Tawarkan Vibe Limasan Klasik, Ini Sisi Lain Baswara Koffie yang Jarang Diketahui
Joko Widiyarso August 11, 2026 08:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Deretan bangunan dengan arsitektur klasik limasan kini tidak hanya berfungsi sebagai hunian keluarga

Limasan kini mulai diadaptasi menjadi ruang-ruang komersial yang menjaring banyak anak muda.

Salah satunya adalah Baswara Koffie di Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Resmi buka pada 10 Juni 2024 lalu, kedai kopi ini bermula dari sebuah pekarangan rumah kosong yang disewa dan dirombak ulang.

Berada di lingkungan yang jauh dari bising lalu lintas utama, Baswara Koffie menawarkan pengalaman menikmati kopi yang tenang.

Namun, jika ditelisik lebih jauh ke area dalam dan belakang bangunannya, kedai ini menyimpan fungsi yang jauh lebih kompleks dari sekadar tempat nongkrong biasa.

Di bawah naungan Ndaru selaku pemilik, Baswara Koffie dirancang sejak awal dengan konsep yang spesifik.

Baswara tidak hadir untuk mendominasi area pekarangan tersebut sendirian.

Sebaliknya, bangunan klasik ini diubah menjadi sebuah titik kumpul kolektif yang menghidupi beberapa lini usaha dan komunitas secara bersamaan.

Ekosistem untuk Komunitas

10/8/2026 - Rak display barang
Pemanfaatan salah satu sudut komersial di area Baswara Koffie untuk berbagi lahan dengan unit usaha lain.

Sisi paling membedakan dari Baswara Koffie terletak pada pemanfaatan ruangnya.

Di area komersial yang sama, pengunjung tidak hanya akan mencium aroma biji kopi yang diekstraksi, tetapi juga bisa melihat aktivitas usaha lain yang berjalan beriringan.

Di salah satu sudut kedai, terdapat bengkel sepeda dan di sudut lainnya, terdapat jasa cuci sepatu.

Kedua unit usaha tersebut dijalankan oleh rekan-rekan Ndaru yang diajak untuk berbagi lahan.

Kolaborasi lintas disiplin ini juga diperluas hingga ke area kitchen di bagian belakang kedai, yang secara khusus diserahkan Ndaru untuk dikelola oleh rekannya secara mandiri.

Tak berhenti di situ, ke depannya Baswara Koffie juga akan menyediakan ruang bagi rekan Ndaru lainnya yang merupakan pengrajin gelas keramik.

Rencananya, area tersebut bakal disulap menjadi tempat display produk sekaligus workshop mini.

Lebih dari sekadar menampung unit usaha teman, Baswara Koffie memposisikan dirinya sebagai fasilitas komunal.

Kedai ini kerap memfasilitasi acara-acara komunitas, seperti bincang santai atau bedah buku.

Skema kerja samanya pun dibuat sangat menekan biaya operasional penyelenggara.

Seringkali, Ndaru tidak mematok tarif sewa tempat yang mahal.

Komunitas atau mahasiswa cukup mengadakan acara di lokasi dengan kesepakatan bahwa para peserta yang hadir membeli makanan atau minuman kedai.

Ndaru menegaskan bahwa tujuan utama pendirian tempat ini adalah untuk memfasilitasi produktivitas.

"Pengene yo untuk berkarya sih. Dari apapun ya. entah nanti dari mahasiswa sing pengen nggawe acara pameran... iso wae neng kene," jelas Ndaru.

Meski memiliki keunikan dalam manajemen ruang, Baswara tetap menghadapi realitas fisik.

Kendala yang paling sering dihadapi saat ini adalah keterbatasan tempat duduk.

Saat ada rombongan besar datang bersamaan atau di akhir pekan, kapasitas kursi di kedai ini kerap terisi penuh.

Kondisi tersebut memaksa pengelola untuk mengatur ulang penempatan kursi agar para pengunjung tetap mendapatkan akses ke stopkontak serta jaringan internet yang disediakan.

Bertahan dengan Kesederhanaan

10/8/2026 - Bar Baswara
Suasana meja bar Baswara Koffie yang tetap mempertahankan ornamen lawas di sekitarnya.

Bergeser dari tata ruang ke meja bar, operasional Baswara Koffie dijalankan dengan sistem yang sangat ramping.

Untuk menunjang kebutuhan pasar reguler maupun komunitas yang mengadakan acara, kedai ini menekan harga jual produknya agar tetap terjangkau.

Minuman yang dijual berkisar antara Rp10.000 hingga harga tertingginya Rp25.000.

Sementara itu, untuk produk pendamping seperti roti, harga dipatok mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000.

Dari deretan menu tersebut, Kopi Susu dan Americano menjadi produk yang paling sering dipesan oleh pengunjung.

Di balik ringkasnya sistem manajerial tersebut, seluruh urusan operasional harian ditangani langsung oleh para barista.

Di kedai ini, tidak ada pembagian tugas spesifik antara peracik minuman, pelayan meja atau petugas kebersihan.

Kelvin, selaku barista di Baswara Koffie, mengendalikan seluruh siklus pelayanan dari depan mesin espresso hingga minuman sampai ke tangan pelanggan.

Pola ini menuntut manajemen waktu yang ketat, terutama saat antrean pesanan menumpuk bersamaan dengan masuknya rombongan komunitas.

Waktu toleransi penyajian diusahakan tidak lebih dari 30 menit pada saat kondisi pesanan sangat padat.

Ketiadaan pelayan khusus membuat barista menjadi wajah utama dari Baswara Koffie.

"Jadi SOP-nya selain membuat kopi, kita juga harus jaga public area kebersihan, terus hospitality sih juga hospitality sih paling utama," ujar Kelvin.

Baswara Koffie membuktikan bahwa lahan pekarangan dan bangunan limasan lawas dapat dialihfungsikan secara maksimal.

Tidak sekadar menjadi tempat nongkrong, kedai ini berkembang menjadi ruang kolektif mandiri.

Di area ini, operasional kedai kopi, bengkel sepeda, hingga jasa cuci sepatu saling mendukung dan hidup di satu tempat yang sama.

(MG Fauzan Ardana)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.