Jatuhnya Dinasti Bashar al-Assad: Dari Dokter Mata, Presiden Suriah, hingga Vonis Mati
TRIBUNNEWS.COM - Nama Bashar al-Assad kembali menjadi sorotan setelah pengadilan Suriah menjatuhkan hukuman mati terhadap mantan presiden tersebut secara in absentia atau tanpa kehadirannya di persidangan.
Putusan pada Selasa (11/8/2026) menjadi babak baru dalam perjalanan politik tokoh yang selama hampir seperempat abad menjadi pusat kekuasaan Suriah.
Baca juga: Mantan Pemimpin Suriah Bashar al-Assad Dijatuhi Hukuman Mati oleh Pengadilan Damaskus
Assad dijatuhi hukuman mati atas dakwaan pembunuhan berencana, penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang, serta kejahatan terhadap kemanusiaan selama perang saudara Suriah.
Adiknya, Maher al-Assad, serta mantan pejabat keamanan Atef Najib juga dijatuhi hukuman mati.
Namun, vonis tersebut untuk saat ini lebih bersifat simbolis.
Assad tidak berada di Suriah dan diyakini masih tinggal di Rusia setelah melarikan diri dari negaranya pada akhir 2024.
Hukuman mati itu baru dapat dilaksanakan apabila ia berada dalam penguasaan otoritas Suriah.
Putusan tersebut sekaligus membuka kembali perjalanan hidup seorang tokoh yang pada awalnya tidak dipersiapkan untuk menjadi penguasa Suriah.
Bashar al-Assad lahir di Damaskus pada 1965 sebagai putra kedua Hafez al-Assad, penguasa Suriah yang memimpin negara tersebut selama hampir tiga dekade.
Berbeda dengan ayahnya, Bashar semula tidak diproyeksikan menjadi penerus kekuasaan.
Kakaknya, Bassel al-Assad, merupakan figur yang dipersiapkan untuk menggantikan Hafez.
Bashar justru menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Damaskus dan kemudian melanjutkan pelatihan sebagai dokter mata di London.
Jalur hidupnya berubah drastis pada Januari 1994 ketika Bassel meninggal dalam kecelakaan mobil.
Bashar kemudian dipanggil pulang ke Suriah. Ia menjalani pelatihan militer dan secara bertahap dipersiapkan untuk mengambil alih posisi yang sebelumnya disiapkan bagi sang kakak.
Ketika Hafez al-Assad meninggal pada Juni 2000, Bashar baru berusia 34 tahun. Konstitusi Suriah kemudian diubah untuk menurunkan batas usia minimum calon presiden sehingga Bashar dapat menduduki jabatan tersebut.
Sebulan kemudian, ia resmi menjadi presiden.
Kemunculan Bashar sempat membawa harapan baru.
Sebagai pemimpin muda yang pernah tinggal di Barat dan memiliki latar belakang kedokteran, ia dipandang sebagian kalangan sebagai sosok yang berpotensi membawa perubahan politik dan ekonomi.
Periode awal pemerintahannya bahkan dikenal sebagai "Damascus Spring", ketika ruang diskusi politik dan tuntutan reformasi sempat terlihat lebih terbuka.
Namun, periode tersebut tidak berlangsung lama.
Pemerintah kembali melakukan pembatasan terhadap oposisi dan kelompok yang mengkritik kekuasaan.
Ketegangan kemudian mencapai titik kritis ketika gelombang demonstrasi Arab Spring menyebar ke Suriah pada 2011.
Demonstrasi yang awalnya menuntut reformasi politik berubah menjadi konflik bersenjata yang melibatkan banyak kelompok.
Pemerintah Assad berhadapan dengan berbagai kelompok oposisi, kelompok Islamis, hingga organisasi militan.
Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi perang yang melibatkan kekuatan asing, termasuk Rusia, Iran dan Amerika Serikat dengan kepentingan serta dukungan yang berbeda.
Pemerintahan Assad dituduh melakukan berbagai pelanggaran berat terhadap warga sipil.
Sejumlah investigasi internasional mendokumentasikan tuduhan pembunuhan, penyiksaan, penghilangan paksa, pengepungan wilayah serta serangan terhadap kawasan sipil.
Pemerintah Assad juga dituduh menggunakan senjata kimia dalam sejumlah insiden.
Damaskus berulang kali membantah berbagai tuduhan tersebut.
Perang yang berlangsung hampir 14 tahun itu menewaskan ratusan ribu orang dan menyebabkan jutaan warga Suriah meninggalkan rumah mereka.
Infrastruktur, fasilitas kesehatan, sekolah dan perekonomian negara juga mengalami kehancuran besar.
Meski menghadapi tekanan militer dan politik yang besar, Assad berhasil mempertahankan kekuasaannya selama bertahun-tahun.
Dukungan Rusia dan Iran menjadi salah satu faktor penting yang membantu pemerintahannya merebut kembali sejumlah wilayah dari kelompok oposisi.
Pada akhir dekade 2010-an, Assad bahkan terlihat berhasil melewati fase paling kritis perang.
Pemerintahnya kembali menguasai sebagian besar wilayah penting Suriah.
Namun, kemenangan tersebut tidak berarti persoalan Suriah selesai.
Negara itu tetap menghadapi krisis ekonomi, kerusakan infrastruktur, persoalan kemanusiaan dan ketegangan politik.
Pada akhir 2024, situasi berubah secara dramatis.
Serangan besar kelompok pemberontak yang dipimpin Ahmed al-Sharaa, yang saat itu merupakan pemimpin Hay'at Tahrir al-Sham (HTS), bergerak cepat dan berhasil merebut sejumlah kota penting.
Damaskus akhirnya jatuh ke tangan pemberontak.
Runtuhnya pemerintahan tersebut sekaligus mengakhiri kekuasaan keluarga Assad yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Bashar al-Assad meninggalkan Suriah dan kemudian memperoleh perlindungan di Rusia.
Dengan demikian, kekuasaan Bashar yang dimulai pada 2000 berakhir setelah 24 tahun.
Setelah pemerintahan Assad tumbang, otoritas baru Suriah mulai mengejar pejabat dan tokoh yang dianggap bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran selama era sebelumnya.
Proses hukum juga berlangsung di sejumlah negara Eropa.
Pada Juni 2026, misalnya, pengadilan Belanda menjatuhkan hukuman 26 tahun penjara kepada seorang mantan interogator rezim Assad atas sejumlah kejahatan internasional, termasuk penyiksaan dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan pada 2013 dan 2014.
Vonis terhadap Assad pada Agustus 2026 menjadi langkah paling dramatis sejauh ini dalam upaya pertanggungjawaban hukum terhadap mantan penguasa Suriah tersebut.
Tetapi karena Assad berada di luar negeri, pelaksanaan hukuman masih bergantung pada apakah Rusia atau negara lain bersedia menyerahkannya kepada otoritas Suriah.
Perjalanan Bashar al-Assad memperlihatkan perubahan drastis dalam citra dan posisinya.
Ia memulai karier sebagai dokter mata yang tidak dipersiapkan untuk menjadi presiden.
Kematian sang kakak mengubah jalur hidupnya dan membawanya ke pusat kekuasaan Suriah.
Ia kemudian tampil sebagai pemimpin muda yang sempat membawa harapan reformasi, tetapi akhirnya memimpin negara dalam salah satu konflik paling berdarah di Timur Tengah pada abad ke-21.
Kini, setelah kehilangan kekuasaan dan hidup dalam pengasingan, namanya kembali muncul di ruang pengadilan.
Vonis mati terhadap Assad tidak serta-merta mengakhiri seluruh persoalan yang ditinggalkan pemerintahannya.
Bagi Suriah, warisan 24 tahun kekuasaan Assad masih berkaitan erat dengan perang, pengungsian, kehancuran infrastruktur, serta pertanyaan besar mengenai pertanggungjawaban atas pelanggaran yang terjadi selama konflik.
(oln/wn/*)