SURYA.CO.ID, SURABAYA - Perjalanan Rachmad Arga Dumilang membangun bisnis distribusi BBM di Surabaya tidak selalu berjalan mulus.
Pengusaha asal Surabaya itu pernah terjerat persoalan hukum setelah menjalankan bisnis BBM melalui jalur ilegal.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik bagi Arga, sapaan akrabnya. Ia kemudian memutuskan meninggalkan bisnis minyak ilegal dan kembali membangun usaha distribusi BBM industri melalui jalur yang disebutnya resmi.
Kini, Arga menahkodai PT Cahaya Pratama Energy, perusahaan yang bergerak sebagai pemasok sekaligus agen BBM industri di Surabaya.
Perusahaan yang berdiri sejak 2023 dan beroperasi di kawasan Surabaya Timur itu fokus menyalurkan solar industri non-subsidi kepada konsumen di Jawa Timur melalui jalur resmi.
“Saat ini perusahaan mampu menyalurkan sekitar 300 ribu liter BBM industri setiap bulan untuk kebutuhan konsumen di Jatim,” ungkap pria berusia 35 tahun itu, Selasa (11/8/2026).
Arga mengaku mulai mengenal bisnis minyak sekitar satu dekade lalu. Saat itu, ia memulai perjalanan sebagai broker minyak tanpa memiliki modal besar.
“Saya benar-benar mulai dari nol. Awalnya broker minyak. Lalu bekerja ikut orang. Dari situ sedikit demi sedikit menyisihkan hasil untuk biaya operasional dan akhirnya bisa mengumpulkan modal untuk membuat akta pendirian perusahaan," kata Arga, Selasa (11/8/2026).
Ia kembali mengingat awal perjalanannya di bisnis minyak pada 2012.
“Sekitar 2012 mulai mengenal bisnis minyak, mulai dari posisi sebagai broker minyak dengan kondisi tanpa modal,” tuturnya.
Dalam perjalanannya, Arga kemudian masuk ke bisnis minyak ilegal atau yang dikenal dengan istilah black market. Menurut pengakuannya, bisnis tersebut sempat berkembang hingga dirinya mampu menguasai pasar sekitar 2023.
Namun, perjalanan tersebut kemudian berujung pada persoalan hukum.
“Dua tahun berikutnya terjadi peristiwa yang menjadi titik balik hidup saya. Pernah ditangkap aparat kepolisian pada 2025. Saat itu saya disangka melakukan bisnis BBM ilegal,” kenangnya.
Peristiwa tersebut membuat Arga merasa kehilangan apa yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.
“Saya benar-benar jatuh, dan merasa apa yang saya bangun selama ini berantakan. Saya hanya bisa pasrah dan menjalani roda kehidupan yang berputar,” imbuh Arga.
Setelah mengalami persoalan hukum, Arga bertekad untuk kembali bangkit. Ia memilih meninggalkan bisnis ilegal dan membangun usaha distribusi BBM melalui jalur resmi.
Namun, keputusan tersebut bukan perkara mudah. Arga harus membangun kembali kepercayaan sekaligus menghadapi persaingan usaha yang ketat.
“Beralih dari bisnis ilegal ke bisnis resmi, juga bukan perkara mudah. Selain harus membangun kembali kepercayaan yang porak poranda,juga harus menghadapi persaingan usaha yang ketat,” ucapnya.
Dari upaya tersebut kemudian lahir PT Cahaya Pratama Energy. Perusahaan yang digagas Arga itu menjalankan bisnis sebagai pemasok BBM industri melalui jalur resmi.
Perusahaan tersebut menyebut produknya berasal dari ekosistem distribusi resmi Pertamina melalui PT Elnusa Petrofin.
“Perubahan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya saya memperbaiki perjalanan bisnisnya.Memang susah. Persaingan juga ketat. Tapi saya ingin usaha ini berjalan secara benar, legal, dan bisa dipertanggungjawabkan," katanya.
Melalui PT Cahaya Pratama Energy, Arga juga ingin ikut mengedukasi konsumen agar lebih teliti sebelum membeli BBM industri.
Menurut dia, konsumen tidak seharusnya hanya mempertimbangkan harga ketika memilih pemasok BBM industri. Legalitas, dokumen pengiriman, asal produk, hingga identitas kendaraan pengangkut juga perlu diperhatikan.
“Salah satu hal yang dapat menjadi perhatian, adalah identitas pada kendaraan pengangkut BBM. Kalau resmi, konsumen harus bisa melihat identitas dan dokumen pengirimannya. Ada logo Pertamina dan identitas yang jelas. Surat jalan serta delivery order juga harus jelas," bebernya.
Selain itu, konsumen dapat meminta dokumen pendukung yang menunjukkan asal dan legalitas distribusi produk kepada agen yang memasok BBM.
Menurut Arga, langkah tersebut penting untuk menghindarkan konsumen dari risiko membeli produk BBM industri melalui jalur yang tidak jelas.
“Kami ingin konsumen bisa membedakan mana agen resmi dan mana yang tidak. Jangan hanya karena ditawarkan harga murah kemudian langsung membeli," tegasnya.
Di tengah perjalanan membangun kembali bisnisnya, dukungan keluarga menjadi salah satu pilar penting bagi Arga.
Sang istri, Faizah Athika, disebut terus memberikan semangat ketika Arga memutuskan meninggalkan bisnis ilegal dan memulai kembali usaha melalui jalur resmi.
Kini, pasangan tersebut membangun kehidupan bersama dua anak mereka.
Bagi Arga, keberhasilan dalam berbisnis tidak lagi semata-mata diukur dari besarnya keuntungan yang diperoleh. Ada tanggung jawab untuk memastikan usaha yang dibangun dapat menjadi masa depan bagi keluarganya.
“Ada tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan usaha yang dibangun dapat menjadi masa depan keluarga. Saya ingin usaha ini bisa terus berjalan, legal dan dipercaya. Anak-anak juga bisa melihat bahwa orang tuanya pernah berada di bawah, tetapi kemudian memilih untuk memperbaiki," tandas Arga.