BANGKAPOS.COM -- Pilu kisah Dewi Sartika Sitinjak (24), seorang pasien yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis hampir dua pekan di Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Botania, Kota Batam, Senin (10/8/2026).
Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi teman, rekan dan terutama keluarga yang ditinggalkannya.
Terlebih Dewi diketahui tengah menanti waktu wisuda untuk mewujudkan impiannya meraih gelar sarjana.
Wanita asal Samosir itu diketahui telah merantau ke Batam selama enam tahun.
Ia tengah menempuh pendidikan S1 Akuntansi di Universitas Terbuka (UT).
Sejumlah tahapan ujian telah ia selesaikan dan rencananya akan mengikuti prosesi wisuda pada Februari 2027.
Baca juga: Profesi dan Sosok Rico, Pengantin Pria yang Viral Seserahan Fantastis, Rubicon hingga Ekskavator
"Dewi itu kuliah di UT S1 Akuntansi, sudah mau selesai kuliahnya. Ujian-ujian katanya selesai, bulan dua tahun depan itu katanya direncanakan bisa wisuda," tutur kekasih Dewi, Ando Jaya Samosir, dikutip dari TribunBatam.
Ando menjelaskan, Dewi tinggal di dormitory Batamindo.
"Dia itu anak tunggal, di Batam ini setelah lulus SMK setengah tahun dia kerja, setelah bisa bagi waktu dia kerja sambil kuliah. Tinggalnya di Batam ini dormitory," ujar Ando.
Selama enam tahun menetap di Batam, Dewi menjalani dua kesibukan, yakni bekerja sambil berkuliah.
Dewi diketahui bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur komponen elektronik.
"Enam tahun kerja di Batam ini, kerja iya, kuliah iya," katanya.
Cita-cita Dewi untuk meraih gelar sarjana kini hanya tinggal kenangan.
Baca juga: Cerita Suryadi Pencari Udang Temukan Potongan Tengkorak di Hutan Bangka Barat, Bikin Tanda di Lokasi
Kepergian Dewi tak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga dan kekasihnya, tetapi juga bagi para rekan yang selama ini mengenalnya.
Bagi rekan-rekannya, Dewi dikenal sebagai sosok yang ceria dan mudah bergaul.
"Dia itu orangnya humble, gak pernah ada masalah. Anaknya ceria, anaknya ini suka bercanda," ujar salah satu rekan dormitory Dewi, Delia.
Satu per satu rekan kerja serta teman yang tinggal satu dormitory pun berdatangan ke RSAB Botania untuk menyampaikan rasa duka atas kepergiannya.
Berawal dari Operasi Ambeien
Sebelumnya, Dewi Sartika Sitinjak dinyatakan meninggal dunia pada Senin.
Mulanya, wanita berusia 24 tahun itu menjalani tindakan operasi ambeien di rumah sakit tersebut pada Selasa, 28 Juli 2026.
Tindakan operasi tersebut telah dijadwalkan satu minggu sebelumnya atas konsultasi dengan dokter.
Usai dilakukan operasi, Dewi diberikan suntikan yang disebut untuk pereda nyeri, radang, serta mencegah untuk pendarahan.
Tak berselang lama, Dewi mengeluhkan rasa sakit hingga mencengkram tangan kekasihnya.
Kondisi Dewi semakin memburuk hingga akhirnya tak sadarkan diri, sehingga harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU selama 10 hari.
Kuasa hukum keluarga Dewi, Jendris Sihombing menjelaskan, pihak keluarga mempertanyakan proses penanganan medis yang diterima Dewi setelah menjalani operasi hingga kondisinya memburuk dan harus menggunakan alat bantu pernapasan.
Baca juga: Nasib Akhir Hellyana, Dipenjara 4 Bulan, Sidang Kasus Ijazah Palsu, Besok Putusan Usulan Pemakzulan
Jendris menyebut keluarga menemukan sejumlah hal yang dinilai janggal dalam rangkaian perawatan medis Dewi.
Ia menuturkan, sekitar dua jam setelah operasi, kondisi Dewi masih tampak baik.
Dewi bahkan masih dapat berkomunikasi dengan keluarganya melalui panggilan video WhatsApp dari ruang perawatan.
Namun, berdasarkan keterangan keluarga, kondisi Dewi mulai berubah setelah mendapat tiga kali suntikan yang disebut diberikan untuk mengatasi rasa nyeri dan pendarahan.
"Dua jam setelah operasi, pihak rumah sakit memberikan pasien tiga dosis suntikan. Dua dosis disuntik melalui tangan, dan satu dosis dicampurkan ke dalam botol infus," ujar Jendris.
"Setelah suntikan ketiga ke botol infus, perawat langsung meninggalkan pasien. Setelah 30 menit, atau lebih tepatnya sekitar pukul 00.00 WIB, Rabu (29/7/2026) dinihari. Pasien langsung kejang hebat hingga tidak bernafas dan tak sadarkan diri," lanjutnya.
Dalam kondisi panik, kekasih Dewi segera memanggil perawat melalui interkom.
Sejumlah perawat dan dokter jaga kemudian datang untuk memberikan pertolongan.
Upaya resusitasi berupa pompa jantung secara manual dilakukan selama sekitar 55 menit sebelum Dewi akhirnya dipindahkan ke ruang ICU.
Sehari setelah Dewi menjalani perawatan di ICU, keluarga mendapat informasi mengenai hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya gangguan pada beberapa organ tubuh, di antaranya jantung, hati, dan ginjal.
Keluarga juga menyebut berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, Dewi tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat-obatan.
Keluarga Mediasi dengan Rumah Sakit
Pada Kamis (30/7/2026), keluarga beserta kuasa hukum melakukan mediasi dengan pihak RSAB Botania.
Saat itu, pihak rumah sakit memberikan penjelasan mengenai kemungkinan alergi obat. Namun, keterangan tersebut dinilai belum dapat diterima sepenuhnya oleh pihak keluarga.
"Karena alasan mereka seperti itu, maka keluarga mempertanyakan apa jenis obat yang mereka suntikkan ke Dewi hingga kini sudah 10 hari dia dalam kondisi koma. Sementara dari sebelum operasi, dan setelah operasi Dewi sendiri masih dalam kondisi sehat. Namun tidak ada jawaban yang diberikan oleh mereka, sehingga malam ini keluarga akhirnya membuat laporan resmi kepolisian," jelasnya.
Keluarga Laporkan RS Dugaan Malapraktik
Kematian Dewi kemudian memunculkan pertanyaan dari pihak keluarga.
Mereka menilai terdapat sejumlah hal yang janggal dalam rangkaian penanganan medis yang diterima Dewi setelah menjalani operasi.
Atas dasar itu, keluarga melaporkan pihak rumah sakit ke Polresta Barelang pada Sabtu (8/8/2026) malam.
Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan malapraktik.
Baca juga: Rekam Jejak Kombes Andi Kirana Kapolresta Banda Aceh Mendadak Diperiksa Mabes Polri, Kasus Tertutup
Kuasa hukum keluarga Dewi, Jendris Sihombing, mengatakan pihak keluarga ingin mendapatkan penjelasan mengenai proses penanganan medis sejak Dewi selesai menjalani operasi hingga kondisinya memburuk dan membutuhkan alat bantu pernapasan.
Menurut Jendris, keluarga melihat adanya perubahan kondisi Dewi setelah mendapatkan beberapa suntikan.
Ia menjelaskan, sekitar dua jam setelah operasi, Dewi masih tampak dalam kondisi baik.
Bahkan, Dewi masih dapat berkomunikasi dengan keluarga melalui panggilan video WhatsApp dari ruang perawatan.
"Dua jam setelah operasi, pihak rumah sakit memberikan pasien tiga dosis suntikan. Dua dosis disuntik melalui tangan, dan satu dosis dicampurkan ke dalam botol infus," ujar Jendris.
Keterangan tersebut menjadi salah satu hal yang dipertanyakan keluarga dalam laporan yang mereka sampaikan kepada kepolisian.
Setelah Dewi dinyatakan meninggal dunia, jenazahnya direncanakan dibawa ke RS Bhayangkara untuk menjalani autopsi.
Langkah tersebut dilakukan sebelum jenazah dipulangkan ke kampung halaman Dewi di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Autopsi diharapkan dapat membantu memberikan gambaran mengenai penyebab kematian Dewi, terutama karena keluarga mempertanyakan rangkaian kejadian setelah operasi.
Sosok Dewi Sartika Sitinjak
Kabar meninggalnya Dewi membuat rekan-rekan yang selama bertahun-tahun mengenalnya di Batam berdatangan ke RSAB Botania.
Mereka menunggu di sekitar rumah sakit ketika proses pemindahan jenazah dilakukan dari ruang ICU.
Baca juga: Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Matchday 1 2 3 Lawan Singapura, Malaysia dan India
Bagi mereka, Dewi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari selama berada di tanah rantau.
Mengutip dari Tribun Batam, selama enam tahun tinggal di Batam, Dewi membangun kehidupan sebagai pekerja sekaligus berusaha melanjutkan pendidikan.
Ia juga dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dan membawa suasana ceria di lingkungan tempat tinggalnya.
Kini, rekan-rekan Dewi tidak lagi datang untuk menemaninya menjalani aktivitas sehari-hari.
Mereka datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada perempuan asal Samosir tersebut.
Dewi Sartika Sitinjak akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah sekitar 13 hari menjalani perawatan medis di RSAB Botania.
Jenazahnya akan menjalani proses autopsi sebelum dipulangkan ke kampung halaman di Pulau Samosir.
Sementara itu, laporan keluarga terkait dugaan malapraktik telah disampaikan kepada polisi dan proses hukum masih berjalan.
(Tribunnews.com/Falza) (Kompas.com/Partahi Fernando Wilbert Sirait) (TribunBatam.id/Ucik Suwaibah)