Bukti Emas Jadi Aset Menjanjikan, Harga Gelang Naik Rp13 Juta dalam 4 Tahun
Eko Setiawan August 11, 2026 08:41 PM

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Investasi emas kini menjadi salah satu alternatif yang dipilih masyarakat untuk menyimpan sekaligus mengembangkan nilai aset. 

Selain mudah disimpan, emas juga dapat dimiliki dalam berbagai bentuk, mulai dari perhiasan hingga emas batangan.

Pemilik Toko Emas Victoria Tarempa, Cece Li, mengatakan emas masih menjadi pilihan masyarakat karena dinilai memiliki nilai yang relatif stabil dalam jangka panjang.

Emas juga dianggap lebih mudah dicairkan ketika pemilik membutuhkan dana.

"Emas ini selain bisa dipakai sebagai perhiasan, juga bisa menjadi investasi. Kalau suatu saat membutuhkan uang, emas bisa dijual kembali," ujar Cece Li, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, masyarakat tidak hanya membeli emas untuk digunakan sebagai perhiasan.

Sebagian pelanggan juga menjadikannya sebagai bentuk penyimpanan aset yang diharapkan dapat memberikan keuntungan ketika harga emas mengalami kenaikan.

Bentuk emas yang dibeli masyarakat pun beragam. Ada yang memilih gelang, kalung, cincin dan jenis perhiasan lainnya. 

Sementara sebagian lainnya memilih emas batangan karena lebih khusus diperuntukkan sebagai investasi.

Cece mengatakan, kenaikan harga emas dari waktu ke waktu menjadi salah satu alasan masyarakat tertarik menyimpan emas. 

Meski harga dapat mengalami perubahan, emas dinilai memiliki daya tahan nilai dalam jangka panjang.

"Kalau kita lihat dari tahun ke tahun, harga emas memang mengalami kenaikan. Makanya ada customer yang membeli bukan hanya untuk dipakai, tetapi juga untuk disimpan," katanya.

Ia kemudian membagikan pengalaman salah seorang pelanggannya yang membeli perhiasan emas berbentuk gelang di Toko Emas Victoria Tarempa pada 2022.

Saat itu, gelang tersebut dibeli dengan harga sekitar Rp15,9 juta.

Empat tahun kemudian, pelanggan tersebut kembali membawa gelang yang sama untuk dijual. 

Ketika dilakukan penilaian berdasarkan harga emas saat ini, gelang tersebut memiliki nilai sekitar Rp29 juta.

"Sekarang customer menjual emas itu, dapat harganya di angka Rp29 juta. Kita ambil, karena beli di tempat kita," ujar Cece.

Dari transaksi tersebut, terlihat adanya selisih nilai sekitar Rp13,1 juta dibandingkan harga pembelian pada 2022. 

Dengan demikian, pelanggan tersebut memperoleh keuntungan secara nominal sekitar Rp13 juta setelah menyimpan emas selama kurang lebih empat tahun.

Cece menjelaskan, kenaikan tersebut tidak berarti seluruh emas akan selalu memberikan keuntungan dengan jumlah yang sama. 

Nilai jual kembali tetap dipengaruhi oleh harga emas saat transaksi, kadar emas, berat dan kondisi perhiasan.

"Jadi memang ada kenaikan, tetapi tergantung harga emas saat dibeli dan saat dijual. Untuk perhiasan juga ada perhitungan kadar dan beratnya," jelasnya.

Menurut Cece, pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa emas dapat digunakan masyarakat sebagai alternatif untuk menyimpan aset dalam jangka menengah maupun panjang.

Terlebih, emas memiliki bentuk fisik yang dapat disimpan oleh pemiliknya.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu memahami bahwa membeli emas sebagai investasi bukan sekadar melihat harga ketika membeli. 

Pembeli juga perlu memperhatikan kadar, berat, harga beli, serta ketentuan harga jual kembali agar dapat menghitung potensi keuntungan dengan lebih tepat.

Cece berharap masyarakat yang ingin membeli emas dapat menyesuaikan pilihan dengan kemampuan keuangan dan tujuan masing-masing. 

Emas, katanya, dapat digunakan sekaligus menjadi aset yang disimpan untuk kebutuhan di masa mendatang.

"Yang penting masyarakat membeli sesuai kemampuan dan memang niatnya untuk disimpan. Kalau harga naik, tentu bisa menjadi keuntungan ketika dijual kembali," tutup Cece. (TRIBUNBATAM.id/Ihsan Imaduddin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.