Sering Dianggap Sepele, Kebiasaan Ini Ternyata Bisa Picu Stroke di Kamar Mandi
Fadri Kidjab August 11, 2026 11:42 AM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Sejumlah aktivitas rutin di kamar mandi menyimpan potensi bahaya berupa serangan stroke mendadak.

Bagi sebagian besar masyarakat, momen membersihkan diri merupakan sarana relaksasi yang menyenangkan setelah seharian beraktivitas di luar rumah.

Namun, apabila dilakukan secara tidak hati-hati, kegiatan tersebut dapat menjadi pemicu munculnya salah satu penyakit yang menyumbangkan angka kematian tertinggi di Indonesia.

Fenomena medis ini mendapat sorotan tajam dari seorang dokter spesialis neurologi bernama dr. Shelby Amrus Ernanda, M.Biomed., Sp.N.

Berdasarkan rekam jejak pengalamannya selama lebih dari sepuluh tahun menangani pasien gawat darurat di instalasi pelayanan medis, ia mendapati adanya tren kasus yang berulang.

Banyak penderita stroke ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri atau mengalami kelumpuhan secara tiba-tiba ketika sedang berada di dalam kamar mandi.

1. Mandi saat Baru Selesai Olahraga

Apa arti mimpi mandi? apakah ada makna dibaliknya?
AKTIVITAS MANDI - Ilustrasi pria sedang mandi. (istock)

Menurut penjelasan dr. Shelby, perubahan temperatur air yang terlalu drastis ketika membersihkan diri atau mandi merupakan salah satu pemicu utama.

 Sebagai contoh, penggunaan pemanas air (water heater) dengan pengaturan suhu yang terlalu ekstrem atau langsung membasahi tubuh saat kondisi fisik masih panas setelah berolahraga maupun beraktivitas berat.

Situasi tersebut berpotensi menimbulkan kontraksi pada pembuluh darah yang berujung pada lonjakan tekanan darah secara drastis dalam waktu singkat.

Bagi individu dengan riwayat hipertensi yang kondisi pembuluh darahnya telah mengalami penurunan elastisitas, peningkatan tekanan ini dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah di area otak atau yang dikenal sebagai stroke hemoragik.

Di samping itu, perubahan temperatur yang drastis juga berisiko memicu gangguan ritme denyut jantung atau aritmia pada kelompok tertentu.

"Empat ruang jantung yang seharusnya berdenyut secara harmonis tiba-tiba berpacu tidak sinkron. Ketidakteraturan ini menciptakan semacam pusaran kecil dalam aliran darah yang memicu terbentuknya gumpalan," katanya pada Senin (10/8/2026) seperti dilansir dari Kompas.com.

Akademisi yang juga mengajar di Universitas Negeri Surabaya tersebut menjelaskan bahwa mekanisme gumpalan tersebut menyerupai proses pengentalan darah saat menutup luka pada permukaan kulit.

Perbedaannya terletak pada lokasi pembentukannya, yakni di dalam rongga jantung, yang kemudian terbawa oleh sirkulasi darah menuju otak hingga menyumbat pembuluh darah di sana.

"Inilah yang disebut stroke emboli. Tentu karena pembuluh darah besar yang sering terdampak, jenis stroke ini biasanya sangat berat," ucap Shelby.

Baca juga: MUI Tegaskan Pria Kenakan Busana Wanita dalam Karnaval HUT RI Hukumnya Haram

2. Mengejan Terlalu Keras saat Buang Air 

Faktor risiko lain yang kerap diabaikan adalah kebiasaan memberikan tekanan berlebihan atau mengejan terlalu kuat ketika membuang air besar. 

Peningkatan tekanan intraokular dan intrakranial di dalam kepala saat mengejan berpotensi memicu ruptur pembuluh darah, khususnya bagi orang-orang yang memiliki catatan medis tekanan darah tinggi maupun kelainan struktur vaskular.

Dr. Shelby menegaskan bahwa upaya pencegahan terhadap penyakit stroke tidak selalu menuntut intervensi medis yang rumit. Tindakan preventif yang bersifat mendasar justru dapat menjadi faktor penentu keselamatan jiwa saat seseorang beraktivitas di dalam ruang privat tersebut.

"Hindari mandi dengan air yang terlalu dingin atau terlalu panas," katanya.

Sebagai gantinya, masyarakat dianjurkan memanfaatkan air hangat yang memiliki temperatur selaras dengan suhu tubuh guna menjaga keamanan sistem sirkulasi darah.

Ia menyarankan tahapan awal berupa membasuh bagian tangan, kaki, serta wajah secara perlahan terlebih dahulu sebelum membasahi seluruh tubuh.

Pendekatan bertahap ini memberikan kesempatan bagi sistem fisiologis tubuh untuk melakukan penyesuaian diri sehingga terhindar dari kejutan termal yang mendadak. Meskipun umumnya membawa handuk, ia turut menganjurkan agar individu juga menyiapkan pakaian hangat di dalam ruangan mandi.

Langkah ini bertujuan agar tubuh yang telah terbiasa dengan kehangatan air tidak langsung terpapar udara dingin ruangan secara ekstrem ketika hendak keluar.

Upaya pencegahan berikutnya berkaitan dengan pemeliharaan fungsi sistem pencernaan agar tetap berjalan optimal. Konsumsi serat yang mencukupi, pemenuhan kebutuhan cairan tubuh, serta kebiasaan untuk tetap aktif bergerak sangat dianjurkan agar seseorang tidak perlu mengejan secara berlebihan di toilet.

Pengelolaan berbagai faktor risiko kesehatan juga harus dilakukan secara konsisten sejak dini. Kondisi seperti hipertensi, diabetes melitus, serta gangguan fungsi kardiovaskular ibarat keretakan mikro pada struktur yang apabila dibiarkan tanpa penanganan, hanya memerlukan satu pemicu kecil untuk mengalami kegagalan total.

Menurut penjelasan dr. Shelby, kualitas kesehatan seseorang dibentuk melalui akumulasi kebiasaan hidup sehari-hari yang kerap dipandang sebelah mata.

Peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bahaya di area rumah yang paling sering diakses ini merupakan esensi dari edukasi preventif yang perlu terus disosialisasikan secara luas.

"Stroke di kamar mandi bukan takdir yang datang tiba-tiba tanpa jejak. Ini adalah akumulasi dari kebiasaan kecil yang dianggap remeh, bertemu dengan satu momen ketidakhati-hatian. Mengubah cara kita memasuki kamar mandi secara perlahan, sadar, dan penuh perhatian pada tubuh sendiri mungkin terdengar sepele. Namun dari hal sepele itulah, sebuah nyawa sering kali terselamatkan," tegasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.