Indonesia Debut di Pasar Obligasi Tiongkok, Terbitkan Panda Bond RMB7 Miliar
Pipit Maulidya August 11, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Indonesia mencatat langkah penting di pasar keuangan internasional setelah berhasil menerbitkan Obligasi Panda perdana di pasar obligasi dalam negeri Tiongkok.

Obligasi tersebut diterbitkan dengan nilai RMB7 miliar. Penerbitan ini menjadi yang pertama bagi Indonesia di pasar obligasi domestik Tiongkok.

Dalam transaksi tersebut, DBS dipercaya sebagai Joint Lead Underwriter dan Joint Bookrunner, atau pihak yang membantu pemerintah dalam proses penerbitan dan penjualan obligasi kepada investor.

Bagi DBS, transaksi ini juga menjadi penerbitan Obligasi Panda pertama yang melibatkan penerbit nonbank asal Asia Tenggara.

Penerbitan Obligasi Panda merupakan bagian dari strategi Indonesia untuk memperluas sumber pembiayaan pembangunan. Dengan masuk ke berbagai pasar dan menggunakan lebih dari satu mata uang, Indonesia memiliki lebih banyak pilihan untuk mendapatkan pendanaan.

Langkah ini juga membuka akses Indonesia terhadap pendanaan jangka panjang sekaligus memperkuat hubungan keuangan dengan Tiongkok.

Baca juga: Prof Soedarsono Dorong Perubahan Paradigma Penanganan TBC: Not Detected Tak Selalu Berarti Negatif

Obligasi Panda Indonesia Terbit dalam Dua Seri

Obligasi Panda Indonesia diterbitkan dalam dua seri.

Seri pertama bernilai RMB5,6 miliar dengan jangka waktu tiga tahun dan tingkat kupon 1,90 persen.

Sementara seri kedua senilai RMB1,4 miliar memiliki jangka waktu lima tahun dengan kupon 2,19 persen.

Penerbitan tersebut mendapat respons kuat dari investor. Investor yang ikut membeli obligasi berasal dari berbagai kelompok, seperti bank dalam negeri, lembaga pengelola kekayaan, perusahaan sekuritas, manajer aset, dana investasi, bank asing, hingga lembaga investasi pemerintah dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan kawasan lainnya.

Besarnya minat investor terlihat dari total permintaan yang mencapai sekitar RMB17 miliar. Jumlah tersebut sekitar 2,4 kali lebih besar dibandingkan nilai obligasi yang diterbitkan.

Tingginya permintaan tersebut memberi ruang bagi pemerintah untuk mendapatkan biaya pendanaan yang kompetitif.

Obligasi Panda Indonesia juga mendapat peringkat AAA (Stable) dari China Lianhe Credit Rating Co., Ltd.

DBS Buka Akses Indonesia ke Investor Baru

President Director PT Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, mengatakan penerbitan tersebut menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperluas akses kepada investor baru yang menggunakan renminbi (RMB).

“Dengan mengakses pasar obligasi Tiongkok yang memiliki likuiditas tinggi, kami mendukung Indonesia untuk memperluas akses kepada investor baru yang berbasis renminbi (RMB),” ujar Lim, Selasa (11/8/26).

Menurutnya, jaringan DBS yang menghubungkan Asia Tenggara dan Tiongkok dapat menjadi penghubung keuangan. Hal ini dapat membuka akses lebih luas bagi penerbit dari negara-negara ASEAN ke pasar modal Tiongkok.

Penerbitan Obligasi Panda dilakukan ketika kondisi pasar keuangan global masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya suku bunga yang tinggi, perubahan nilai tukar, serta kondisi pasar internasional yang dinamis.

Dalam kondisi tersebut, memiliki sumber pembiayaan yang beragam menjadi semakin penting. Langkah ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu mata uang atau satu pasar modal.

Selain menambah sumber pendanaan, strategi tersebut juga memberi pemerintah lebih banyak pilihan dalam membiayai kebutuhan negara. Hal ini sekaligus membuat pengelolaan utang negara menjadi lebih fleksibel.

Perkuat Hubungan Keuangan Indonesia-Tiongkok

President and Chief Executive Officer DBS China, Ginger Cheng, menyebut penerbitan Panda Bond perdana tersebut sebagai pencapaian penting bagi Indonesia untuk memperluas akses ke salah satu pasar obligasi terbesar di dunia.

“Kami bangga dapat mendukung Pemerintah Indonesia dalam transaksi bersejarah ini sekaligus memperkuat konektivitas keuangan antara Indonesia dan Tiongkok,” katanya.

Penerbitan Panda Bond juga melanjutkan langkah Indonesia dalam memperluas pembiayaan menggunakan mata uang RMB.

Sebelumnya, Indonesia telah menerbitkan Obligasi Dimsum senilai RMB9,25 miliar di Hong Kong SAR pada Februari 2026.

Keberhasilan penerbitan Panda Bond perdana ini juga menjadi sinyal positif bagi kepercayaan investor internasional terhadap kondisi keuangan pemerintah serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Bagi DBS Indonesia, transaksi ini sekaligus memperkuat peran bank tersebut sebagai mitra dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

DBS menyatakan terus memanfaatkan kualifikasinya sebagai Appointed Cross-Currency Dealer (ACCD) untuk mata uang renminbi Tiongkok dan rupiah Indonesia.

Hal tersebut didukung kerja sama tim DBS di Tiongkok, Indonesia, serta sejumlah negara di kawasan.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendorong aliran modal antarnegara sekaligus memperkuat hubungan ekonomi, perdagangan, dan keuangan antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.