Profil Radityo Egi Bupati Lampung Selatan yang Viral Mobilnya Terjebak Jalan Rusak, Ini Janjinya
Putra Dewangga Candra Seta August 11, 2026 03:32 PM

 

SURYA.co.id – Mobil dinas Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menjadi perhatian setelah video perjalanannya melintasi jalan rusak parah di wilayah Desa Helau dan Desa Baru Ranji, Kecamatan Merbau Mataram, viral di media sosial.

Peristiwa itu terjadi ketika Radityo melakukan kunjungan lapangan pada Sabtu (8/8/2026).

Dalam video berdurasi lebih dari dua menit, mobil berpelat merah yang ditumpangi Radityo tampak harus memperlambat laju saat melewati jalan berbatu dan dipenuhi lubang.

Sejumlah petugas terlihat mengawal kendaraan tersebut. Di tengah perjalanan, seorang perempuan yang merekam video menyampaikan keluhan secara langsung kepada sang bupati.

"Pak, mohon perhatiannya. Tolong jalan diperbaiki, Pak. Sudah lama. Katanya terakhir sentuhan renovasi itu 2007, Pak," ujar perempuan tersebut, dikutiip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Warga itu juga meminta Radityo merasakan sendiri kondisi jalan yang selama ini menjadi akses masyarakat.

"Kan Bapak aja ngeri, Pak? Mobil bagus, Pak," lanjutnya.

Radityo Egi Pratama dan Jalan Rusak Lampung Selatan

Keluhan warga tidak berhenti pada kondisi jalan yang sulit dilalui kendaraan. Menurut perempuan dalam video tersebut, kerusakan jalan telah berdampak terhadap aktivitas masyarakat.

Bahkan, ia menyebut ada warga yang jatuh hingga pingsan ketika melewati ruas jalan tersebut.

"Sudah benar-benar, Pak, korbannya. Sampai ada yang pingsan. Di atas lebih parah lagi, Pak. Tolong Pak, jangan janji-janji saja. Susah sekali kami di sini, Pak," katanya.

Dalam rekaman, Radityo terlihat membuka kaca jendela mobil ketika mendengar keluhan warga.

Ruas jalan yang dilalui mobil dinas tersebut diketahui menjadi akses bagi warga Desa Tanjung Baru dan Desa Baru Ranji.

Kondisinya yang rusak kemudian menjadi sorotan setelah video perjalanan Radityo tersebar di media sosial.

Respons Radityo Setelah Melihat Langsung Kondisi Jalan

Radityo membenarkan dirinya memang melintasi ruas jalan tersebut saat melakukan kunjungan lapangan.

Berdasarkan keterangan masyarakat yang diterimanya, jalan tersebut terakhir mendapatkan perbaikan pada 2007.

Namun, menurut Radityo, perbaikan ruas jalan itu sebenarnya sudah masuk dalam perencanaan pemerintah daerah untuk 2026.

"Bismillah, akhir tahun ini ada perbaikan," kata Radityo kepada Kompas.com, Minggu (9/8/2026).

Pernyataan tersebut menjadi salah satu respons Radityo setelah kondisi jalan yang dilihatnya secara langsung mendapat perhatian publik.

Ia mengakui kerusakan jalan merupakan salah satu persoalan besar yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.

Persoalannya bukan hanya menyangkut satu ruas jalan, tetapi juga luasnya wilayah yang harus ditangani dengan kemampuan anggaran daerah yang terbatas.

"Jalan di Lampung Selatan 30 persen rusak, 70 persen rusak banget," ujarnya.

Mengakui Tak Mengetahui Kondisi Jalan

Salah satu hal yang menarik dari respons Radityo adalah pengakuannya bahwa kondisi jalan yang dilihatnya ternyata lebih parah dari informasi yang selama ini diterima.

Radityo mengaku terkejut setelah melihat langsung keadaan ruas jalan tersebut. Sebelumnya, ia mengatakan tidak pernah memperoleh laporan yang menggambarkan tingkat kerusakan secara nyata.

"Kalau saya enggak ke sini, saya enggak ngerti, Bu, kalau jalanannya separah itu," katanya.

"Saya ampunan pisan. Kalau memang belum ada sentuhan di sini, pikiran saya enggak separah ini. Saya enggak tahu, betul. Karena saya enggak pernah dapat laporan dari lapangan," lanjutnya.

Radityo kemudian mengungkapkan bahwa dirinya langsung menegur camat setelah melihat kondisi jalan tersebut.

"Makanya tadi saya tegur camat, saya marah betul, karena saya enggak tahu separah itu jalanannya." ujarnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kunjungan lapangan tersebut tidak hanya menjadi agenda pemerintahan rutin.

Kondisi jalan yang ditemuinya juga memunculkan evaluasi terhadap mekanisme penyampaian laporan dari tingkat bawah kepada pemerintah daerah.

Setelah melihat kondisi jalan secara langsung, Radityo meminta sistem pelaporan kerusakan infrastruktur diperbaiki.

Menurutnya, laporan mengenai kondisi jalan tidak cukup hanya disampaikan dalam bentuk informasi tertulis. Dokumentasi visual dan dampak kerusakan terhadap masyarakat juga dinilai penting agar pemerintah dapat menentukan tingkat urgensi suatu ruas jalan.

"Kalau perlu, kalau pas ada masyarakatnya jatuh, kirim foto, gitu loh. Jadi saya ngerti kalau situasinya jalanannya benar-benar parah," katanya.

Permintaan tersebut menunjukkan pentingnya data lapangan dalam menentukan prioritas pembangunan. Terlebih, pemerintah daerah harus membagi anggaran untuk berbagai kebutuhan infrastruktur di wilayah yang cukup luas.

Tantangan Radityo Mengatur Anggaran Infrastruktur

Radityo menjelaskan, luas wilayah Lampung Selatan membuat kebutuhan pembangunan infrastruktur cukup besar.

Di sisi lain, kemampuan anggaran pemerintah daerah memiliki keterbatasan.

Karena itu, pemerintah harus menentukan ruas jalan yang paling mendesak untuk mendapatkan penanganan.

"Karena gini, mungkin kalau belum kebagian, karena Lampung Selatan kan luas, cuma duitnya terbatas. Jadi harus pintar-pintar saya membagi jatah," ujarnya.

Radityo kemudian menggunakan analogi sederhana untuk menggambarkan persoalan tersebut.

"Kayak di dapur rumah Bapak-Ibu. Kebutuhannya banyak, uang dapurnya terbatas. Kan harus pintar-pintar membagi," kata Radityo.

Meski demikian, ia memastikan ruas jalan yang dilintasinya telah masuk dalam perencanaan perbaikan. Pemerintah daerah juga akan memetakan titik-titik jalan yang dianggap paling mendesak untuk ditangani.

Kasus jalan rusak di Merbau Mataram menarik perhatian bukan hanya karena kondisi infrastrukturnya, tetapi juga karena warga dapat menyampaikan keluhan secara langsung kepada kepala daerah.

Dari sisi pemerintahan, persoalan yang muncul memiliki dua lapisan. Pertama, kebutuhan memperbaiki jalan yang secara fisik sudah lama mengalami kerusakan. Kedua, persoalan komunikasi dan pelaporan dari lapangan agar kepala daerah memperoleh gambaran yang sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Janji perbaikan pada akhir 2026 nantinya menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana respons pemerintah daerah diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Di sisi lain, pengakuan Radityo bahwa dirinya baru mengetahui tingkat kerusakan setelah datang langsung juga menunjukkan pentingnya pengawasan lapangan.

Infrastruktur yang dinilai rusak tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan berkendara, tetapi juga akses masyarakat terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan, layanan kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan demikian, viralnya video mobil dinas Radityo Egi Pratama melewati jalan rusak dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem pelaporan sekaligus mempercepat pemetaan ruas jalan yang membutuhkan penanganan.

Profil Radityo Egi

Radityo Egi Pratama lahir 20 Juli 1988.
Ia adalah seorang politikus Indonesia yang menjabat sebagai Bupati Lampung Selatan ke–17 sejak 20 Februari 2025 bersama wakilnya, Syaiful Anwar untuk masa jabatan periode 2025–2030.

Ia aktif dalam Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) dan menjabat sebagai Bendahara Umum untuk masa bakti 2025-2030.

Ia dikenal sebagai anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan memiliki jabatan sebagai Ketua Umum BPD HIPMI Jawa Barat periode 2024-2027. Ia memiliki keterlibatan dalam berbagai organisasi yang berfokus pada pengembangan dunia usaha dan pendidikan.

Radityo Egi Pratama menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2007 dan meraih gelar sarjana dari jurusan Geodesi. Ia kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Middlesex University, Inggris, dan memperoleh gelar Master of Business Administration (MBA).

Radityo Egi Pratama memulai karier politiknya dengan aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan pengusaha sebelum akhirnya terjun ke dunia pemerintahan. Pengalamannya dalam memimpin organisasi seperti HIPMI dan JAPNAS memberinya wawasan yang luas dalam membangun jejaring serta memahami dinamika ekonomi daerah. Pada tahun 2024, ia mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala Daerah Lampung Selatan dan berhasil terpilih sebagai Bupati Lampung Selatan ke-17 bersama wakilnya, Mohammad Syaiful Anwar. Pasangan calon ini berhasil unggul dengan meraih 329.124 suara atau 67,66 persen dari total suara sah. Ia dilantik pada 20 Februari 2025 untuk masa jabatan 2025–2030.

Radityo Egi Pratama memulai karier bisnisnya pada tahun 2012 dengan mendirikan perusahaan di bidang properti bersama rekan-rekannya dari ITB. Latar belakang keluarganya yang berkecimpung dalam bisnis furniture turut memengaruhi keputusannya dalam berwirausaha. Setelah sukses di bidang properti, Radityo Egi mulai berfokus pada dunia pendidikan dengan tujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Selain berbisnis, Radityo aktif dalam berbagai organisasi, seperti Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), termasuk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Pada tahun 2015, ia terpilih sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Cabang HIPMI Bekasi Raya untuk periode 2015–2018 dan Ketua Umum Badan Pengurus Daerah Jawa Barat periode 2024-2027.

Ia kemudian menjabat sebagai Wakil Ketua Umum I Badan Pengurus Daerah HIPMI Jawa Barat dan Ketua Bidang Investasi Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS). Ia menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum BPP HIPMI periode 2022-2025. Saat ini menjabat sebagai Bendahara Umum APKASI masa bakti 2025-2030.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.