Jakarta (ANTARA) - PT MRT Jakarta (Perseroda) membuka peluang mitra hak penamaan (naming rights) Stasiun Haji Nawi dan Bendungan Hilir sebagai upaya pendapatan dari sumber lain selain tiket (non-farebox).
"Penjajakan sudah ada, peminat juga sudah ada. Kita sedang berkomunikasi terus dengan para potensial mitra kita untuk bekerja sama di dua stasiun tersebut gitu ya," kata Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad Mahfud di peresmian Stasiun MRT Blok A Visa Jakarta, Selasa.
Farchad mengatakan pemilihan mitra tersebut diharapkan sesuai dengan penamaan stasiun yang sudah ada.
Adapun beragam sektor mitra yang tertarik berasal dari beragam mulai makanan, perbankan, telekomunikasi, BUMD dan sebagainya.
"Sektornya ada macam-macam ya. Ada food and beverage, ada sektor perbankan, ada sektor telekomunikasi dan lain sebagainya. BUMD juga ada," ucapnya.
Kendati demikian, pihaknya menegaskan hak penamaan MRT tidak hanya mendapatkan aspek branding, namun juga mendukung dalam kolaborasi bermanfaat sesuai dengan strategi masing-masing perusahaan.
Dia mencontohkan, kerja sama MRT Jakarta dan Visa mendorong masyarakat memanfaatkan sistem pembayaran nirkontak atau standar global teknologi pembayaran nirsentuh menggunakan kartu berbasis chip (Europay, Mastercard, dan Visa/EMV).
Diharapkan, kerja sama tersebut berdampak luas bagi masyarakat Indonesia maupun turis mancanegara untuk menggunakan transportasi publik.
MRT Jakarta dan Visa meresmikan naming rights yang kesepuluh yakni Stasiun MRT Blok A Visa. Tiga dari 13 stasiun MRT belum memiliki hak penamaan, yakni Stasiun Haji Nawi, ASEAN Headquarters, dan Bendungan Hilir.





