TRIBUNJOGJA.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta mengimbau masyarakat, nelayan, serta pelaku wisata pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan.
Pasalnya, gelombang tinggi diprakirakan masih berpotensi menerjang wilayah perairan selatan DI Yogyakarta setidaknya hingga awal September 2026 mendatang.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Rahma Fauzia, menjelaskan bahwa fenomena gelombang tinggi dipicu oleh menguatnya pola angin timuran di wilayah perairan selatan Jawa.
Lonjakan ketinggian gelombang terjadi akibat adanya peningkatan kecepatan angin atmosfer di atas Pulau Jawa yang mencapai 15 hingga 35 knot, serta percepatan arus permukaan di perairan selatan DIY.
"Berdasarkan pembaruan model analisis terkini, untuk beberapa hari ke depan hingga 15 Agustus 2026, tinggi gelombang di sekitar Perairan Yogyakarta memang masuk kategori tinggi, yaitu berkisar antara 2,5 hingga 4 meter," katanya, Selasa (11/8/26).
Menanggapi informasi yang beredar di tengah masyarakat terkait potensi gelombang tinggi yang disebut-sebentar bisa mencapai 6 meter, Rahma memberikan klarifikasi.
Ia menyampaikan, berdasarkan prakiraan gelombang signifikan yang umum terjadi, batas maksimum berada di angka 4 meter, meski kondisi riil di lapangan dapat bersifat fluktuatif.
"Berdasarkan prakiraan gelombang signifikan yang umum terjadi adalah maksimal 4 meter. Namun untuk keadaan riilnya di lapangan, sesekali memang bisa lebih dari itu. Penentuan ketinggian sering kali juga bergantung pada pengamatan langsung di lapangan," jelasnya.
Fenomena angin timuran pun diprediksi masih akan terus bertahan dan memengaruhi kondisi cuaca perairan selatan DIY setidaknya hingga awal bulan mendatang.
Melihat potensi bahaya yang ditimbulkan bagi aktivitas kelautan dan wisata air, BMKG meminta seluruh pihak di kawasan pesisir untuk mematuhi arahan keselamatan kerja dan mitigasi bencana dari otoritas setempat.
"Kondisi ini bersifat fluktuatif, namun pola angin timuran diprakirakan bertahan hingga awal September. Jika ada pembaruan data kembali, tentu akan segera kami infokan," tandasnya.
"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan dinamika tinggi gelombang di sekitar area pantai. Pastikan selalu memantau update informasi dari BMKG serta memperhatikan instruksi dari otoritas keselamatan," urai Rahma.
Masyarakat dipersilakan mengakses informasi cuaca dan peringatan dini gelombang tinggi melalui kanal resmi media sosial Instagram/Facebook @infobmkgyia atau WhatsApp resmi INFO CUACA BMKG YOGYAKARTA.
Selain ancaman gelombang tinggi di pesisir selatan, BMKG Yogyakarta juga menerbitkan peringatan dini terkait potensi bencana kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah kabupaten di DIY.
Hal ini menyusul ditemukannya beberapa kawasan yang mengalami fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi cukup panjang selama musim kemarau ini.
Wilayah dengan HTH terpanjang tercatat di Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul yang tidak mengguyur hujan selama 90 hari berturut-turut.
Disusul Kapanewon Rongkop di Kabupaten Gunungkidul sepanjang 74 hari, serta Kapanewon Temon di Kabupaten Kulon Progo selama 68 hari.
Atas kondisi tersebut, BMKG Yogyakarta pun telah menetapkan status Peringatan Dini Kekeringan Kategori Awas sejak dasarian kedua Agustus 2026.
"BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi dampak kemarau ini melalui efisiensi pengelolaan sumber daya air serta penyesuaian pola tanam sektor pertanian di wilayah terdampak," pungkasnya. (aka)