Kebakaran hebat melanda pemukiman padat penduduk yang menghanguskan rumah warga kayu dan batu di lingkungan permukiman setempat.
Insiden kebakaran itu terjadi sekira pukul 20.29 Wita di Lingkungan Cikkuala, Kelurahan Langnga, Kecamatan Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (10/8/2026).
Warga sekitar gotong royong memadamkan kobaran api menggunakan peralatan seadanya, seperti baskom dan ember.
Aksi pemadaman api dilakukan secara swadaya dengan membentuk barisan rantai manusia untuk mengalirkan air ke lokasi kebakaran.
Masyarakat mengambil pasokan air langsung dari empang terdekat.
Hal itu disebabkan air keran tidak mampu memadamkan kobaran api yang membesar.
Lokasi empang sekitar 50 meter dari tempat kejadian perkara (tkp)
Kondisi pemadaman sempat terkendala oleh aliran listrik yang sengaja dimatikan demi keselamatan.
Sehingga suasana di tkp menjadi gelap gulita.
Kepala lingkungan, H. Amar alias H. Moro, membeberkan perjuangan warga saat berusaha menjinakkan amukan si jago merah.
"Anu, pakai baskom sama ember, yang penting bisa diisi air," ujar Haji Moro saat ditemui Tribun-Timur.com di lokasi, Senin (10/8/2026).
Ia menceritakan bahwa warga saling bahu-membahu menyambung aliran ember air secara cepat untuk memadamkan titik api.
"Ada juga yang bawa lari cepat, sampai tercecer airnya, warga sangat berjuang," lanjutnya.
Menurutnya, peristiwa mencekam tersebut berawal dari teriakan histeris warga yang melihat kemunculan kobaran api.
"Pas orang teriaki 'Ada api! Api, api!', nah akhirnya masyarakat masing-masing turun berlarian ambil ember," tuturnya menjelaskan kronologi awal.
Ia menambahkan bahwa sumber api diduga pertama kali muncul dari rumah kayu milik salah satu warga bernama Amiruddin.
"Informasi yang saya dengar dari masyarakat ada korslet dari rumah Puang Amir barangkali," kata Haji Moro menirukan kabar warga.
Meski begitu, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab terjadinya kebakaran.
Kobaran api dengan cepat merembet ke bangunan sekitar karena jarak antarrumah yang saling berdempetan sangat rapat.
Bangunan yang terdampak di antaranya rumah kayu milik Syahrul serta bangunan rumah batu milik tetangganya bernama Tani.
Rumah tani adalah rumah batu.
Bagian atap rumahnya juga dilalap si jago merah.
"Berdempetan semua yang tiga ini, cuma untung tidak ada angin kencang tadi saat kejadian," kata tokoh masyarakat setempat tersebut.
Meskipun tidak ada korban jiwa, insiden kebakaran pada malam hari tersebut sempat membuat warga panik berhamburan ke luar rumah.
Saat ini, aparat terkait juga masih melakukan pendataan kerugian materiil akibat musibah kebakaran tersebut.