TRIBUNBATAM.id, BATAM - Enam tahun bukan waktu yang singkat bagi Dewi Sartika Sitinjak menjalani hidup sebagai perantau di Batam.
Selama itu, perempuan kelairan Parmonangan, 9 November 2001 tersebut tak hanya bekerja, tetapi juga berusaha menyelesaikan pendidikan sarjananya.
Hari-harinya dihabiskan dengan membagi waktu antara pekerjaan di kawasan Batamindo, Mukakuning, dan perkuliahan yang dijalaninya.
Dewi bahkan sudah berada di penghujung perjuangannya mengejar pendidikan.
Sejumlah ujian disebut telah diselesaikan dan ia tinggal menunggu rencana wisuda pada Februari 2027.
Namun, rencana untuk mengenakan toga itu kini tak lagi bisa diwujudkan.
Dewi meninggal dunia pada Senin (10/8/2026), setelah sekitar dua pekan menjalani opereasi ambeien serta perawatan medis di RS Awal Bros Botania.
Sang kekasih, Ando Jaya Samosi mengatakan Dewi merupakan anak tunggal yang selama ini tinggal di dormitory Batamindo.
"Dia itu anak tunggal, di Batam ini setelah lulus SMK setengah tahun dia kerja, setelah bisa bagi waktu dia kerja sambil kuliah. Tinggalnya di Batam ini dormitory," ujar Ando.
Menurut pria 30 tahun itu, selama enam tahun tinggal di Batam, Dewi tetap menjalani dua tanggung jawab sekaligus sebagai pekerja dan mahasiswa.
"Enam tahun kerja di Batam ini, kerja iya, kuliah iya," katanya.
Baca juga: Dewi Sempat Minta Bunga Usai Operasi, Tak Disangka Jadi Permintaan Terakhir Kepada Kekasih
Dewi diketahui menempuh pendidikan S1 Akuntansi di Universitas Terbuka (UT), dan dikabarkan sudah hampir menyelesaikan seluruh proses perkuliahannya.
"Dewi itu kuliah di UT S1 Akuntansi, sudah mau selesai kuliahnya. Ujian-ujian katanya selesai, bulan dua tahun depan itu katanya direncanakan bisa wisuda," ungkapnya.
Selama berada di Batam, Dewi tinggal di dormitory dan menjalani kesehariannya bersama rekan-rekan kerja.
Bagi sang kekasih, perjuangan Dewi menyelesaikan kuliah menjadi salah satu hal yang paling diingat dari sosok kekasihnya tersebut.
Kuliahnya sambil mengejar gelar strata 1 pada Februari 2027 itu kini tak bisa terwujud.
Dewi meninggalkan keluarga, kekasih, dan rekan-rekannya di Batam.
Di ruang tunggu ICU Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Botania, Kota Batam, tangis pecah setelah gadis berusia 24 tahun itu dinyatakan meninggal dunia.
Selama sekitar dua pekan, Dewi menjalani perawatan medis di rumah sakit tersebut setelah menjalani operasi ambeien.
Namun, harapan agar Dewi kembali pulih akhirnya harus berakhir dengan kepergian.
Kabar duka itu menyebar hingga ke tempat Dewi bekerja dan lingkungan dormitory Batamindo, Mukakuning, tempat ia selama ini menjalani kehidupan sebagai perantau.
Satu per satu rekan kerja dan teman satu dormitory berdatangan ke RSAB Botania.
Mereka datang bukan lagi untuk melihat Dewi menjalani perawatan.
Kali ini, mereka datang untuk menunggu jenazah Dewi dibawa keluar dari ruang ICU.
Sebagian memilih duduk di lantai ruang tunggu.
Yang lain hanya terdiam, seolah masih berusaha menerima kenyataan bahwa teman yang selama ini mereka kenal telah pergi.
Tangis lirih terdengar di antara suasana yang dipenuhi kesedihan.
Beberapa rekan Dewi tampak merangkul lutut sambil menahan air mata.
Ada pula yang saling berpelukan, mencoba menguatkan satu sama lain di tengah rasa kehilangan yang begitu dalam.
Seorang rekan Dewi mengatakan, dirinya bersama teman-teman dari perusahaan langsung berangkat ke rumah sakit begitu mendapat kabar.
Mereka mulai berdatangan sejak sekitar pukul 15.00 WIB.
"Sedih, Kak. Kami kaget, pulang kerja dapat kabar duka begini. Infonya meninggal 14.20 tadi. Makanya kami dari PT langsung ke sini," ujar salah seorang teman Dewi.
Bagi rekan-rekannya, Dewi bukan sekadar teman bekerja.
Ia adalah bagian dari hari-hari yang mereka jalani bersama di tanah rantau.
Ada rutinitas pekerjaan, kebersamaan di lingkungan tempat tinggal, hingga cerita-cerita kecil yang selama ini mengisi hari.
Kini, semua itu hanya tersisa sebagai kenangan.
Foto Dewi Sartika Sitinjak semasa hidup, Diketahui Dewi merupakan perantau asal samosir (Tribun Batam/istimewa)
Ruang tunggu ICU RSAB Botania hingga Senin sore masih dipenuhi kerabat, teman, dan rekan kerja Dewi.
Mereka menunggu dengan hati yang berat, hingga tiba waktunya mengantarkan Dewi menuju perjalanan terakhirnya.
Di tempat yang sama, dua pekan sebelumnya, mereka masih menyimpan harapan agar Dewi kembali membuka mata.
Namun sore itu, yang tersisa hanyalah pelukan, air mata, dan kenangan tentang seorang gadis 24 tahun yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka di Batam.
Permintaan Terakhir
Seporsi sup menjadi salah satu kenangan terakhir yang masih membekas bagi Ando Jaya Samosir, kekasih Dewi Sartika Sitinjak, sebelum perempuan yang dicintainya itu tak sadarkan diri setelah menjalani operasi.
Malam itu, Selasa (28/7/2026), Ando masih berada di sisi gadis 24 itu yang baru saja menjalani operasi ambeien di RS Awal Bros Botania.
Dewi sebelumnya masuk rumah sakit pada Senin (27/7) kemudian menjalani operasi pada Selasa sekitar pukul 19.00 WIB yang berlangsung lebih dari dua setengah jam.
Operasi selesai sekitar pukul 21.30 WIB dan, menurut Ando, kondisi Dewi saat itu masih terlihat baik.
Ia masih bisa merespons, berbincang, bahkan tidak mengeluhkan rasa sakit setelah menjalani tindakan medis tersebut.
"Setelah operasi saya tanya, enggak ada keluhan, masih respons. Katanya enggak ada sakit apa pun," tutur Ando saat ditemui.
Tak lama setelah operasi, seorang perawat disebut memberi tahu Dewi bahwa dirinya sudah diperbolehkan makan, dengan catatan makanan yang dikonsumsi tidak pedas.
Ando kemudian menanyakan makanan yang ingin disantap Dewi.
Perempuan itu memilih sup, sehingga Ando berinisiatif keluar membeli makanan tersebut untuk kekasihnya.
"Kalau lapar, boleh makan, asal jangan pedas-pedas. Aku tanya, dibilanglah 'sup aja'," ujar Ando, menirukan percakapannya dengan Dewi malam itu.
Saat kembali ke kamar, Ando mendapati Dewi sedang tertidur.
Ia kemudian membangunkan kekasihnya tersebut dan menyuapkan sup yang baru dibelinya.
Menurut Ando, gadis kelahiran Samosir itu menyantap sup itu dengan lahap.
Saat itu, ia mengaku belum melihat adanya tanda-tanda bahwa kondisi Dewi akan berubah drastis beberapa saat kemudian.
Sekitar pukul 23.30 WIB, seorang perawat datang ke ruang rawat inap dan memberikan suntikan melalui selang infus Dewi.
Ando mengatakan, setelah suntikan pertama diberikan, Dewi langsung mengeluhkan rasa sakit.
Bahkan, Dewi disebut sempat mencengkeram tangan Ando karena menahan rasa sakit tersebut.
"Suntikan itu dia yudah cengkeram tanganku karena sakitnya mungkin kan. Dia bilang ke perawat, 'Kok sakit ya, Kak.' Nah, perawatnya jawab ini efek obat aja," kata Ando.
Menurut Ando, setelah suntikan pertama, Dewi kembali mendapatkan suntikan berikutnya melalui jalur infus.
Ia menyebut saat itu mendapat penjelasan bahwa obat yang diberikan berkaitan dengan penanganan nyeri, radang serta untuk mencegah pendarahan.
Namun, tidak berselang lama, kondisi Dewi mulai berubah.
Pria 30 tahun itu mengatakan Dewi mengeluh ingin muntah, kemudian mengalami kejang sebelum akhirnya muntah.
Sekira pukul 23.45 WIB, Dewi disebut sudah tidak sadarkan diri.
Petugas medis kemudian melakukan tindakan pertolongan di ruang rawat inap.
Menurut Ando, salah satu tindakan yang dilakukan adalah pompa jantung secara manual dan alat yang berlangsung sekitar 55 menit.
"Setelah itu jam 1 tanggal 29 dipindahkan ke ICU sudah tidak sadar lalu diapsang alat medis. Sejak saat itu sampai dinyatakan meninggal sudah enggak ada lagi respon," ucapnya.
Sejak malam tersebut, Dewi menjalani perawatan intensif di ruang ICU RS Awal Bros Botania hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Senin (10/8/2026).
Kepergian Dewi meninggalkan duka bagi keluarga, kekasih, serta rekan-rekannya yang selama ini menemaninya menjalani kehidupan sebagai perantau di Batam.
Bagi Ando, malam 28 Juli itu akan selalu diingat sebagai waktu terakhir dirinya melihat Dewi masih bisa berbincang dan menyantap makanan dengan lahap.
Seporsi sup yang awalnya dibeli untuk mengisi perut Dewi setelah operasi, kini justru menjadi salah satu kenangan terakhir Ando bersama kekasihnya.
Sebelumnya, keluarga Dewi melalui kuasa hukumnya telah melaporkan dugaan malapraktik ke Polresta Barelang pada Sabtu (8/8/2026).
Laporan tersebut dibuat karena keluarga mempertanyakan penanganan medis yang diterima Dewi setelah menjalani operasi hingga mengalami kondisi kritis dan harus mendapat perawatan di ruang ICU.
Pihak RS Awal Bros Botania sebelumnya menyatakan telah mengetahui laporan tersebut dan akan membahasnya secara internal.
Penyebab pasti kondisi kritis hingga meninggalnya Dewi masih menunggu hasil pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut.
(Tribunbatam.id/Ucik Suwaibah)