Menteri Bahlil Soroti Orang Kaya Masih Dapat BBM Subsidi Pertalite: 'Masa Harus Kita Subsidi?'
Candra Isriadhi August 11, 2026 07:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah tengah mengevaluasi seluruh skema subsidi di sektor minyak dan gas bumi (migas).

Evaluasi tersebut dilakukan sebagai upaya pemerintah agar penyaluran subsidi, termasuk subsidi bahan bakar minyak (BBM), dapat lebih tepat sasaran.

Salah satu jenis BBM yang menjadi perhatian dalam evaluasi tersebut adalah Pertalite.

KABAR GEMBIRA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Kementerian Keuangan, Selasa (11/8/2026).
KABAR GEMBIRA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Kementerian Keuangan, Selasa (11/8/2026). (KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)

Bahlil mengatakan, pemerintah melihat masih adanya kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi yang ikut menikmati subsidi BBM.

Hal itu menjadi salah satu persoalan yang tengah dibahas pemerintah bersama Kementerian Keuangan.

Pembahasan tersebut dilakukan setelah Bahlil bertemu dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Baca juga: Respons Mengejutkan Dedi Mulyadi Usai Disindir soal Jabar Belum Masuk 10 Besar IPM: Perlu Waktu

Bahlil menilai subsidi seharusnya lebih diprioritaskan bagi masyarakat yang memang membutuhkan.

"Selama ini kan kita tahu teman-teman, sebagian subsidi tidak tepat sasaran. Masa orang kaya harus kita subsidi? Contoh Pertalite," ujar Bahlil saat ditemui di Kementerian Keuangan, Selasa (11/8/2026).

Menurut Bahlil, kondisi tersebut terlihat dari masih adanya masyarakat yang masuk kelompok desil 9 dan desil 10 yang mendapatkan subsidi Pertalite.

Sebagai informasi, desil digunakan untuk mengelompokkan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan atau kondisi ekonominya.

Bahlil mengatakan pemerintah kini tengah menyiapkan sistem agar penyaluran subsidi dapat dilakukan dengan lebih tepat.

MENGULAR - Antrean kendaraan roda dua yang hendak mengisi BBM jenis Pertalite mengular panjang di SPBU Sudimoro, Kecamatan Teras, Rabu (10/6/2026).
MENGULAR - Antrean kendaraan roda dua yang hendak mengisi BBM jenis Pertalite mengular panjang di SPBU Sudimoro, Kecamatan Teras, Rabu (10/6/2026). (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Dengan demikian, anggaran subsidi yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah diharapkan benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.

"Desil 9, desil 10 masih kena, masih dapat subsidi. Nah ini yang kita mulai bahas sistemnya segala macam supaya apa? Angka subsidi yang ratusan triliun ini betul-betul diberikan kepada saudara-saudara kita yang berhak menerimanya," katanya.

Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperbaiki mekanisme penyaluran subsidi energi.

Pemerintah ingin memastikan anggaran yang telah disiapkan tidak justru lebih banyak dinikmati kelompok masyarakat yang secara ekonomi dinilai mampu.

Pembahasan mengenai skema subsidi tersebut masih terus dilakukan pemerintah, termasuk untuk mencari sistem yang dinilai paling tepat dalam menentukan penerima manfaat.

Baca juga: Artis Sali Irsalina Diduga Dihajar dan Diinjak-injak hingga Berdarah, Awalnya Hanya Cekcok di Mobil

Bahlil menegaskan, evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap Pertalite. Pemerintah juga mengkaji subsidi migas lainnya.

"Semuanya lagi di-exercise. Kita pengin semua subsidi dari sektor migas itu tepat sasaran," ujar Bahlil.

Namun, Bahlil memastikan pengguna sepeda motor tidak akan terkena pembatasan subsidi Pertalite.

"Enggak, sepeda motor enggak dibatasi kok. Berarti enggak ada perubahan untuk sepeda motor," katanya.

Suasana antrean pertalite SPBU Pucanggading Senin 22 Agustus siang.
Suasana antrean pertalite SPBU Pucanggading Senin 22 Agustus siang. (TribunJateng.com/Iswidodo)

Ia menjelaskan, pembatasan subsidi nantinya akan mempertimbangkan jenis kendaraan dan kemampuan ekonomi pemiliknya. Menurut Bahlil, kendaraan mewah tidak seharusnya menggunakan BBM bersubsidi.

"Jangan pakai BMW, pakai Mercy, masa pakai minyak subsidi? Itu yang dimaksudkan Pak Menteri tadi," ujar Bahlil.

Bahlil mengatakan pemerintah belum menghitung besaran penghematan yang dapat diperoleh dari evaluasi dan pembatasan subsidi tersebut.

Ia juga menegaskan pemerintah belum mengambil keputusan final mengenai mekanisme pembatasan subsidi BBM.

Di sisi lain, Bahlil memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi meski harga minyak mentah dunia masih bergerak fluktuatif.

Menurutnya, keputusan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Saya sama Pak Menteri bersepakat bahwa harga ICP dunia yang tidak menentu sampai dengan sekarang, kami berdua punya komitmen atas dasar perintah Bapak Presiden bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik. Ini yang paling penting," ujar Bahlil.

Sementara itu, harga BBM nonsubsidi dapat disesuaikan mengikuti pergerakan harga minyak dunia.

(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com/Debrinata Rizky)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.