TRIBUNGORONTALO.COM -- Menjelang sore, Pantai Kaisomaru di Kelurahan Leato Selatan, Kota Gorontalo, mulai dipenuhi warga yang ingin mencari suasana berbeda setelah menjalani aktivitas seharian.
Sekitar pukul 16.15 Wita, angin laut terasa cukup kuat. Ombak datang bergantian dan pecah di antara batu-batu karang yang membentang di tepian pantai.
Tidak semua pengunjung datang untuk bermain air. Sebagian memilih duduk menikmati hembusan angin, sementara lainnya berjalan di sekitar tepian pantai atau berhenti di sejumlah titik untuk mengambil foto.
Pantauan TribunGorontalo.com, Selasa (11/8/2026), memperlihatkan beberapa spot foto yang tersedia di kawasan tersebut.
Keberadaan batuan kapur, karang, pepohonan, dan semak di sekitar pantai membuat pemandangan di Kaisomaru memiliki karakter yang cukup berbeda.
Batuan yang memenuhi tepian pantai justru menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian pengunjung.
Baca juga: ASN Gorontalo Muhammad Amin Dituntut 8 Tahun Penjara dalam Kasus Dugaan Persetubuhan Anak
Di beberapa titik, kawasan tersebut dimanfaatkan sebagai latar untuk mengabadikan suasana menggunakan kamera ponsel.
Suara ombak yang terdengar cukup jelas berpadu dengan angin laut yang bertiup dari arah perairan.
Bagi warga yang datang pada sore hari, suasana tersebut menjadi kesempatan untuk duduk santai dan menghabiskan waktu tanpa harus pergi jauh dari pusat Kota Gorontalo.
Kondisi pasang surut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jumlah pengunjung Pantai Kaisomaru.
Jelly (23), salah seorang penjual di kawasan tersebut, mengatakan pantai biasanya lebih ramai ketika air laut sedang surut.
Dalam kondisi itu, jumlah pengunjung yang datang bisa mencapai lebih dari 20 orang.
Sebaliknya, ketika air mulai pasang, jumlah pengunjung biasanya berkurang hingga kurang dari 10 orang.
“Kalau pasang surut lebih dari 20 orang. Kalau pasang naik biasanya tidak sampai 10 orang,” kata Jelly saat ditemui TribunGorontalo.com di lokasi.
Ia mengatakan kondisi pantai juga mengalami perubahan ketika musim timur berlangsung.
Angin yang lebih kencang dan gelombang yang cukup tinggi turut memengaruhi kondisi pasir di sepanjang kawasan pantai.
“Kalau biasanya masih banyak pasir, biasa dari siang. Cuma karena kurang pasirnya, banyak pengunjung yang masuk,” ujarnya.
Meski kondisi alam berubah mengikuti musim dan pasang surut, pantai tersebut tetap menjadi salah satu tempat yang didatangi warga untuk menikmati suasana laut.
Pantai Kaisomaru mulai dikelola sebagai kawasan wisata sejak 2022. Pengelolaannya dilakukan oleh kelompok rema muda Kelurahan Leato Selatan.
Pengunjung dapat menggunakan sejumlah fasilitas sederhana yang tersedia di kawasan tersebut.
Baca juga: Disnaker Gorontalo Catat 12 Kasus PHK hingga Agustus 2026, Penurunan Produksi Jadi Pemicu Utama
Beberapa di antaranya berupa tempat duduk, spot foto, serta penjaga kawasan.
Untuk masuk ke kawasan Pantai Kaisomaru, pengunjung dikenakan tiket Rp10 ribu per orang.
Sementara kendaraan yang dibawa pengunjung tidak dikenakan biaya parkir.
Pilihan makanan juga tersedia di sekitar kawasan pantai. Pengunjung dapat membeli makanan ringan maupun menu makanan berat setelah menikmati suasana laut.
Pisang goreng dijual sekitar Rp10 ribu. Sementara ayam geprek dan ayam lalapan masing-masing dibanderol Rp18 ribu.
Kehadiran penjual makanan membuat pengunjung tidak harus meninggalkan kawasan pantai ketika ingin mencari makanan atau sekadar menikmati kudapan sambil duduk di tepi laut.
Menjelang petang, Pantai Kaisomaru berubah menjadi ruang berkumpul bagi warga.
Ada pengunjung yang datang bersama keluarga, ada pula yang mampir setelah menyelesaikan pekerjaan.
Sebagian duduk berbincang, sementara yang lain memilih menikmati pemandangan laut atau mengambil gambar di sekitar batu karang.
Karakter alami kawasan juga masih cukup terasa. Semak belukar dan pepohonan berduri yang tumbuh di beberapa bagian pantai berpadu dengan batuan kapur di tepian laut.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari lanskap Pantai Kaisomaru sekaligus memberikan pilihan latar foto bagi pengunjung.
Dari pusat Kota Gorontalo, lokasi pantai ini dapat ditempuh sekitar 15 menit.
Dengan tiket masuk Rp10 ribu, parkir gratis, fasilitas sederhana, serta keberadaan warung makanan, Pantai Kaisomaru menjadi salah satu pilihan bagi warga yang ingin menikmati suasana laut tanpa harus melakukan perjalanan jauh.
Ketika sore mulai turun dan angin musim timur berembus lebih kencang, suara ombak di antara batu karang menjadi latar suasana di kawasan tersebut.
Bagi warga sekitar, Pantai Kaisomaru bukan sekadar tempat melihat laut. Kawasan ini juga menjadi ruang sederhana untuk bertemu, berbincang, menikmati makanan, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga setelah aktivitas sehari-hari. (*)