zamannya dianggap sebagai kegilaan. 

Ia meninggalkan kemewahan keluarga bangsawan, dan memilih hidup dalam kemiskinan radikal demi mengikuti panggilan ilahi. Lebih dari delapan abad kemudian, keberaniannya justru semakin relevan untuk kita renungkan.

Hal pertama yang patut kita refleksikan dari sosok Santa Klara adalah keberaniannya untuk berkata tidak terhadap tekanan sosial. 

Baca juga: Opini: Refeodalisasi Demokrasi

Pada abad ketiga belas, seorang perempuan bangsawan diharapkan menikah dengan pria dari kalangan setara, menghasilkan keturunan, dan menjaga kehormatan keluarga melalui aliansi politik dan ekonomi. 

Menolak semua itu bukan sekadar keputusan pribadi, melainkan sebuah pemberontakan terhadap tatanan sosial yang mapan. 

Klara muda menolak pinangan pria kaya bukan karena ia membenci kehidupan, melainkan karena ia menemukan sesuatu yang lebih bernilai daripada segala kemewahan duniawi. 

Keputusan ini mengajarkan kita bahwa keberanian sejati bukan selalu tentang melawan musuh di medan perang, tetapi juga tentang berdiri teguh pada keyakinan pribadi ketika seluruh lingkungan menuntut kita untuk menyerah pada arus.

Inspirasi Klara datang dari khotbah pertobatan Santo Fransiskus dari Assisi. Namun perlu ditegaskan bahwa Klara bukan sekadar pengikut buta. Ia mengolah inspirasi itu menjadi panggilan hidupnya sendiri. 

Ketika ia melarikan diri dari rumah pada malam Minggu Palma tahun 1212 dan diterima oleh Fransiskus di Kapel Portiuncula, ia tidak sedang melarikan diri dari tanggung jawab. 

Ia sedang berlari menuju tanggung jawab yang lebih besar, yakni tanggung jawab terhadap suara batinnya sendiri. Di kapel itulah rambutnya dipotong sebagai tanda penyerahan total. 

Pemotongan rambut ini bukan sekadar ritual formalitas. Rambut sejak dahulu dipahami sebagai mahkota kecantikan seorang perempuan, simbol kehormatan, daya tarik, dan identitas duniawi yang paling tampak. 

Dengan memotong rambutnya, Klara secara sadar dan sukarela menanggalkan mahkota kecantikannya, melepaskan segala kebanggaan jasmani yang selama ini melekat pada dirinya sebagai putri bangsawan. 

Ia tidak kehilangan kecantikannya, melainkan memindahkannya dari yang lahiriah ke yang batiniah. 

Ia menukar mahkota rambut dengan mahkota kemiskinan, dan justru di situlah ia menemukan keindahan yang tidak bisa pudar oleh waktu. 

Setelah rambutnya dipotong, ia diberi jubah kasar sebagai pengganti pakaian sutra kebangsawanannya, dan sejak saat itu ia memilih menjadi tidak ada di mata dunia agar bisa menjadi segala-galanya di mata Tuhan.

Di San Damiano, Klara mendirikan Ordo Wanita Miskin yang kelak dikenal sebagai Ordo Klaris. Ia tidak mendirikan sebuah lembaga amal biasa. 

Ia membangun sebuah komunitas yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, doa kontemplatif, dan kerja tangan. Di sinilah letak kejeniusan spiritual Klara. 

Ia memahami bahwa kemiskinan bukan sekadar ketiadaan harta, melainkan sebuah sikap batin yang membuka ruang bagi kehadiran Yang Ilahi. 

Dalam konteks masa kini, ketika manusia terus-menerus mengejar akumulasi materi dan merasa tidak pernah cukup, spiritualitas kemiskinan yang ditawarkan Klara menjadi semacam obat penawar. 

Ia mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada kedalaman relasi kita dengan sesama dan dengan Sang Pencipta.

Selama empat puluh dua tahun memimpin komunitas biarawati, Klara menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tidak dibangun di atas dominasi dan kekuasaan, melainkan di atas kasih dan keteladanan. 

Ia memimpin bukan dengan tangan besi, melainkan dengan tangan yang melayani. Ia menjadi ibu bagi para suster, saudara bagi yang menderita, dan pendoa bagi dunia yang bergejolak. 

Model kepemimpinan seperti ini sangat kontras dengan gaya kepemimpinan otoriter yang masih banyak kita temui hingga hari ini, baik dalam institusi keagamaan maupun dalam kehidupan politik dan sosial. 

Klara membuktikan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan, dan bahwa melayani justru merupakan bentuk kekuasaan yang paling luhur.

Wafatnya pada 11 Agustus 1253 di Assisi bukanlah akhir dari kisahnya. Dua tahun kemudian, pada tahun 1255, Paus Aleksander IV menyatakannya sebagai orang kudus. 

Kanonisasi yang begitu cepat ini menunjukkan betapa besar dampak kehidupan Klara bagi Gereja dan masyarakat pada zamannya. 

Namun penghormatan ini seharusnya tidak membuat kita hanya mengaguminya dari kejauhan sebagai sosok yang hidup di masa lalu. Justru sebaliknya, kita dipanggil untuk menghidupkan semangatnya dalam konteks kehidupan kita masing-masing di abad kedua puluh satu ini.

Apa yang bisa kita ambil dari Santa Klara hari ini? Pertama, kita belajar bahwa hidup yang bermakna tidak selalu identik dengan hidup yang nyaman. 

Klara memilih ketidaknyamanan demi integritas spiritual, dan justru di situlah ia menemukan kepenuhan hidup. Kedua, kita belajar bahwa setiap orang memiliki panggilan unik yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. 

Klara tidak menjadi Fransiskus versi perempuan. Ia menjadi Klara, dengan segala keunikan panggilannya sendiri. 

Ketiga, kita belajar bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan kecil yang diambil dengan keberanian besar. 

Satu malam pelarian di Minggu Palma tahun 1212 mengubah wajah kehidupan religius perempuan untuk selamanya.

Di tengah budaya konsumerisme yang terus mendorong kita untuk membeli, memiliki, dan menumpuk, Santa Klara berdiri sebagai pengingat bahwa ada jalan lain. Jalan kesederhanaan. Jalan keheningan. Jalan penyerahan. 

Jalan yang tidak menjanjikan kekayaan materi, tetapi menjanjikan kekayaan batin yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun. 

Hari rayanya yang diperingati setiap 11 Agustus seharusnya bukan sekadar ritual liturgis, melainkan undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sedang hidup sesuai panggilan terdalam kita, atau sekadar mengikuti arus yang ditentukan oleh dunia.

Santa Klara dari Assisi telah tiada secara fisik, tetapi cahayanya tidak pernah padam. 

Ia tetap menjadi pelita bagi mereka yang berani memilih jalan sunyi di tengah kebisingan dunia. Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatan terbesarnya. 

Dalam keheningan, ia berbicara paling lantang. Dalam kemiskinan, ia menjadi paling kaya. Dalam ketidakberdayaan, ia menjadi paling berkuasa. 

Santa Klara, doakanlah kami agar kami memiliki keberanian sepertimu untuk memilih yang abadi di atas yang fana. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.