Makna Sakit pada Hari Minggu Menurut Primbon Jawa
Joko Widiyarso August 11, 2026 08:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Tribunners, dari tujuh hari dalam sepekan, Minggu sering dianggap hari paling ditunggu.

Hari libur identik dengan istirahat, berkumpul bersama keluarga, hingga mengisi ulang tenaga sebelum kembali beraktivitas.

Namun, bagaimana jika justru di hari Minggu tubuh mulai terasa sakit?

Bagi masyarakat Jawa tempo dulu, momen itu bukan sekadar kebetulan.

Hari pertama seseorang jatuh sakit dipercaya menyimpan tafsir tertentu.

Menariknya, setiap hari dalam Primbon Jawa memiliki makna yang berbeda.

Senin dikaitkan dengan telinga.

Selasa dengan hidung.

Rabu dengan perut.

Kamis dengan tulang.

Jumat dengan mata.

Sabtu dengan tungkai.

Lalu, Minggu menjadi penutup rangkaian tafsir yang dipercaya memiliki makna tersendiri.

Dilansir dari kajian ilmiah Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa karya Bani Sudardi, masyarakat Jawa mengenal sistem pembacaan penyakit berdasarkan hari dan pasaran ketika seseorang mulai jatuh sakit.

Sistem tersebut lahir jauh sebelum ilmu kedokteran berkembang seperti sekarang.

Saat itu, masyarakat mengandalkan pengalaman, pengamatan, dan pengetahuan budaya untuk memahami berbagai penyakit.

Lantas, apa arti jika sakit pertama kali dirasakan pada hari Minggu?

Mengapa Hari Minggu Dianggap Berbeda?

Minggu sering dipandang sebagai hari penutup sekaligus awal.

Selesai beristirahat, orang mulai bersiap menghadapi pekan baru.

Karena itu, masyarakat Jawa tempo dulu juga memberi perhatian khusus pada hari ini.

Dalam Primbon Jawa, hari Minggu dikaitkan dengan tungkai atau kaki.

Tungkai menjadi simbol penopang tubuh sekaligus langkah kehidupan.

Jika kaki terasa lemah, aktivitas sehari-hari ikut terganggu.

Mulai dari berjalan, bekerja, hingga menjalankan rutinitas sederhana.

Bagi masyarakat Jawa, bagian tubuh yang dikaitkan dengan hari tertentu dipercaya dapat menjadi petunjuk awal untuk membaca kondisi seseorang.

Tentu, tafsir tersebut merupakan bagian dari pengetahuan tradisional.

Bukan diagnosis medis seperti yang digunakan saat ini.

Penyebab Sakit Hari Minggu Menurut Primbon

Tak hanya menghubungkan hari dengan bagian tubuh.

Primbon Jawa juga memberikan tafsir mengenai asal penyakit.

Dilansir dari kajian Bani Sudardi, sakit yang dimulai pada hari Minggu dikaitkan dengan gangguan makhluk halus atau setan menurut kepercayaan masyarakat Jawa.

Pandangan ini lahir dari cara masyarakat tempo dulu memahami kehidupan.

Manusia dipandang sebagai bagian dari alam semesta.

Karena itu, sakit tidak selalu dianggap berasal dari tubuh.

Lingkungan, batin, hingga unsur spiritual juga ikut diperhatikan.

Bagi masyarakat Jawa saat itu, menjaga keseimbangan hidup dianggap sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Mengapa Orang Jawa Menghubungkan Sakit dengan Alam?

Ilustrasi Hutan
Ilustrasi Hutan (Freepik)

Tribunners, bayangkan hidup ratusan tahun lalu.

Belum ada rumah sakit modern.

Belum ada hasil laboratorium.

Ketika seseorang jatuh sakit, keluarga tentu bertanya-tanya tentang penyebabnya.

Mereka lalu mengamati berbagai hal yang terjadi di sekitar.

Kapan sakit mulai muncul?

Bagian tubuh mana yang pertama terasa tidak nyaman?

Apa yang sedang dialami orang tersebut?

Pengamatan seperti itulah yang kemudian diwariskan menjadi pengetahuan.

Bani Sudardi menjelaskan bahwa masyarakat Jawa memiliki pandangan kosmologis terhadap penyakit.

Artinya, manusia dianggap menjadi bagian dari tatanan kehidupan yang lebih luas.

Karena itu, sakit dipahami bukan hanya sebagai gangguan tubuh.

Ada pula hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual yang ikut diperhatikan.

Minggu, Istirahat, dan Keseimbangan Diri

4 Arti Mimpi Yoga, Konon Ada Keseimbangan dan Harmoni
olahraga sebagai bentuk keseimbangan diri untuk menjaga pola hidup yang lebih baik (pixabay)

Menariknya, pesan ini terasa cukup dekat dengan kehidupan sekarang.

Bukankah banyak orang justru jatuh sakit setelah sibuk bekerja?

Selama hari kerja, tubuh terus dipaksa bergerak.

Pikiran juga dipenuhi berbagai tanggung jawab.

Saat Minggu tiba dan tubuh mulai rileks, keluhan justru bermunculan.

Pandangan tradisional Jawa melihat kondisi seperti itu sebagai pentingnya keseimbangan.

Dilansir dari kajian Masuk Angin dalam Konteks Kosmologi Jawa karya Atik Triratnawati, masyarakat Jawa memandang sehat sebagai keadaan ketika jasmani dan rohani berada dalam kondisi selaras.

Ketika emosi tidak terkendali, pikiran terlalu berat, atau tubuh terus dipaksa bekerja, keseimbangan tersebut dipercaya mulai terganggu.

Akibatnya, tubuh menjadi lebih mudah mengalami berbagai keluhan.

Meski penjelasannya berbeda dengan ilmu kesehatan modern, pesan yang bisa dipetik tetap relevan.

Tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Pikiran juga perlu ruang untuk tenang.

Pengobatan dalam Primbon Tidak Hanya Minum Jamu

Ilustrasi ramuan yang dibuat oleh masyarakat tempo dulu
Ilustrasi ramuan yang dibuat oleh masyarakat tempo dulu (Canva.com)

Cara penyembuhan masyarakat Jawa juga cukup beragam.

Dilansir dari kajian Bani Sudardi, Primbon mengenal pengobatan berupa jamu dan cekok yang diminum.

Ada pula boreh, parem, pilis, dan tapel yang digunakan sebagai obat luar.

Selain ramuan, masyarakat juga mengenal suwuk, yakni pengobatan yang disertai doa atau bacaan tertentu.

Dalam kondisi tertentu terdapat pula tebusan dan kenduri sebagai bagian dari tradisi.

Hal ini menunjukkan bahwa penyembuhan dipandang secara menyeluruh.

Tubuh dirawat dengan ramuan.

Batin dikuatkan melalui doa.

Sementara hubungan dengan lingkungan dijaga melalui berbagai ritual yang berkembang pada masanya.

Ilustrasi Ramalan Primbon Jawa
Ilustrasi Ramalan Primbon Jawa (Pinterest : Ifan Ismail)

Tribunners, dari Senin hingga Minggu, setiap hari dalam Primbon Jawa memiliki tafsir yang berbeda.

Namun, jika diperhatikan lebih dalam benang merahnya sebenarnya sama.

Masyarakat Jawa selalu mengajak manusia untuk lebih mengenali dirinya sendiri.

Hari sakit bukan sekadar penanda waktu.

Ia menjadi pengingat agar seseorang berhenti sejenak dan memperhatikan kondisi tubuh, pikiran, serta kehidupannya.

Itulah mengapa Minggu terasa istimewa.

Bukan karena harus ditakuti ketika sakit datang.

Melainkan karena hari ini mengingatkan bahwa setiap langkah baru selalu dimulai dari tubuh yang sehat dan jiwa yang tenang.

Semoga rangkaian tafsir sakit dari Senin hingga Minggu tidak hanya menambah wawasan Tribunners tentang Primbon Jawa,

Tetapi juga menjadi pengingat sederhana untuk lebih peduli pada kesehatan, memberi tubuh waktu beristirahat, dan menjalani hidup dengan lebih seimbang.

Kalau Tribunners mengikuti serial ini dari Senin sampai Minggu, hari mana yang paling menarik menurutmu?

Yuk, tulis pendapat atau cerita keluargamu di kolom komentar!

(MG Natasya Aulia)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.